Aktivis Jaket Merah Bergerak di Bengkulu

Tampak mahasiswa IMM Bengkulu mengusung keranda bertanda kematian demokrasi di negeri ini.

Bengkulu, SM – Aktivis jaket merah mulai melancarkan aksinya di Simpang Lima Ratu Samban Bengkulu Kota, Jumat (24/5). Ini tentunya memceahkan kesunyian dan ketenangan Bengkulu, pasca hirukpikuk dan carutmarut di Ibukota Jakarta.

Demonstrasi yang dilakukan Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) Provinsi Bengkulu, yang digelar mulai pukul 1.30 WIB  hingga pukul 5.09 WIB berlangsung beradap dan damai. Selembar sepanduk yang dibentangkan,  menarik perhatian masyarakat yang bertuliskan, “Duka Cita Pesta Demokrasi”. Ini dimaksudkan kata Abdurahman Wahid, melihat kondisi demokrasi Negara Indonesia yang saat ini dirasakan sangat pilu, miris untuk sebuah negara yang katanya menjunjung demokrasi dan kejujuran yang berkemajuan.

Aksi yang dilakukan ditengah terik panasnya Kota Bengkulu itu, dalam kawalan aparat kepolisian. Tampak kendaraan Watercannon stanby mengiringi para puluhan aktifis IMM itu melakukan aksi demo.

Dalam satu itemnya, para aktifis menyampaikan protes pada pemerintah,  yang merka rasakan melakukan pembungkaman demokrasi. Terutama pasca Pemilu serentak 2019 yang baru saja usai. Aktifis IMM Provinsi Bengkulu meminta,  pemerintah bertanggungjawab, termasuk  dengan kematian para petugas Pemilu. Termasuk isu kecurangan Pemilu dan praktek pemangkasan hak bersuara dan berpendapat dalam negara yang katanya menjujung demokrasi sebagai hak warga negara.

“Demokrasi kita sedang dibungkam. Negara sedang menunjukan kuasanya. Rakyat hidup dalam belengu pasal karet yang ujung-ujungnya rakyat ditangkapi, dijebloskan ke penjara. Ini tidak adil. Kita harus lawan”,  teriak Kelvin Aldo salah satu aktivis berorasi.

Kami menuntut enam poin, sebagai tuntutan IMM Provinsi Bengkulu. Pertama, selesaikan pemliu secara konstitusional, damai, adil dan beradab. Kedua, stop pembungkaman demokrasi penyalahgunaan kekuasaan. Ketiga, lakukan otopsi terhadap petugas Pemilu yang gugur dalam tugas dan segera bentuk Tim Pencari Fakta, atas Isu kecurangan pemilu 2019, yang beredar luas di tengah masyarakat.

Keempat, meminta penyelengara pemilu, TNI-POLRI, Pers dan seluruh instansi negara,  untuk menjaga profesionalitas dan netralitas dalam mengawali proses Pemilu hingga tuntas. Kelima, IMM memandang Indonesia sebagai darul ahdi wa syahada. Keenam, menghimbau dan mengajak masyarakat Bengkulu, untuk tidak terprovokasi denga situasi politik kebangsaan yang sedang memanas. Ini diteriakan Ketua Umum PC IMM Kota Bengkulu, Jaka Dernata

Maraknya isu kecurangan yang beredar tegas Jaka,  tentunya melukai hati Bangsa Indonesia. Ini dimulai dengan banyaknya surat suara tercoblos, ketidaktuntasan Bawaslu mengusut siapa dalang intelektual dibalik kejadian tersebut. Pihak penegak hukum seolah diam dengan kecurangan. Media seolah bungkam menimbulkan pertanyaan tersendiri.

“Sudah seharusnya Pemilu yang hanya soal pergantian kedudukan, dan kita sudah pengalaman  menyelenggarakannya beberapa kali ini, tapi sekarang ini demikian panas, tegang, sulit saling mengalah dan dugaan kecurangan dimana-mana. Ini bukan akhir dari aksi kami sebagai mahasiswa cinta negeri dan demokrasi. Kami akan terus melakukan aksi bahkan besar-besar, bila demokrasi dan ketidakadilan  masih terus berlangsung dan terkesan dibiarkan”, tegas Jaka Dernata usai membubarkan diri dengan tertib. (ck)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.