Apa Pentingnya Pertunjukan Video Mapping “The Story of Marlborough”.

Fort Marlborough do Bengkulu 1926, dari Monumen Bank Orange Tapak Paderi. Foto Diana Dien.

“Semakin jauh kita meihat kebelakang, maka semakin jauh kita melihat kedepan”.

Bengkulu, SM – Petunjukan Video Mapping  “The Story of Marlborough” di Benteng Marlborough  bungkan para pengunjung. Setidaknya ada 15 undangan yang hadir tak mengerti tayangan yang di tampilkan pihak Pemerintah Provinsi Bengkulu,  bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan RI itu, Sabtu malam (28/09/2009) sekira pukul 19.30 WIB.

Video Mapping  “The Story of Marlborough” katanya merupakan interprestasi dan refleksi dari sejarah Benteng Marlborough yang ditampilkan dalam bahasa visual. Saat pengunjung dari bebagai kalangan,mulai dari mahasiswa hingga  keluarga, umumnya mereka mengatakan, “Kami tidak mengerti”.

Direktur Pelestarian cagar budaya dan Permusiuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan RI, DR Drs Firta Arda usai acara sempat menjelaskan, event ini diharapkan untuk kemajuan kebudayaan dan  kesejahteraan masyarakat. Situs cagar budaya benteng ini harapkan benar-benar dirasakan hadir di tengah masyarakat. Pada event ini juga diharapkan ada ruang bagi budayawan dalam berekspresi.    “Kedepan, budaya akan menjadi platfrom kita dalam pembangunan.

Saat pertunjukan video mapping.

Kita menyiapkan manusia Indoensia yang berbudaya. Saya setuju seperti apa yang dikatakan filosof barat, semakin jauh kita meihat kebelakang, maka semakin jauh kita melihat kedepan. Orang bengkulu seharusnya bangga mempunyai benteng sebagai bukti sejarah masa lalu”, kata Direktur  Firta.

Menjawab pertanyaan, apakah ada rencana untuk mengecat ulang  Benteng Marlborough yang kini kusam itu? Kepurbakalaan itu harus sesuai dengan aslinya, sepanjang kita punya data aslinya. Tentunya berdasarkan kajian sesuai data. Bila tidak itu bertentangan dengan undang-undang.

Soal kemungkinan ada pemugaran, mengingat Benteng Marlborough sempat rusak di tembak saat Prancis masuk Bengkulu dan termasuk Jepang tiba,  maka bila kita memiliki  data fase awal, bisa dikembalikan untuk dipugar sesuai  fase awal. Yang kita petahankan itu sebenarnya nilai dibalik itu. “Fisik itu sebenarnya perwakilan dari nilai”, jelas DR Fikra sembari melimpahkan bahwa hal itu kewenangan Balai Peninggalan Cagar Budaya  Jambi. (ck)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.