Benang Kusut Perekonomian Petani Kecil Bengkulu

Oleh: Abdurrahman Wachid. Penulis aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bengkulu

aktivitas petani karet di trans Batu Raja R Bengkulu Utara. Koleksi pribadi

Kaum  petani Kecil di Provinsi Bengkulu selalu ‘terdampak buruk’ dari himpitan perekonomian. Kini kian dirasakan masyarakat kaum petani kecil.

Ini tentunya bisa di lihat dari sudut pandang manapun. Analoginya, kaum petani selalu menjadi ‘anjing pemburu’ yang hanya mendapat darah dan isi perut hasil tangkapan buruannya saja.

Persaingan kaum elit politik yang ditunggangi pemilik modal, yang memainkan harga hasil petani sekehendaknya saja,  tanpa memikirkan nasib masa depan anak cucu kaum petani. Petani tidak terlalu membutuhkan subsidi kebutuhan pokok, apabila harga hasil taninya stabil dan meningkat.

Petani tidak pernah mengetahui pasar global. Memainkan peran di pasar global adalah tugas dan fungsi pemerintah, yang telah di beri amanah oleh masyarakat. Idealnya, seharusnya menjadi pemimpin sudah mengetahui konsep kepemimpinan yakni, “jika rakyat belum makan, maka pemipin tidak akan pernah makan”. Namun yang terjadi? Malah menjadi strategi politik saat ini, menjadi pemimpin adalah ajang untuk memperkaya diri, dengan cara menjual keringat rakyat kepada kaum pemilik modal.

Maka pemilik modal dengan mudah memainkan harga hasil tani, yang cenderung ‘menyengsaran’ rakyat kecil. Pemerintah tidak bisa berbuat apapun. Masyarakat sebenarnya merasa kecewa dengan keadaan yang kian menyengsarakan.

Masyarakat kerap kali terbius dengan program-program pemerintah, seakan-akan ingin membantu rakyat. Diantaranya program dana bantuan operasional siswa (BOS), Askes/BPJS/KIS dan sebagainya.

Pada dasarnya itu adalah ‘pembodohan’ rakyat. Rakyat terlalu termanjakan dengan bantuan-bantuan dari pemerintah, yang mereka tidak tahu darimana asal bantuan yang mereka peroleh.  Jika rakyat mengetahui bantuan itu adalah hasil hutang negara yang semakin lama semakin membengkak, yang di Tahun 2020 hutang negara hampir mencapai Rp4.5 ribu triliun.

Coba kita tarik sejarah Gubernur Provinsi Bengkulu

  1. M. Ali Amin, SH., (1968-1974) menyusun struktur organisasi dan Tatakerja Sekretariat Pemerintah Provinsi Bengkulu, struktur organisasi dan tata kerja dan dinas–dinas Pemerintah Provinsi Bengkulu. Beliau pula yang memulai menelusuri semua jalan negara dan jalan provinsi  Kesemua pelosok Provinsi Bengkulu. Secara tidak langsung berdampak positif terhadap perekonomian kaum petani.
  2. Drs. Abdul Chalik (1974-1979) ditugaskan sebagai Gubernur Bengkulu menggantikan Ali Amin. Program-programnya antara lain membuka isolasi Bengkulu. Meningkatkan pendapatan per kapita rakyat. Pada masa pemerintahannya, pembangunan infrastruktur digalakkan. Transportasi darat berupa jalan dan jembatan diperbaiki dan di sempurnakan. Bandar Udara Padang Kemiling (Sekarang menjadi Bandar Udara Fatmawati Soekarno) diresmikan.

Inisiatif pembangunan Pelabuhan Pulau Baai juga datang dari Abdul Chalik, walaupun kemudian diresmikan pada masa pemerintahan Gubernur Suprapto. Melalui hal tersebut perekonomian rakyat khusunya petani menjadi baik.

  1. Gubernur Soeprapto (1979-1989) Membangun jalan lingkar Kota Bengkulu, Membangun Komplex Kantor Gubernur Bengkulu di Padang harapan. Membangun Komplex perumahan Pegawai Kantor gubernur anggut bawah, Nusa Indah, Padang Harapan dan Timur Indah. Membangun Masjid Agung AT Taqwa dibekas Rumah Sakit Kota Bengkulu. Membangun Universitas Bengkulu. Membangun pelabuhan Pulau Baai. Meningkatkan pelabuhan udara Padang kemiling yang semula bisa didarati pesawat bermuatan 40 orang menjadi bisa di darati pesawat foker bermuatan 80 orang, Membangun Stadion Semarak Bengkulu Gedung Pemuda dan Olah Raga. Meninggikan Jalan Tanjung Agung Semarang Bengkulu, ketika belum ditinggikan jalan itu sering banjir, akibatnya Bengkulu terhambat mendapat suply BBM dari Lubuk Linggau.

Mengaspal hotmik semua jalan menuju ibu kota kecamatan. Bekerjasama dengan yayasan amal bakti Muslim pancasila untuk membangun puluhan masjid di Provinsi Bengkulu. Membangun gedung pertemuan Balai Buntar. Membangun tiga bendungan besar di Seluma, Lais, Manjuto sekaligus mendatangkan trans jawa ke sumatera Memperluas wilayah Kotamadya Bengkulu dengan  memindahkan wilayah Pekan Sabtu dan Dusun Kandang dari Marga proatin 12 kecamatan Talang  Empat Bengkulu Utara serta Desa Betungan, Padang Serai serta Pulau Baai, Teluk Sepang dipindahkan dari marga Andalas Kecamatan Air Periukan menjadi Wilayah Kota Bengkulu. Membangun Balai Adat Bengkulu disamping rumah kediaman Gubernur. Membangun gedung DPRD Provinsi bengkulu dengan demikian rakyat dan para petani dapat lebih mudah menjual hasil pertanian.

  1. Drs. Razie Yahya (1989-1994) membangun gedung Korpri Bengkulu. Membangun Tugu Perjuangan Rakyat Bengkulu dalam mempertahankan kemerdekaan yang terletak di Simpang empat Pagar Dewa menuju Pulau Baai. Memulai merintis jalan tembus dari Bintuhan keperbatasan Lampung Sungai Manula.

Kerjasama dengan Kabupaten Pesisir selatan Provinsi Sumatera Barat menetapkan batas wilayah Kabupaten Mukomuko dengan kabupaten  pesisir selatan. Sesuai dengan Citra Satelite.

  1. Drs. Adjis Ahmad (1994-1999) Merehabilitasi Masjid Raya Baitul izzah, menertibkan yayasan semarak Bengkulu, meninjau asrama mahasiswa Provinsi Bengkulu yang berada di Jogja dan Bandung, membangun kantor perwakilan Provinsi Bengkulu di Jakarta Kepu Timur.
  2. Hasan Zen, SH. (1999-2004) karya beliau tidk terlalu kelihatan, beliau kembali menata Aparatur yang ada.
  3. Agusrin Maryono Najamudin, S.T (2005-2012) ; Membangun jalan dari Pasir Putih ke Pasar Bengkulu, membangun penahan gelombang disepanjang Pantai Panjang, Pantai Linau dan Pasar Bawah yang sampai sekarang masih ada. Menata ulang lahan perkarangan bekas tahanan Soekarno dengan membangun hotel untuk tamu Negara yang datang ke Provinsi Bengkulu di Anggut Atas.

Balai pertemuan Persada Bung Karno.  Membangun hotel yang sampai sekarang belum berfungsi di Tapak Paderi, Membangun Tugu View Tower didepan Balai Raya Semarak Bengkulu yang tidak bisa difungsikan sampai sekarang karena liftnya hanya berumur seminggu. Memulai rencana pembangunan rel kereta api dari kota Padang, Lubuk Linggau, untuk mengangkut batu bara dari tanjung enim untuk diekspor melalui pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. Membagikan 1000 unit handtractor pada petani. Membangun trowongan dari istana gubernur menuju Benteng Marlborough untuk wisatawan sayangnya belum berfungsi dan mubazir. Membangun jembatan Muara Dua diujung Pantai Panjang menuju Pulau Baai, sayangnya baru dibangun satu buah ting yang belum jadi

  1. H. Junaidi Hamsayah (2012-2015) Karena melanjutkan pemerintahan Agusrin, maka belum ada pembangunan yang menonjol yang sempat dilakukan oleh beliau.
  2. Dr. Drs. H. Ridwan Mukti, MH. (2016-2017) masa jabatan 1 tahun namun langsung tersandung kasus korupsi.
  3. Dr. drh. H. Rohidin Mersyah, M.M.A (2017-2021) Membangun taman di Pasir Putih . Renovasi Masjid Baitul Izzah, Renovasi Taman Budaya, Renovasi Balai Raya Semarak, renovasi Stadion Semarak Bengkulu dan Gedung pemuda olahraga, merehab Gedung Balai Buntar,  merenovasi  lapangan tugu di depan Istana Gubernur.

Dari sekian banyak gubernur hampir semua hanya menunggu program-program dari kementerian yang telah terkontaminasi dengan kepentingan kaum pemilik modal sehingga semakin besar hutang negara hingga 2020 saat ini. Jika hal ini terus di lakukan (hutang untuk berfoya-foya) Provinsi Bengkulu tak akan pernah lepas dari perasaan keterpurukan perekonomian yang di alami oleh kaum petani.

Timbul pertanyaan, apa benar Provinsi Bengkulu miskin?  Apakah Provinsi Bengkulu tidak seksi?  Apakah SDM Bengkulu kurang?

 

Beberapa sumber  di kutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Gubernur_Bengkulu

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.