Bengkulu Dalam Bahasa dan Perbandingan (1-2)

Catatan Hakim Benardie

Bahasa Bengkulu adalah kesatuan bahasa yang ada di Provinsi Bengkulu, oleh karena itu, tidak satupun suku yang berhak mengatakan, bahwa bahasanya adalah bahasa Bengkulu yang paling benar.

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi antara makhluk satu dengan lainnya. Bahasa akan selalu berkembang tergantung pada trendy bahasa yang digunakan–Bahasa mayoritas yang digunakan atau populer, dapat dikarenakan pengaruh oleh banyak penguasa atau dapat pula dikarenakan pengaruh bahasa komunikasi perdagangan yang banyak menggunakan transaksi dalam bahasa tersebut.

Untuk itu perlu ditentukan terlebih dahulu, apa yang kita maksudkan dengan kata “Malayu” tersebut. Sebagai gambaran umum, rumpunan bahasa yang terdapat dan digunakan di Provinsi Bengkulu antara lain sebagai berikut :

  1. Bahasa Ra-Hyang atau Re-Hyang (Rejang).
  2. Bahasa Enggano (Pulau Perempuan).
  3. Bahasa Lampung.
  4. Bahasa Malayu Ippoh (Muko-muko, Lubuk Pinang, Bantal, Lima Koto, Ketahun, Pasar Bengkulu, dsb).
  5. Bahasa Malayu Lembak (Tanjung Agung, Dusun Besar, Pada Dewa, dsb).
  6. Bahasa Malayu Kotamadya Bengkulu.
  7. Bahasa Malayu Serawai dan Pasemah (Pha-semah) yang penyebarannya meliputi Manna, Tais, Kepalak Bengkerung, Tanjung Sakti, Padang Guci, Kedurang, Kaur, dsb.
  8. Bahasa Malayu Bintuhan.

Tiga komunitas bahasa, yaitu Rejang, Enggano dan Lampung tidaklah termasuk dalam kelompok rumpunan Bahasa Malayu yang dikemukakan sebelumnya. Tiga etnik ini memiliki kelompok rumpunan bahasa tersendiri, dan etnik inilah yang merupakan penduduk asli negeri Bengkulu. Sedangkan bahasa Malayu datang dan berkembang sebagai bahasa ibu dikemudian. Karena itu, sangat tidak bijak kalau etnik Rejang, Enggano dan Lampung, seakan tersingkir dari catatan sejarah Bengkulu, sementara Malayu yang merupakan etnik dan bahasa pendatang baru, tampil sebagai primadona etnik.

Ada petata petitih lama (Asli Bengkulu) yang ditulis dalam naskah kuno huruf Arab, bahasa Bengkulu pada tahun 1553 M, nama penulisnya tidak disebutkan/ditemukan atau rusak, hilang. Karena sewaktu ditemukan naskah tersebut ini telah lusuh, lapuk dan sebagian telah rusak ditelan usia. Hanya tahun penulisan yang masih nampak. Naskah ini ditemukan di Provinsi Banten Tahun 1994, berbunyi dalam alih bahasa lebih kurang sebagai berikut :

Endak Möran pa-ï Lopak,

Hendak tidü pa-ï kebiduk,

Dihulu tempek apak (bapak),

Dimuarë tempek induk,

Disitu melepekan niat.

(Naskah kuno ini nampaknya merupakan himpunan nyanyian anak laut).

Kata-kata yang terkandung didalamnya memiliki filosofis yang tinggi bermakna: Kalau hendak mencari kehidupan yang lebih baik pergilah kekota. Kalau hendak istirahat, bersantai dan menenangkan pikiran kembalilah berkumpul di tanah kelahiran, dan sedekahkanlah sebagian harta yang kamu peroleh di negeri orang, pada negeri ibu tercinta Bengkulu.

Ada empat kata-kata Bengkulu yang kita peroleh dari petata petitih ini, yaitu kata Möran, pa-ï, Lopak, dan tidü sedangkan kata lainnya sepeti kata biduk, hulu, muarë (o) diambil dari bahasa Malayu. Mungkin masih lebih banyak lagi kata-kata Bengkulu, yang penulis sendiri belum ketahui.

Berdasarkan penelitian etnolinguistik penulis dalam perbandingan bahasa asli Kotamadya Bengkulu: Bahasa Malayu Bengkulu memiliki keunikan tersendiri. Banyaknya penggunaan kata-kata yang berakhiran ö, ë, ï, bukan disebabkan oleh pengaruh bahasa Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dan tidak pula karena dipengaruhi bahasa Eropa, Inggris dan Belanda. Tetapi, hal ini dipengaruhi bahasa Palung, Khmer, Campa dan Khasi rumpunan bahasa Mon (Hyunan Cina) Robert von Heine Geldern, seorang sarjana ilmu purbakala berkebangsaan Austria yang mengadakan penelitian tentang “Tanah Asal Bangsa Austronesier” mengatakan, bahwa nenek moyang bangsa Austronesier selama-lamanya tinggal di daratan Asia Tenggara. Mereka ini mula-mula berasal dari daratan Cina kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi (sM). Kebudayaan beliung batu telah dikembangkan di Cina kira-kira pada 2000 tahun sebelum Masehi. Bangsa yang memiliki kebudayaan ini bergerak ke Asia Tenggara sebelum bangsa Aria menduduki Punjabi di India Utara, dan beliung batu persegi panjang ini banyak kita temukan di Hyunan dan Kansu.

John Crawfurd pada tahun 1848 dalam bukunya “On the Malayan and Polynesian Languages and Races”, meneliti kata-kata yang termuat dalam berbagai kamus mengenai bahasa-bahasa di Austronesia. Dia mencoba membandingkan antara satu dengan yang lainnya. Menurut J.Crawfurd dari 8.000 kata Malagasi terdapat 140 kata yang dapat dipulangkan pada kata Jawa dan Malayu.

Demikian juga dari 4.560 kata Selandia Baru terdapat 103 kata yang serupa dengan kata Jawa dan Malayu, dan dari 3.000 kata Marquesas terdapat 70 kata yang sama dengan kata Jawa dan Malayu. Sementara dari 9.000 kata Tagalog hanya terdapat 300 kata yang dapat dipulangkan kedalam kata Jawa dan Malayu. Sehingga J.Crawfurd mengambil suatu kesimpulan bahwa bahasa-bahasa itu tidak menunjukkan banyak kesamaan, oleh karena itu, tidak masuk dalam satu rumpun bahasa.

Koentjaraningrat memberikan komentar dalam bukunya Beberapa Metode Antropologi; Toh Crawfurd tak dapat disalahkan katanya, karena dalam waktu itu beliau tak dapat tahu bahwa persamaan kata-kata yang termasuk basic vocabulary dalam dua bahasa, cukup untuk membuktikan kekeluargaannya. Dari lima bahasa masing-masing yakni bahasa Madura, Lampung, Bali, Bugis, Kayan, dan Kisa J Crawfurd masing-masing mengambil 1.000 kata.

Dari 1.000 kata Madura kedapatan 675 kata Melayu, yang 325 asalnya dari bahasa lain: 1.000 kata Lampung kedapatan 455 kata Melayu, 545 dari bahasa lain: dari 1.000 kata Bali kedapatan 470 kata Melayu, yang 530 dari bahasa lain, dari 1.000 kata Bugis kedapatan 326 kata Melayu, yang 674 dari bahas lain: dari 1.000 kata Kisa kedapatan 114 kata Melayu, yang 944 dari bahasa lain. Dari penyelidikan kata ini yang cocok dengan bahasa Melayu kira-kira 60 persen saja.

Perbandingan Bahasa.

Sebagai perbandingan untuk melengkapi perbendaharaan bahasa dalam perbandingan bahasa di Bengkulu, penulis mencoba menggunakan berbagai sumber dan perbendaharaan bahasa antara lain sebagai berikut :

Bahasa ini oleh Dr Hamy disebut dengan Malayu kontinental sebagai contoh adalah kata Apoi, Api, Ayar, Air, Ulun, Aku . Dalam hal ini penulis (Hakim Benardie Sabrie) tidak menyebut dengan kata bahasa Malayu kontinental, tetapi menggunakan Pha-mnala-yë atau Pha-mnalä-yu, karena bahasa ini meliputi bahasa Asia, Asia Tenggara, Nusantara dan Malayu kontinental itu sendiri.

Dalam kata Bahnar yang juga serumpun dengan bahasa Campa dan Khmer terdapat kata-kata Bia, Buaya, Hmoit, Semut dan Kit, Katak, Hyang, Dewa. Kata Khmer Bong, Abang, Meas, Mas, Ne, ini, Nan, Sana, Nu, Nun. Namun dalam kata Khmer tidak terdapat kata tanya “Mana”. Kata ini kemungkinan diambil dari kata ‘mo’ kata tanya bahasa Palung, dalam bahasa ini kata tanya untuk tempat berbunyi ‘ha-mo’. Kata ini dapat pula dibandingkan dengan bahasa Krui (Kroi) yang dulu pernah juga menjadi bahasa ibu di Kotamadya Bengkulu.

Dalam bahasa Shan kata ‘Tai’ berarti mati, kata ini diadopsi kedalam bahasa Campa sehingga berubah menjadi kata matai. Akar kata ‘Tai’ mendapat awalan dalam bahasa Campa ‘Ma’ sehingga mucullah kata matai. Kata ini masih kita dengar dalam bahasa Malayu Kepulauan Riau, Bangka, Bajo, Dayak Kenya dan Katingan. Pada suku Dayak Ngaju kata ini menjadi ‘pampatai’. Suku Bantik menyebutnya ‘natei’, dan dalam bahasa Mandura kata ini menjadi ‘matek’.

Kata ini tersebar dalam cabang-cabang bahasa Polinesia, misalnya dalam bahasa Maori menyebut dengan kata ‘mate’, juga pada bahasa Samoa, Tahiti , Hawai, Tonga, Marquesas, Mangarewa dan Paumota. Dalam bahasa Aniwa kata ini menjadi ‘komate’. Kata hidup juga berasal dari bahasa Shan Cian Selatan. Kata ini masuk kedalam bahasa Ahom berbentuk kata ‘Dip’ dan dalam bahasa Campa menjadi ‘hudip’, dan dalam bahasa Jarai ‘hedip’. Dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia misalnya dalam bahasa Jawa, kata ini berbunyi ‘Urip’. Bahasa Lampung ‘uriëk’, Bayan ‘Udip’, Mentawai ‘Muri’, Dayak Kenya ‘Mudip’ dan dalam bahasa Penyabung menjadi kata ‘Murip’.

Dalam bahasa Khmer ditemukan kata ‘Nyi’ berarti jenis perempuan. Kata ini juga terdapat dalam bahasa Sunda di Jawa Barat yaitu kata ‘Nyi’ atau ‘Nyai’. Sedangkan dari bahasa Campa didapati kata untuk sebutan laki-laki dengan kata ‘Lakei’, dan perempuan ‘Kumei’. Sedangkan kata ‘Jantan’ berbunyi ‘Tanov’. Kata Jantan dan betina disebut ‘Binai’. Kata ‘Binai’ ini dalam bahasa Bengkulu adalah isteri (Bini). Kata ‘kumei’ itu sebenarnya berasal dari bahasa Khasi, dan dalam bahasa Jarai laki-laki ‘Rekei’.

Untuk menyebutkan jenis kelamin bahasa Indonesia menyebutnya dengan kata betina, atau dalam bahasa Indonesianya perempuan. Dalam bahasa Jawa menggunakan kata ‘bi’ artinya perempuan, yang diambil dari bahasa Mon (Hyunan Cina) yaitu kata ‘be’ beartinya perempuan. Kata ‘be’ atau ‘bi’ dalam bahasa Bengkulu artinya ibu atau bibi. Banyak sekali bahasa Mon yang masuk kedalam kata-kata bahasa Campa, Khmer, Jarai, Khasi, dan bahasa Palung di Birma Utara, sampai ke bahasa-bahasa wilayah Indonesia.

Slametmuljana berpendapat bahwa, kata perempuan dalam bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Khmer yaitu prapon dan bertalian dengan kata ‘wa repon’ bahasa Birma. Namun menurut penulis, kata perempuan itu berasal dari bahasa asli Nusantara yaitu Peram = Simpan, dan Puan berarti susu. Dengan demikian kata perempuan bermakna penyimpan air susu.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.