Bengkulu Dalam Bahasa dan Perbandingan (2)

Catatan Hakim Benardie

Dalam bahasa Sansekerta ditemukan kata ‘Stri’. Dalam bahasa Jawa kata itu menjadi ‘Estri’ artinya perempuan. Kata lânâ dalam bahasa Nahali rumpunan bahasa Munda India Selatan berubah menjadi lanang dalam bahasa Jawa. Kata ini juga ditemukan dalam bahasa Bengkulu, yaitu lanang, melanang.

Dalam bahasa Jawa baru perempuan disebut dengan kata wadon, yang diambul dari bahasa Sansekerta vadhu. Sekarang orang menggunakan kata wanita dan priya (Laki-laki) yang diambil langsung dari bahasa Sansekerta, kendati kata itu tidak ditujukan untuk jenis kelamin.

Kata Sansekerta lainya yang diambil kedalam bahasa Malayu adalah Cri artinya indah, gemilang atau berarti yang mulia . Kata wanita (Vanita) dalam bahasa Sansekerta arti yang sebenarnya adalah yang diharapkan, yang dicintai, isteri atau perempuan. Kata Campa ‘Merai’ menjadi mari. Padai menjadi padi. Takai ‘kaki’, dalam bahasa Bengkulu kita temukan kata tungkai dan kata tukük = kaki.

Dari bahasa Santali yang merupakan cabang bahasa Munda India Selatan, kita dapat bentuk kata ‘Dal’ yang artinya memukul. Daldal: memukuli. Dadal: memukul keras. Kata-kata ini dapat juga kita temukan dalam istilah kesenian Tabot. ‘Döl’= memukul, ‘Daldöl’ = memukuli, dan ‘Dadöl’ = memukul keras. Dari bahasa Criviyaya ditemukan kata ganti orang kedua, yaitu ‘Mamu’ = orang yang dihormati. Kata ini ditemukan dalam lingkungan istilah keluarga Tabot di Bengkulu.

Dalam pengupasan bahasa asli daerah ini, tidaklah adil kalau tidak mengupas sepintas tentang bahasa Criviyaya (Sriwiyaya), karena provinsi ini merupakan salah satu tetangga Provinsi Bengkulu. Di dalam piagam Kota Kapur Criviyaya ditemukan kata ‘in’ yang merupakan kata sisipan, sebagai indikator bentuk pasif kata vinunu bearti bunuh. Dalam baris selanjutnya ditemui kata niwunuh = dibunuh. Dalam bahasa Criviyaya juga ditemukan kata ngelarku = ku-gelari. Kata niwunuh atau wunuh dan ngelar tersebut, juga ditemukan dalam bahasa Serang Banten secara utuh, yaitu kata wunuh (Bunuh), dan kata ngelar = membentang.

Dr. H. Kern membuat suatu daftar kata-kata Austronesia yang telah dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya. Ternyata ditemukan 30 kata yang sama antara lain sebagai berikut :

  1. Tebu
  2. Nyiur
  3. Buluh
  4. Bambu (Awi)
  5. Mentimun
  6. Jelatang
  7. Tuba
  8. Talas
  9. Pisang (Punti)
  10. Pandan
  11. Ubi
  12. Padi
  13. Ikan Yu
  14. Gurita
  15. Udang
  16. Ikan Pari
  17. Penyu
  18. Buaya
  19. Tuna
  20. Nyamuk
  21. Lalat
  22. Babi
  23. Asu (Anjing)
  24. Kutu
  25. Walawa
  26. Lisa
  27. Laba-laba
  28. Langau
  29. Besi

Dari bahasa Malayu (Indonesia) dapat kita temukan kata Selatan yang berarti: 1. Laut sempit. 2. Petunjuk lawan dari Utara, tetapi tidak terdapat dalam bahasa Campa. Masih banyak kata-kata yang belum diketahui asalnya waktu itu, misalnya saja adalah kata aku, hidup dan mati. Namun ternyata kata ‘Aku’, ‘Mau’ berasal dari bahasa Shan (Cina Selatan) yaitu kata ‘Kau’. Kata ini juga dipakai dalam bahasa Assam, Ahom, Khamti, Nora dan Aitonia. Kata bahasa Malayu ‘Engkau’ diambil dari bahasa Mon (Hyunan Cina) yaitu hekau = engkau.

Kata ‘Ini’ berasal dari bahasa Mundari India Selatan, kata ‘Itu” berasal dari kata Khasi yaitu kata ‘Tu’, mendapat imbuhan ‘i’ setelah kata ini diadopsi kedalam bahasa Mon dan Palung, bahasa Palung itai. Dalam bahasa Palung kita ketahui ada kata petunjuk sebagai berikut i-ö dan i-tay. Kata ini berubah menjadi ‘ieu’ dan ‘eta’ dalam bahasa Sunda Jawa Barat.

Kata petunjuk ini tidak digunakan dalam bahasa Palung dan Khmer. Dalam bahasa Mon, Khmer, dan Khasi menggunakan kata petunjuk ‘Ne’, dalam bahasa Ambon ‘Ine’. Kata petunjuk dalam bahasa Mundari ana dalam bahasa daerah di Indonesia berubah menjadi kata ‘Kana’ (Serang Banten), Kono (Jawa Tengah dan Timur), Sana dalam bahasa Malayu, ‘Disan’ dalam bahasa Lampung atau Batak Toba, dan ‘Disinan’ dalam bahasa Mingangkabau. Untuk kata petunjuk ‘Ani’ berubah menjadi disini. Dengan demikian ada tiga kata petunjuk di Indonesia, yaitu sini, situ dan sana.

Dalam bahasa Campa, kata petunjuk keterangan tempat mulai dengan kata ‘Ta’ atau ‘Pa’, misal ; pani, tani, sini dan panan, tanan, sana, situ. Kata ‘ka’ itu mendapatkan kata penghubung, sehingga berbunyi sebagai berikut .

Kana (dari kata petunjuk Mundari ana)

Kėnė (dari kata petunjuk Khmer ne)

Kono (dari kata petunjuk Khmer no)

Dalam rumpunan bahasa Shan dikenal kata ‘tu’, badan (Inggris : body), kata tu atau to kita kenal kembali dalam kata Tuan, tun dan dalam bahasa Sriwiyaya, Lampung, Banten dan Jawa kita kenal dengan kata ratu = raja, kata ini menunjukkan kata hormat. Untuk pengertian tubuh bahasa-bahasa di Indonesia menggunakan kata tubuh bentuk metatesis yaitu butu, disamping kata tubuh juga digunakan kata batang atau bengku sebagai mana juga dalam bahasa Kota Bengkulu.

Dalam bahasa Sulawesi kita temukan kata ‘kale’ = badan, kata ini digunakan dalam bahasa Toraja Binuang, Toraja Belanipa, Memuju, Bantaing dan Sa’dan. Sedangkan dalam bahasa Toraja Baree ditemukan kata ‘koro’ dan dalam bahasa Mori ditemukan kata ‘kroi’ artinya batang, dan dalam bahasa Bengkulu kata ‘bengku’ atau ‘bengkuk’ = ‘batang’.

Kata lain yang juga digunakan secara luas untuk menyebutkan tubuh atau batang adalah kata ganti ‘awak’ , dalam bahasa Bali kita kenal dengan kata ‘raga’ dan ‘dėwė’, sedangkan dalam bahasa Malayu Bengkulu lainnya kita kenal dengan kata ‘diri’ = tubuh atau badan sebagai kata ganti refleksif.

Dalam bahasa Penyabung, Katingan dan Pinihing ditemukan kata ‘puong’ sebagai kata ganti refleksif, kata itu masuk kedalam bahasa Jawa kuno menjadi ‘pwangkulun’ atau ‘pwanghulun’. Sedangkan bahasa Gorontalo kita temukan kata ‘pohuwa’ sinonim kata ‘awaä’ yang berarti badan.

Sedangkan kata ‘saya’ berasal dari bahasa Sansekerta dan kata ‘wafat’ berasal dari bahasa Arab. Bahasa lain yang hampir mendekati bahsa Malayu adalah bahasa Campa, dan bahasa Jarai, Margui, Khaonam. Dalam bahasa Campa ditemukan kata benda berbentuk ‘asau’ , kata ini diambil dari bahasa Khasi yaitu ‘asu’ = anjing. Bentuk semula kata ini sebagai berikut ; , Khasi dalam bahasa resmi ‘ksew’, Khasi Lingngam : ‘ksu’, atau ‘su’ dan dalam Khasi Sinteng ‘ksäw’. Bahasa Tagalog dan Iloka menyebutnya ‘aso’.

Demikian juga dalam penghitungan angka, terlihat pula dalam penggunaan bilangan 1 sampai 10 dan kata hitungan Campa ‘Klau’ (3) , dalam menghitung Campa menggunakan kata 10 + 2 (Sa puluh dua). Dalam bahasa Seputan digunakan tambahan kata ‘ma’ sehingga hitungan berbunyi ‘puru ma ruo’. Dalam bahasa Shan hitungan kesepuluh (10) disebut ‘tekau’.

Dalam bahasa Palung di Birma Utara kata kor (10} sehingga hitungan berbunyi ‘kor na ar’ berarti 10 + 2 , kata ini masuk kedalam bahasa-bahasa di Indonesia menjadi ‘kur’ seperti pada bilangan ‘likur’. Dalam bahasa Polinesia menjadi ‘tekau’ seperti hitungan ‘tekau ma rua’. Kata bilangan Austronesia seperti fitu (7} , walu (8) , siwa (9) , sedangan Campa menggunakan kata tijuh (7) , dalapan atau salapan (8) , dan semilan (9).

Terlepas dari perdebatan itu, adanya penyebaran bahasa di luar bahasa induk ke Nusantara ini jelas merupakan suatu bukti bahwa telah ada pelayaran atau perniagaan yang sampai ke negeri ini. Bahasa-bahasa itu disampaikan secara berantai atau domino kepada penduduk yang berada disekitarnya, dan satu-satunya alat transportasi laut masa itu adalah perahu layar (Jung) yang dapat dijadikan sebagai jembatan penghubung antara pulau-pulau berpenghuni.

Slametmulyana dalam buku “Asal Bangsa Dan Bahasa Nusantara“ mengatakan ; Nama Nusantara belum dikenal sebagai nama keserumpunan bahasa, namun sudah dikenal sebagai nama kepulauan antara empat benua, mempunyai pengertian yang sama dengan Austronesia. Beliau menggunakan kata Nusantara untuk menunjuk keserumpunan bahasa yang terdapat di Kepulauan Nusantara atau Austronesia.

Penulis disini hanya ingin mengatakan bahwa, apa yang dimaksud dengan “keserumpunan bahasa yang terdapat di Kepulauan Nusantara atau Austronesia“ itu sebenarnya sudah dikenal sejak lama yaitu dengan istilah keserumpunan bahasa ‘Pha-mnalä-yu’, terutama oleh pedagang Arab, India dan Cina. Kata Malayu terambil dari akar kata ‘Mnala-yë’ bahasa Ayodhya atau Ayoda sebuah kota yang terletak di Utara Pradesh Tengah bagian Timur India. Kota inilah yang disebut-sebut dalam buku Ramayana sebagai negeri keramatnya umat Hindhu.

Dengan demikian kata ‘Pha-mnala-yë’ atau ‘Pha-mnalä-yu’ memiliki makna yang sama atau sinonim dengan kata Nusantara atau Indonesia atau Archipelagic State yang juga kita kenal sekarang. Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang ini jika diteliti secara luas, maka akan ditemukan adanya perpaduan bahasa (bahasa Adopsi) dari berbagai bahasa Afrika, Asia, Asia Tenggara, Eropa dan bahasa Pha-mnalä-yu itu sendiri yang telah ada dari sejak awal, telah terjadi ratus tahun sebelum Masehi (sM).

Karena itu menurut penulis penggunaan istilah Nusantara pada penyebutan rumpunan bahasa diseluruh wilayah Republik Indonesia atau Archipelagic State adalah tidak tepat, dan hanya akan semakin mempersempit ruang lingkupnya. Karena sejarah bangsa-bangsa itu sendiri telah menunjukkan bahwa sejak ratus abad telah ada perpindahan penduduk dan perdagangan secara luas di berbagai perairan Asia, Afrika dan Asia Tenggara termasuk di kepulauan Archipelagos. Pembatasan dengan istilah Nusantara itu, juga akan semakin memperjauhkan dari kenyataan (Facta) pengembangan bahasa itu sendiri serta ruang lingkupnya.

Namun kata Austronesia yang digunakan sebagai istilah untuk rumpunan bahasa di Asia Tenggara, dapat dipertegaskan disini bahwa istilah rumpunan bahasa Austronesia itu jelas lebih luas dibandingkan dengan istilah bahasa Nusantara, dan rumpunan bahasa Pha-mnalä-yu lebih luas dari Austronesia. Bahasa Pha-mnalä-yu mencakup bahasa-bahasa yang datang dari daratan Asia, Afrika, Asia Tenggara, Archipelagos dan berkembang di Indonesia. Dengan demikian penulis berpendapat, rumpunan bahasa Indonesia akan lebih tepat disebut rumpunan bahasa Pha-mnalä-yu, karena wilayah penyebaran bahasa dan etnisnya lebih memiliki ikatan histories dan emosional, baik dulu maupun sekarang.

Menurut beberapa peneliti asing, bahasa Sansekerta yang berada di Indonesia itu lebih memiliki kekhasan (kehususan) jika dibandingkan dengan bahasa negeri asalnya, seperti bahasa Urdu, Hindustan dan Tamil lainnya yang banyak bercampur dengan kata-kata Sanskrit (Sansekerta). Namun hal itu tidak tertutup kemungkinan, bahwa bahasa Sansekerta yang berkembang di Indonesia itu muncul dari bahasa sehari-hari para pelaut-pelaut India pada masa itu, yang memang terkenal banyak menyinggahi berbagai pelabuhan laut di Asia dan Asia Tenggara, yang ramai dikunjungi ketika itu. Mereka mendatangi pelabuhan-pelabuhan Jazirah Arab dan Asia yang telah maju untuk berniaga, dan perlu pula diingat bahwa di India sendiri bahasa daerah itu cukup banyak.

Di India terdapat 179 bahasa yang terpecah menjadi 544 bahasa daerah, dan bahasa itu dapat dirumpunkan menjadi 5 rumpun bahasa yaitu masing-masing:

1). Rumpun bahasa Indo-Eropa, atau rumpun bahasa Arya seperti bahasa Hindi, Banggali, bahasa Assam, bahasa Orissa, Marathi, Gujarat, Punjabi, Lahnda, Sindhi,

Kashmiri dan Sinhala. 2). Rumpun bahasa Munda, 3). Rumpun bahasa Dravida, 4). Rumpun bahasa Indo Tionghoa, dan 5). Bahasa-bahasa yang tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu rumpunan bahasa yang ada.

Bahasa Hinddhi dipakai di United Provinces, Central Provinces dan Rajputana, sedangkan aksara yang digunakan untuk menulis mereka menggunakan dua macam; aksara Parsi dan aksara Nagari (Di Indonesia berkembang menjadi aksara Kawi atau Jawa kuno). Demikian juga bahasa banyak bercampur dengan kata-kata Parsi, bahasa ini dinamakan bahasa Urdu. Sedangkan bahasa Hindustani banyak bercampur dengan kata-kata sanskrit, dan bahasa Hinddhi ini banyak digunakan sebagai bahasa kesusastraan

Bahasa Banggali banyak terdapat di Delta Gangga dan di daerah sebelah utara dan timur. Anehnya dalam bahasa ini ialah, bahwa bahasa kesusastraannya jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari, seperti seakan tidak pernah kita jumpai dalam bahasa-bahasa lainnya.

Aksara yang digunakan untuk menulis adalah aksara Nagari yang di sana-sini terdapat perubahan. Sementara bahasa Banggali dinilai termasuk bahasa tinggi, dan kesusastraannya telah berkembang sejak lama, bahasa ini juga dipakai di Assam.

Orang Punjab berbahasa Penjabi, termasuk di Punjab Timur, sebagian mereka memakai bahasa Lahnda dengan aksa Parsi. Orang Sind memakai bahasa Sindhi, aksara yang dipakai aksara Parsi. Sedangkan orang-orang Kasmir banyak berbahasa Sanskrit, disini orang muslimnya menggunakan aksara Parsi, sementara golongan Hinddhu menggunakan aksara Narada (Aksara Nagari kuno).

Dalam prasasti Prabu Siliwangi, bahasa Indonesia kuno yang digunakannya kelihatannya lebih modern dimasanya, kendati perubahannya itu sendiri tidak secara mendasar (Signifikan), artinya masih banyak istilah-istilah (kata-kata) lama yang masih digunakan dalam prasasti tersebut. Tetapi yang paling menarik dalam prasasti Prabu Siliwangi itu menurut penulis, adalah banyaknya kata-kata yang hingga kini masih tetap dipakai dalam bahasa daerah seperti Lampung Pesisir (Lampung Pemingir) misal kata Dija, Sija, Saka, Ja (Hiya), Nusa, Tiga, Lan, Ban, Pun, Bumëi, dan sebagainya.

Bahasa yang digunakan dalam tulisan prasasti Batu Tulis itu, adalah kata-kata yang umumnya banyak sekali dipakai dalam bahasa Lampung kuno. Jika hal ini benar, maka tugas selanjutnya akan menjadi pekerjaan rumah bagi para peneliti bahasa (Etnolinguistik).

Karena itulah banyak nama-nama negeri di Nusantara yang diambil dari nama tumbuh-tumbuhan / pohon, atau sebutan tempat (sungai atau penambangan emas), atau diambil dari istilah keagamaan (Hinddhu, Bhuddha, Islam dan Kristen), atau nama negeri asal penguasa pemuka agama, dan penamaan itu sekaligus sebagai bahasa. Sebagai contoh nama yang diambil dari nama tumbuh-tumbuhan adalah, Ippoh atau Ipuh (pohon yang getahnya sangat beracun) sebuah negeri yang terdapat di Provinsi Bengkulu atau negeri Ippoh di Malaysia.

Negeri yang memakai nama-nama sungai contohnya adalah Bakasi yang diambil dari kata Chandrabhaga, kata Krui (di Provinsi Lampung), Lu-Shiangshe (Sungai kejayaan atau sungai emas) di Bengkulu, dan kata ‘Bengkulu’ itu sendiri menunjukkan kata ‘batang air’ atau ‘sungai’. Di Sumatera bagian selatan anak negeri umumnya menyebut kata ‘sungai’ dengan istilah ‘batanghari’, contoh lainnya adalah nama Bhagawan Solo (Bengawan Solo) kata Bhagawan itu berarti sungai (sedangkan arti sesungguhnya adalah seseorang yang memberikan/menurunkan ilmu secara terus menerus, mengalir bagaikan mata air).

Nama negeri yang diambil dari nilai keagamaan adalah Chamara (ekor kuda) sebagai alat pengusir lalat yang sering terlihat pada patung dewa yang sedang memegang Chamara, Aksamala (Tasbih) dan Kamandalu (Kendi berisi air penghidupan ). Chamara atau Cemara banyak digunakan sebagai sebutan nama sebuah negeri di Nusantara.

Nama negeri lainnya adalah Indrapura (Kota Dewa) di Provinsi Riau, dan nama kota yang sama juga terdapat di Sumatera Barat. Sedangkan yang berbentuk peralatan keagamaan adalah seperti nama negeri Muko-muko yang diambil dari kata Maco-maco (Tempayan besar), dan Tapan (Nampan), Indramayu (Kota dewa kecantikan atau Dewa bersolek) dsb.

Makna keagamaan yang diambil menjadi nama negeri lainnya seperti Pakwan Pajajaran, kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu Pakwan + Pajajaran. Kata Pakwan berasal dari bahasa Hinddhustan, terambil dari akar kata ‘Pakpui’ atau ‘Pa’Pui’ artinya “Melihat / mendengar sabda dewa”. Sedangkan kata Phajajaran itu terambil dari akar kata Pha + Jajar + An, kata ini dapat diartikan dengan “Gugusan Pulau” atau berjajar atau banyak pulau. Dengan demikian kata Pakwan Phajajaran berarti “Pulau Sabda Dewa atau Negeri Sabda Tuhan”. Kata itu hampir sama dengan sebutan kata Samudera Pasee sebagai Kota Serambi Mekah atau Negeri Para Wali.(***)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.