Dinkes dan Puskesmas Se-Provinsi Bengkulu Bahas STBM

Peserta dari kota dan kabupaten Se-Provinsi Bengkulu saat mendengarkan pengarahan.

Bengkulu, SM-Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu lakukan pertemuan dengan Dinas Kesehatan Se-Provinsi Bengkulu, Senin (16/09/2019) di Hotel Nala Sea Side, Jalan Pariwisata, Kota Bengkulu.

Pertemuan ini  yang berlangsung mulai 16 hingga 18 September 2019 ini,  dalam rangka peningkatan kualitas pelaksanaan kesehatan lingkungan, dalam pencapaian indikator lingkungan di Bumi Raflesia. Hadir dua delegasi perwakilan kabupaten, yang berkompeten sebagai pengelola program kesehatan lingkungan, termasuk  dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang ada.

Setiap kabupaten dan kota  mengirimkan satu delegasi pengelola program dari Dinas Kesehatan dan petugas Puskesmas.

DIkatakan panitia pelakanaan  kegiatan, Andi Aprianto, pertemuan yang membahas program kesehatan lingkungan ini, berdasarkan indikator-indikator yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh pemerintah pusat yang ada enam poin, soal Indikator untuk program kesehatan lingkungan. Hanya saja dalam pertemuan kali ini yang dibahashanya dua indicator saja.

Indikator desa atau kelurahan yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), yang merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat, dengan metode pemicuan. “Ini berkaitan dengan inputan data yang akan dimasukkan di dalam STBM smart”.

Soal penguatan atau penginputan data laporan emonev pengawasan kualitas air minum STBM smart. Kedua tentang penguatan atau penginputan data laporan pengawasan kualitas air minum.

Kedua indikator ini, kita masih terus dalam upaya peningkatan, agar kedepan lebih baik. Diakui Andi, untuk STBM smart desa atau desa yang telah melaksanakan kegiatan STBM, Dinkes Provinsi BeNgkulu masih memerlukan peningkatan. Apalagi pada saat ini, desa yang sudah melaksanakan.

“Kita sebenarnya sudah melaksanakan STBM. Sudah lumayan melebihi target nasional. Tetapi kita lemah di dalam penginputan. Ini bukan kelemahan kita, tetapi juga ada kadang-kadang optimalisasi web STBM itu sendiri yang terkadang ada gangguan.  Jadi apa Yang tertera di web STBM smart itu belum mencerminkan atau jumlah desa yang sudah kita lakukan STBM”, jelas Andi

Selama ini Dinas Kesehatan sudah melakukan kendala yang ada. Tapi kita tidak bisa melakukan penginputan yag ada. “Nah disinilah, dalam pertemuan ini kita sama-sama menguatkan, bagaimana penginputan. Itu sudah menjadi ketentuan dari Kementerian Kesehatan RI, termasuk juga dengan pengawasan kualitas air minum atau disebut dengan emonev pekam”.

Untuk pekamnya sendiri, secara nasional kita memang masih rendah. Karena pengawasan ataupun pemeriksaan kualitas air minum itu untuk masyarakat, sebagian besar merasa keberatan. Kendalanya soal biaya yang lumayan mahal. Apalagi masyarakat kita yang tinggal, atau pernah tinggal di pedesaan.

Tujuan dari pertemuan ini, agar  bagaimana secara laporan ataupun laporan untuk Provinsi Bengkulu, dapat meningkat. Dalam artian, peningkatan melakukan penginputan, agar capaian lebih tercapai.

“Begitu juga dengan pekam, yang sebenarnya kita sudah banyak berbuat. Hanya saja belum terdata, tercatat, karena memang ada gangguan dari kedua web sebut web stbm smart dengan web emonev pekam”, kata Andi usai acara. (Tofik)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.