Fatmawati Sosok Kartini dari Bumi Raflesia (Part 2 tamat)

Sang Saka Merah Putih

Pada saat perjuangan bangsa Indonesia mencapai titik kulminasi, dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, oleh Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia, saat itu bendera Merah Putih segera akan berkibar sebagai wujud simbolis terhadap kebebasan Bangsa Indonesia dalam menentukan arah nasibnya sendiri.

Dilalanya saat itu, belum ada lontaran pemikiran akan sebuah benderah saat proklamasi siap dikumandangakan. Saat itu kembali Fatmawati mengambil peran pentingnya. Jauh sebelumnya orang berfikir soal bendera, Fatmawati telah menyiapkan hal tersebut.

“Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar tidurku”.

Bisa dibayangkan kala itu bila tidak ada sosok Fatmawati, yang  sigap menyiapkan bendera  Merah Putih, bahkan  jauh sebelum proklamasi digaungkan. Selama satu setengah tahun Sangsaka dipersiapkan sebagai lambang kejayaan takyat Indonesia.

Inilah salah satu fakta yang menunjukan bahwasanya Fatmawati tidak pasif, melainkan aktif dan mengambil perannya dalam politik. Generasi penerus bangsa dapat melihat jiwa, sumbangsi serta  semangat juang yang telah diperankannya.

Perjuangan Belum Usai 

Kemerdekaan Republik Indonesia sudah di proklamirkan, namun peran sosok  Perempuan dari Bengkulu ini rupanya belum rampung, Pressure kaum kaum imperialis dan kolonialis masih terus berlanjut. Dalam kondisi genting, Ibukota Neqara, Jakarta dalam kondisi bahaya hingga akhir Tahun 1946.   Pada tanggal 4 Januari 1946, Presiden dan Wakil Republik Indonesia memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta demi keselamatan para pemimpin bangsa maupun pemerintahan Republik Indonesia.

Saat itu  First Lady Fatmawati diboyong  sekeluarga  hijrah ke Yogyakarta, meskipun harus melewati pagar berduri. Selama di Yogya, Fatmawati tidak saja berperan sebagai pengatur rumah tangga kepresidenan, yang setiap saat harus melayani dan menjamu para pejuang yang sering datang hilir mudik. Bahkan pernah Fatmawati tidak segan-segan pernah pergi sendiri tanpa pengawal untuk berbelanja ke pasar.

Dalam hijrahnya juga Fatmawati acap kali mendampingi Bungkarno sebagai presiden  berkunjung ke daerah-daerah Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Jawa Barat untuk memberikan wejangan-wejangan pada rakyat,  dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sekali-sekali Fatmawati juga  dimintai langsung oleh rakyat Cirebon untuk tampil di mimbar.memberikan kobaran semangat juang.

.Kuat Memegang Prinsip

Meskipun Fatmawati  sudah menjadi first ladynya Indonesia, jati-diri yang sudah lama tertanam sejak masih remaja, masih tetap merekat kuat, tak lapuk karena  hujan, tak lekang oleh panas. Kepribadian yang kokoh dengan dilandasi oleh kesederhaan tanpa pamrih masih dipegang teguh.

Saat mendampingi Bung Karno pada  kunjungan kenegaraan melawat ke luar negeri, India dan Pakistan, Fatmawati terpaksa harus meminjam atau dipinjami perhiasan milik istri Sekretaris Negara. Tentunya pengenaan perhiasan itu bukan untuk pamer atau glamour melainkan karena posisinya sebagai Ibu Negara Indonesia yang akan bertemu dengan pemimpin negara lain.

Semangat  juang yang gigih, tangguh serta ketabahan Sosok Fatmawati  yang luar biasa, baik selama perang kemerdekaan hingga pasca kemerdekaanpun tak pernah pudar. Ketabahannya terus di uji, termasuk saat Bung Karno ingin kawin lagi. Dua hari setelah dirinya melahirkan anak kelimanya, Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra. Tepatnya pada tanggal 15 Januari 1953.

Dengan perasaan yang tabah, beliaupun menjawab: “Boleh saja, tapi Fat minta dikembalikan pada orang-tua. Aku tak mau dimadu dan tetap anti poligami”.

Tahun 1954 krisis rumah tangga kian memuncak. Demi mempertahankan harga diri dan tetap berprinsip anti poligami, maka Fatmawati meninggalkan Istana Negara. Berpisah dengan suami dan anak-anaknya yang dicintainya.

Kilas kisah itu menunjukan Fatmawati merupakan perempuan yang berpegang teguh pada prinsip. Salah satunya anti poligami. Prinsip itu ditunjukannya saat Soekarno menikah lagi dengan Hartini. Sigap, Fatmawati meninggalkan kemegahan Gedung Istana Negara  Fatmawati memilih hijrah  ke sebuah rumah di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Padahal kala itu Fatmawati masih masa penyembuhan usai melahirkan.

Fatmawati berangapan,  praktik poligami menginjak martabatnya sebagai perempuan. Sekitar 1955, Fatmawati memilih hidup tanpa sosok suami dan tinggal di rumah pribadinya, meski status pernikahannya belum terputus atau diceraikan.

Penutup

Fatmawati yang nama kecilnya  Fatimah, lahir pukul  12.00 WIB, Senin  5 Februari 1923 saat kolonial Inggris masih bercokol di Bengkulu. Tidak banyak yang tahu kalau perempuan anggun bersahaja ini keturunan Kerajaan Indrapura Mukomuko. Ayahnya keturunan ke-6 dari Kerajaan Putri Bunga Melur. Putri Bunga Melur berarti putri yang cantik, sederhana, dan bijaksana. Tidak mengherankan bila Fatmawati mempunyai sifat bijaksana dan mengayomi.

Pendidikan lingkungan keluarga dan lingkungan sosial kala masik kanak-kanak, tentunya  sangat mempengaruhi jiwa Fatmawati. Cepat dan tanggap dalam bertindak, menyikapi fenomena sosio-kulturalnya, membuat Fatmawati mampu mengoperasionalisasikan fungsi rasionalitasnya sebagai sosok panutan bagi perempuan Indonesia.

Meskipun perempuan berdarah bangsawan, tidak berarti Fatmawati kecil  tidak bergaul dengan teman sebayanya.  Berbagai kegiatan belajat  dan kesenian tidak mendapatkan larangan dari orang tuanya. Karena kecakapannya dari seni tari  itu pulalah salah satunya Soekarno jatuh hati pada Fatmawati dan menikahinya pada Tahun 1943. Saat itu  Fatmawati masih berusia 20  Tahun,

Atas pengabdiannya kepada negara, pemerintah melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118/TK/2000 pada 4 November 2000 menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Ibu Fatmawati. Nama Fatmawati juga diabadikan sebagai nama jalan dan rumah sakit.

Catatan dari berbagai sumber.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.