Feature:: Mengais Rupiah Kala Pandemi

Pak Kani Pejuang keluarga

Pameo mengatakan, “Siapa bekerja keras, banting tulang, jaminan kemakmuran”. Ternyata tak sepenuhnya benar. Pak Kani seorang kuli bangunan dan Ibu Martati pencari barang bekas, salah satu cotoh pejuang keluarga yang bekerja keras  ditengah pademi Covid-19.

Terkadang mereka tak menghiraukan situasi pandemi saat ini. Berjuang mengais rupiah dengan kucuran keringat, dibawah  terik panasnya Kota Bengkulu

“Saya ini jadi kuli bangunan hanya untuk bertahan hidup saja. banyak rezeki itu urusan Tuhan”, ujar Pak Kani sembari mengangkat adukan semen bercampur batu koral.

Tahun ini merupakan tahun ke-32 dirinya menjadi kuli bangunan pada usianya  yang menginjak 51 tahun. Selama itu pula  dirinya dapat menafkahi kedua anaknya yang kini sudah bekeluarga. Anak sulungnyapun kini mengikuti pekejaannya sebagai  sebagai kuli bangunan.

“Hanya bisa menafkahi saja. Tapi karena kondisi sulit saat itu, kedua anak saya hanya mengenyam kelas dua SMP saja”.

Pak  Kani yang sudah berumur setengah abad itu, tampak tubuhnya kekarnya  dengan kulit yang  terbakar matahari. Itu semua untuk mengais upahan mingguan senilai Rp 600 ribu dalam waktu enam hari. “Cukup nggak cukup ya jalani ajalah”.

Kala pandemi ini, Pak Kani tetap berinteraksi dengan sesama kuli bangunan lainnya. Dirinya  mengaku, tak mungkin dirinya mengenakan masker saat bekerja. Namun pembatasan berinteraksi tetap dijaga. tidak seperti sebelum pademi, semuanya ‘tanpa batas’.

Ibu Martati Sang Pencari Barang Bekas

Soal protokol kesehantan berupa masker, berbeda dengan Pak Kani, seperti aktifitas Ibu Martati. Sosok ibu berusia 35 tahun yang terus berjuang ditengah pademi untuk membantu ekonomi keluarga. Tanpa kendaraan, hanya berjalan kaki saja, seperdelapan wilayah Kota Bengkulu  dijajakinya. Terpaksa dilakukan untuk membantu suami yang juga pemulung, mengumpulkan limbah yang bisa dijual pada pengepul.

Bukannya tanpa beban, seuntas tali menempel di kening perempuan itu. Beriring dengan temannya, seuntas tali menempel di keningnya, menahan beban  karung di belakang tubuhnya. “Ini tali derita pak. Sudah bertahun-tahun belum juga terlepas”, celetuk Ibu Martati yang sedikit terkesipu saat di wawancarai.

Tali derita. Membuat batang leher menegadah.  keningpun berbekat akibat beban berat karung setiap hari. Meskipun begitu, dalam beraktifitas, masker tetap dikenakannya. Ibu karni mengaku juga merasa takut bila terpapar Covid-19. Tapi disisi lain, ketakutan kitu harus ditampiknya karena tuntutan menutupi ekonomi keluarga.

Seorang teman Ibu Karni yang tampak usianya lebih tua nyeletuk.  “Kapanlah tali derita ini bisa Emak lepas menempel di kening ini? Sudah 15 tahun belum lepas juga Nak” ujarnya sembari berlalu..

Teryata pandemi tak mematahkan semangat kedua pejuang keluarga itu untuk tetap mengais rezeki.

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.