GIRIK CIK: Bengkulu Negeri Maju Mundur

Ilustrasi Malu

By: Cik Ben

Entah apa dan bagaimanapun alasannya, inilah realitas yang terkuak. Kota Bengkulu yang umurnya 299 tahun, merupakan  barometer kemajuan Provinsi Bengkulu yang berumur 50 tahun.

Sejak abad 18 Masehi, negeri ini sudah maju. Bahkan perbandingannya kala itu, sama saja dengan kota lainnya di nusantara. Bahkan negara Singapura  kala itu masih semak belukar dan di desain oleh Thomas Stamford Bingley Raffles dari negeri epidemi  kolera dan malaria ini.

Pada abad itu, Kota Bengkulu sudah punya bangunan kokoh dan megah. Punya Gedung Tonil, sandiwara, punya bank, punya hotel hingga pelabuhan kapal. Ini hanya untuk kota saja. Belum cerita diujung negeri ini yang punya perkebunan teh warisan kolonial yang hingga tahun 2018, anak negeri banyak belum pernah menyicipi teh hasil tanah tumpah darahnya. Termasuk hasil bumi lainnya.

Dinegeri Bengkulu Lebong, ada tambang emas dan perak. Pertanyaannya, makmur dan sejahterahkah anak negeri ini dengan kekayaan alam dan hasilnya itu semua? Jawabnya mungkin iya mungkin tidak. Sama dengan pertanyaan, kenapa Bengkulu ini maju mundur.

Sebentar lagi 18 November 2018. Umur Provinsi Bengkulu setengah abad. Sejak tahun 80-an, hingga kini nyata terlihat provinsi ini  punya puluhan tambang batu bara. Punya perkebunan karet dan kelapa sawit.  Nah…Bingungkan, kenapa terjadi maju mundur? Apakah ini negeri bingung atau pura-pura bingung?

Gubernur, walikota dan bupatinya terus berganti. Anggota dewannyapun juga, dan aktif melakukan kunjungan dan studi banding ke provinsi lain. Waktu yang mereka ambilpun efektif dan efesien, yaitu tiap Senin dan Selasa.

Tegak

Sekarang hampir di ujung Tahun 2018. Provinsi ini sudah punya Plt gubernur. Punya walikota dan bupati baru, tapi lhatlah sarana jalan yang ada. Indah dengan jalan yang berlubang dalam. Dengan pembangunan dalam mimpi malamnya anak negeri. Dengan budaya dan tradisi yang tertampikan, enggan untuk digali.

Misalnya, dulu, puncak Tabut tinggi menjulang. Kini harus rendah. Paling tidak lebih tinggi dua jengkal dari kabel yang berseleweran. Inikah membangun kepedulian. Termasuk pembiaran cagar budaya disewenang-wenangkan, sepeti eks kantor pos zaman kolonial di depan kuburan bulek, Kampung China.

“Mungkin kita harus menunggu pemilihan gubernur berikutnya Cik? Kan yang sekarang masih pelaksana tugas. Jadi punya keterbatasan dan kewenangan”,  kata Anu Sang Aktifis.

Mungkin juga, atau mungkin labih baik begini. Hanya saja yang ingin Cik katakan, “Kekuasaan dipengaruhi oleh satu orang, akan berakibat keresahan sosial. Kekuasaan yang dipengaruhi banyak orang, hanya beberapa kelompok kecil saja yang kecewa”.

Cik ingin katakan, untuk upaya agar Bengkulu sesuai dengan fakta yang ada disebutkan tadi, maka Pengurus Provinsi, kota dan kabupaten termasuk wakil rakyatnya  bertipikal atau berkarakter: 1. Harus seperti Batu Bulek Idak Besending. Berani bersikap dan bertindak sesuai segak, tegak dan lagaknya.  2. Harus seperti Kebilah Sehelai Daun. Apa yang dihasilkan, diperbuat harus sesuai kebutuhan dan kepentingan masyarakat banyak. Kalu Sehelai Daun jatuh beserak, maka alamat masyarakat  akan ‘mening palak’. 3.  Harus seperti Burung Pipit Idak Besarang. Pengurus negeri ini harus merakyat. Bukan duduk di kantor beruang AC saja. Lihat langsung kelapangan kondisi masyarakat.

Misalnya, kalau dia jadi gubernur, jangan sampai  jalan rusak di depan kantornya dia tidak tahu. Tapi eloknya budaya diluar dapat dia paparkan. Sama saja artinya “hidup nyata di negeri khayal”.

  • Wartawan tinggal di Bengkulu
You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.