Girik Cik: Perempuan Bertali Derita

By Cik Ben

Bukannya tanpa beban, seuntas tali menempel di kening perempuan. Itu sudah bertahun-tahun belum juga terlepas. Ini acap terlihat di Provinsi Bengkulu.

Ya…..Tali derita. Membuat batang leher mengadah, keningpun berbekat akibat beban berat. Terkadang karung membebani, ada pula keranjang atau kiding beragam isi diboyong. Tak ada yang sangup, seandainya tuntutan ‘perut’ tidak menuntut.

Pertanyaannya, kenapa mesti perempuan bertali derita? Kenapa bukannya para pria yang batang lehernya lebih kokoh menahan beban tali derita. Untung sejak Tahun 80-an ada trend penutup kepala bagi perempuan yang sedikit dapat menahan sakitnya tekanan tali derita. Meskipun tak semua perempuan senasip bertali derita mengenakan penutup kepala.

Seorang Emak saat melintas di pinggiran Kota Bengkulu, agak tertinggal dari emak lainnya bilang, “Kapanlah tali derita ini bisa Emak lepas menempel di kening ini? Sudah 15 tahun belum lepas juga nak”.

Inilah awal pengungkapan istilah tali derita itu. Sebenarnya bukannya tali derita tak berakhir, tapi tali derita belum berakhir saja.

Cerita perempuan bertali derita hingga tahun 2021 ini perlu kita tulis, biar generasi berikutnya tahu ada soal ini. Tentunya bila tidak ada lagi keluarga kurang mampu menerpa di kota, kabupaten di Provinsi Bengkulu ini.

Meskipun aksi perempuan dengan tali derita ini sudah puluhan tahun dilakoni, dapat kita simpulkan betapa kuatnya perempuan-perempuan itu menahan beban untuk bertahan hidup. Belum lagi saat tiba dirumah, diatas kasur,  beban lainpun harus ditahannya.

Kalau dulu pria mengunakan becak mengais rezeki dilarang, karena dianggap tak manusiawi, apalah juga perempuan yang bertali derita, yang seyogyanya berkodrati mempercantik diri dan lainnya.

*Wartawan tinggal di Bengkulu Kota

 

 

 

 

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.