Kebudayaan Bengkulu yang ‘Teperdayakan’

Oleh: Benny Hakim Benardie

Ilmu Silat salah satu kesenian anak Negeri Bengkulu.

Kebudayaan Bengkulu merupakan hasil kegiatan dan penciptaan batin atau akal budi  suku, marga atau  masyarakat Negeri Bengkulu yang sudah dan pernah berlangsung. Hal itu dapat bersifat kepercayaan, kesenian ataupun adat istiadat.

Tentunya, kebudayaan Bengkulu atau hasil berpikir, akal budi generasi sebelumnya itu dapat terwujud, karena alam sekitar  yang digunakan untuk kesejahteraan, keteraturan serta kebahagiaan  hidup masyarakat anak Negeri Bengkulu.

Masyarakat Bengkulu yang kini Provinsi Bengkulu, merupakan masyarakat berbudaya, sebagai jati diri anak negeri. Khususnya dalam hal berkesenian. Meskipun kini tampaknya kurang atau tidak membudayakan untuk pembudayaan.

Membudayakan kesenian anak negeri maksudnya, dimana ada peran pemerintah bersama tokoh budaya daerah untuk mengajarkan dan mendidik generasi penerus Bengkulu, terhadap kesenian yang ada.  Untuk pembudayaan yang dimaksud, dimana potensi kesenian yang pernah hidup tersebut, agar dapat diberdayakan. Termasuk agar kesenian yang ada dapat menimbulkan nilai ekonomis, untuk pembangunan Provinsi  Bengkulu.

Kebudayaan yang ada di Provinsi Bengkulu,  merupakan salah satu aset potensial untuk kemajuan pembangunan Provinsi Bengkulu. Oleh karena, itu potensi kesenian kebengkuluan  yang telah lama terbedayakan (tenggelam), meskipun kesenian yang ada tak lapuk ditelan zaman. Ini harus digali (Diperbaharui) kembali oleh masyarakat kini, bersama-sama dengan Pemerintah Provinsi, kota dan kabupaten.

Benny Hakim Benardie

Perlu diinsyafi, bahwa kesenian daerah merupakan warisan nenek moyang masyarakat Negeri Bengkulu. Setidaknya itu  dapat terpantau dari ‘serpihan-serpihan’ sejarah yang pernah disaksikan langsung oleh penduduk lokal  maupun tempatan, yang pernah berkunjung ke Tanah Bengkulu  masa lampau. Kesenian yang dimaksud diantaranya adalah:

  1. Kesenian Barong Landong (Burung Landong); Tarian ini berbau magis, karena instrumentnya berupa kerangka yang terbuat dari bamboo. Dibungkus dengan kain dan dipegang oleh seorang pemain. Sepenuhnya digerakkan oleh Sang Pawang dari kejauhan.
  2. Leka Gilo (Bubu gila); Tarian  ini dimainkan oleh dua orang atau lebih, dengan menggerak-gerakkan Leka (Bubu) yang telah di jampi terlebih dahulu oleh Sang Pawang.
  3. Sengkora; Tarian sengkora atau topeng yang dibuat menyerupai seorang badut dipakai oleh seseorang, untuk menari-nari bagaikan seorang badut yang diinginkannya. Tarian seperti ini tidak mengandung magis.
  4. Tari Ikan-ikan; Tarian ini menggunakan instrument yang terbuat dari bambu menyerupai seekor ikan. Digerakkan oleh seorang penari. Tarian seperti ini tidak mengandung magis.
  5. Tari telong-telong; Tarian ini menggunakan lampu telong-telong (Lampion), yang biasanya dilakukan secara masal oleh remaja putri dalam musim panen raya. Tarian ini biasanya dilakukan pada malam hari.
  6. Tarian diatas bara api; Tarian ini dilakukan oleh pemain-pemain yang telah terlatih, dipimpin oleh seorang Mamu (Bapak atau guru). Dalam menari diatas bara api, mereka (Pemain) biasanya menjunjung sebuah meja kecil atau keranjang diatas kepala. Tarian ini mengandung magis.
  7. Tari Sulu (Lambut Sulu); Tari perang lambut dengan menggunakan Sulu (Daun kelapa kering) yang dibakar dengan api, merupakan salah satu tarian tradisionil yang langka untuk ditemui sekarang di Negeri Bengkulu. Tarian ini dilakukan oleh remaja putra, usai musim panen raya. Tarian seperti ini juga mengandung magis.
  8. Tari Adu Betis; Tarian ini dilakukan oleh remaja putra, dalam mengadu kekuatan betis kaki. Biasanya tarian ini berkaitan dengan Ilmu Silat (Ilmu Beladiri), dibawah bimbingan seorang Mamu.

Tarian diawali dengan tari lecut kaki yang dilakukan oleh penari itu sendiri dihadapan penonton, sebagai pamer kekuatan. Namun tak jarang terjadi calon lawan menyerah sebelum terjun ke arena dan memberlakukan sembahnya didepan penonton. Kunci dari pertandingan Tari Adu Bedis ini adalah, dengan menggunakan tekhnik penyerangan yang akurat, disamping mengandalkan kekuatan betis kaki untuk menjatuhkan lawan (Dinyatakan kalah). Tarian ini terakhir kali dipertunjukkan pada Tahun 1932 di Pasar malam Padang Gereja, Lapangan Merdeka Kota Bengkulu saat ini.

  1. Tari Adu Kambing; Tari Adu Kambing (Bukan mengadu binatang kambing yang sebenarnya). Ini hanya tarian yang dilakukan oleh dua orang, dengan tangan terikat dalam satu lingkaran. Mereka mengadu kekuatan dengan hanya mengandalkan otot kepala dan leher. Bagi penari yang tersingkir keluar dari lingkaran, dinyatakan kalah. Tarian ini adalah merupakan tari pesta rakyat yang dipertunjukkan secara umum. Terakhir kali dipertunjukkan pada pesta perkawinan (Bimbang Gedang) salah seorang warga di Kota Bengkulu Tahun 1918.  Selanjutnya tidak pernah ada lagi hiburan rakyat yang mempertunjukkan adu kambing ini di Bengkulu.
  2. Tabut; Kesenian Tabut (logat bengkulu Tabot), merupakan keseniaan yang berkaitan dengan hal-hal yang berbau spiritual. Konon katanya kesenian ini  berhubungan dengan tewasnya Hasan dan Husen,  cucu dari Nabi Muhammad Saw di Karbela, Irak. Terlepas dari kontrovesialnya  history tentang Tabut ini, yang jelas ini sudah berlangsung lama dan teradatkan. Kesenian ini   menarik yang kini , ditampilkan  dengan berbagai hiburan, sebelum  jatuhnya  tanggak  10 Muharam, dimana  Tabut  dibuang di Karbela, Padang Jati Kota Bengkulu.

Hiburan yang ditampilkan biasanya berupa  :

  1. Tari Sengkora
  2. Tari Ikan-ikan
  3. Tari mak-inang
  4. Mengambik Tanah (Tanda diawalinya acara Tabot)
  5. Cuci pusako Tabot
  6. Lomba Dhol (Adu Dhol)
  7. Adu keindahan Tabot
  8. Arak-arak Jari dan Sorban
  9. Tabot Tebuang. (Acara berakhir di Karbela)
  10. Hiburan lainnya.

Pesta rakyat ini biasanya diikuti oleh berbagai pedagang kue yang berjualan disepanjang Pasar Juada (Kue), dulu di daerah Peramukan (Kini Jalan  Suprapto). Disini  berbagai macam bentuk jajanan tradisional diperdagangkan. Sementara sebagian anak muda mulai sibuk dengan acara “Menyubuk” (Mencari-cari calon pasangan) dengan mendatangi rumah anak gadis.  Sedangkan sebagian anak gadis yang terbilang modern, diperbolehkan keluar rumah dengan menutup wajah dengan kain (Hanya dapat menyubuk) dari dalam kain yang dipakainya.

  1. Tari Randai; Tari ini merupakan kesenian daerah di Kabupaten Mukomuko, dalam  rangka menyambut tamu. Namun tarian ini tidak jarang ditampilkan/dipertunjukkan sebagai hiburan dalam pesta rakyat.
  2. Berejung; Merupaka nyanyian masyarakat Kabupaten Kaur (Padang Guci dan Kedurang). Biasanya nyanyian dan senandung dilantunkan, saat para ibu-ibu menangkap ikan disungai. Mereka berejung dengan suara merdu.
  3. Tarian Kejai; Tarian ini merupakan kesenian rakyat yang dilakukan pada setiap musim panen raya dating. Tarian tersebut dimainkan oleh para muda-mudi, di pusat-pusat desa pada malam hari. Ditengah-tengah gemerlapan lampu Lampion (Telong-telong).

Tarian ini pertama kali terlihat oleh seorang pedagang Pasee bernama Hassanuddin Al-Pasee yang berniaga ke Negeri Bengkulu pada Tahun 1468 Masehi. Negeri (Nagari) yang dimaksud adalah di Daerah Kabupaten Bengkulu Utara kini (Lais hingga Nagari Bintunan dan Ketahun sekarang).

Sebelumnya di Tahun 1458 M,  beliau belum menemui adanya tarian rakyat seperti itu. Terakhir tarian rakyat yang meriah ini terlihat pada Tahun 1485 M. Pedagang ini (Mualim Hassanuddin) menjadi raja pertama Kerajaan Islam Banten  pada Tahun 1481 M, dengan sebutan Sultan Maulana Hassanuddin Al-Pasee, wafat dan dimakamkan di Desa Banten Lama pada Tahun 1531 M di Provinsi Banten.

Keterangan lain tentang adanya Tari Kejai (Kejei) itu berasal dari Fhathahillah Al Pasee pada Tahun 1532 M yang berkunjung ke Negeri Bengkulu. Ulama ini  menyebutkan adanya tarian masal tersebut. Fhathahillah Al Pasee di Banten di kenal dengan sebutan Ratu Bagus Hang-Kei, juga dikenal dengan sapaan Sultan Maulana Syarief Hidayatullah Al Pasee (Raja Banten ke II yang memerintah pada Tahun 1531 – 1570 M) dan Negeri  Bengkulu ini adalah vasal Banten.

 Pertanyaanya adalah, apa dan bagaimana mengangkat kesenian anak Negeri Bengkulu  yang ada? Tentunya, dengan mendapatkan support dari pemerintah daerah dan didukung oleh berbagai pihak pencinta dan pemangku kekuasaan.

Gelar Seminar Budaya Anak Negeri Bengkulu,  merupakan langkah awal, guna  mengangkat kembali budaya daerah yang terbedayakan selama ini. Tenggelam bersama kebisingan yang tidak asri lagi. Apalagi Bengkulu kini sudah jarang terdengar suara jangkrik bersautan, memecah keheningan malam, bersama api-api (Kunang-kunang) yang memecah kesunyian dan kegelapan.

Perlu diingat, Budaya tidak sekedar hiburan rakyat semata. Budaya dapat dijadikan sebagai asset, pemasukan  dalam membangun Provinsi Bengkulu. Saran penulis, pemerintah daerah mengalokasikan dana melalui APBD Provinsi Bengkulu, untuk melakukan pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah yang tersebar di  sembilan  Kabupaten dan Kota.

Suport penelitian, menggali dan membina potensi budaya sebagai asset pembangunan daerah Provinsi Bengkulu. Manfaatkan potensi Sumber daya Manusia (SDM) yang ada, untuk menggali, meneliti dan mengembangkan budaya daerah, melalui tangan-tangan putra daerah. Baik yang berada di daerah maupun di luar Provinsi Bengkulu.

Masyarakat saat ini perlu intensif diajak berdialog, berdiskusi. Tentunya  dengan mengajak para pakar dan narasumber lainnya berdialog secara periodik, agar mendapatkan masukan nilai-nilai budaya daerah Bengkulu secara utuh.

*Pemerhati Sejarah dan Budaya tinggal di Bengkulu/ Alumni Universitas Islam Djakarta.

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.