Kecewa Keluarga Nanang di RSUD M Yunus Bengkulu

Pihak keluarga Nanang memilih merawat ayahandanya dirumah saja.

Bengkulu, SM – Kesal, geram dan pilu campurbaur rasa dialami Nanang dan keluarga. Didorongnya brankar rumah sakit, melintas diantara para medis yang tak menghiraukan kondisi ayahnya yang terbaring lunglai dan membutuhkan pertolongan.

Nanang dan keluarga beranjak pulang kerumah, usai kurang mendapatkan pelayanan medis. Pilunya lagi, saat memutuskan untuk pulang kerumah, pihak rumah sakit tidak ‘cuekbebek’. Tak ada form isian permintaan pulang atas permintaan sendiri yang harus ditekennya. Saat memutuskan pulang, ironisnya, tidak ada pihak rumah sakit yang membantu mendorong brankar.

“Mindahkan gaek dari tempat tidur kamar ke tempat tidur dorong,  idak dibantu sama sekali. Padahal perawatnya santai-santai ajo”, ujar Nanang sedih, Senin (20/11).

Diceritakan Nanang sembari kecewa. Sebelumnya,  ayahanda Sutaryo memang dirawat  Rumah Sakit UMMI Bengkulu. Akhirnya dirujuk  ke RSUD M Yunus. Tapi setibanya RSUD M Yunus Bengkulu jelas Nanang, pelayanan tidak sesuai dengan yang diharapkan pihak keluarga.

“Seharusnya gaek aku ni BPJS Kelas I. Namun ditempatkan di Kelas II. Dengan alasan gaek kito ni bau, karena baru saja operasi bisul di leher. Padahal waktu itu ruang kelas I, 11 A,11B, dan 8A kosong”, paparnya.

Perawatnya juga, saat ayahanda tiba diruangan, tak mau membersihkan bekas operasi bisul. Kata perawat itu bersihkan sendiri. Ditambah lagi  impus sempat macet sekira pukul 3 WIB subuh.

“Kondisi gaek kami pingsan. Mamun perawatnya bilang tunggu siang bae, nunggu perawat yang masuk pagi. Saya paksa dengan nada marah. Saya minta perawat perbaiki impus. Setelah diperbaiki, barulah gaek sadar lagi”, jelas.

Memilih Pulang

Nanang berduka atas pelayanan RSUD M Yunus Bengkulu. Dirinya dengan keluarga tiba di rumah sakit pemerintah ini,  Jumat sore, (17/11) akhirnya dia memilih pulang pada Senin siang, (20/11).

Rasa sesal Nanang bertambah saat tahu tidak adanya dokter saat atahandanya masuk rumah sakit. Selama 3 hari di rumah sakit,  hanya satu kali dikunjungi dokter. Itu pada Senin pagi. Selebihnya orang tua Nanang hanya dirawat oleh perawat dan perawat magang.

Pelayanan perawatnya juga tidak bersahabat dan selalu dengan nada ketus. “Kejadian itu waktu saya minta obat, perawatnya menulis resep, sambil menunjukan muka tak menenakan. Begitu juga saat suntik insulin, saya sempat  minta dicek dulu gula darah, namun tidak dilakukan, tapi  langsung disuntik. Untung saja ayahandanya kuat, kalau tidak,  mungkin la ‘laju’”, kata Nanang.

Saat ini ayahanda Nanang dirawat sendiri oleh keluarga di rumahnya  di Karang Tinggi, Bengkulu Tengah. Nanang sangat menyayangkan pelayanan perawat RSUD M Yunus Bengkulu, hingga akhirnya pihak keluarganya  memilih pulang. Rencananya besok, Selasa, 21 November 2018, Nanang akan mendatangi Direktur RSUD M Yunus Bengkulu, untuk mengadukan masalah yang dialaminya.

“Kalau mati gaek ni biarlah ditangan kami bae Bang. Asal idak mati ditangan perawat tu. Tlonglah Bang perlakuan cak ini bukan kami bae. Pasien sebelah kami juga kesal dengan caro perawat tu”,  Nanang ngedumel. ck

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.