Kedatangan Kedua Bangsa Hyunan ke Bengkulu

Oleh: Benny Hakim Benardie/Dewan Pakar JMSI Bengkulu

Gerbang China Town

Pada  KItab Ramayana  itu dikatakan bahwa “Periksalah baik-baik Javadviva, yang mempunyai tujuh buah kerajaan, yaitu Pulau Emas dan Pulau Perak, negeri yang dihiasi pandai emas”.

Fakta sejarah menunjukkan Bangsa China tiba ke Negeri  Bengkulu sejak Tahun 225-216 sebelum Masehi (sM) atau 147–138 Caka.  Mereka berasal dari Negeri Hyunan (China daratan) dan menggunakan bahasa Mon.

Bahasa inilah yang menyebar keberbagai negeri di Thailand, Birma, Kamboya dan sebagian Korea. Mereka ini pulalah yang pertama kali mendirikan negeri bernama Lu-Shiangshe yang berarti sungai kejayaan atau sungai yang memberi kehidupan / harapan atau sungai emas.

Penduduknya mereka menyebut diri dengan sebutan Rha-hyang atau Ra-Hyang atau Re-Hyang atau Re-jang. Sebuah negeri yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera.

Sebelum pendatang ini tiba (225-216 sM atau 147-138 Caka) di Negeri Bengkulu (Wilayah Bengkulu Utara) sudah  ada penduduk Re-jang yang menghuni di sekitar daerah Lais, Bintunan dan Ketahun. Sementara pendatang baru, tampaknya merupakan generasi penerus  dari penambang yang tiba lebih awal pada abad ke-III sebelum Masehi (sM).

Menariknya adalah ditemukannya mata uang China (Numismatic)    yang bertuliskan Chien Ma berangka tahun 421 Masehi di Bengkulu Utara (Pulau Enggano). Mata uang yang sama juga ditemukan di Criviyaya atau Criwiyaya (Baca: Palembang) dan di Tarumanagara (Baca : Jakarta). Dari kata CHIEN MA inilah muncul kata Cha-Chien (Caci = Uang dalam bahasa Rejang), Mo-Chien (Monce = Uang dalam bahasa Bengkulu Kota), Tha-Chien (Tanci = Uang dalam bahasa Manna).

Seorang bhiksu China bernama Fa-Hien atau Pa-Shien tiba di Nusantara pada Tahun 414 Masehi, dalam rangka lawatannya ke Negeri Seribu Pagoda India, sempat singgah di- Criviyaya (Sriwiyaya) Palembang dan Tarumanagara (Jakarta).

Pulau Khayal

Fa-Hien ini menceritakan tentang adanya Pulau Khayal. Karena dia pernah transit (Singah) di Pulau Enggano, Maladewa (Srilangka) dalam perjalanannya menuju India. Hal yang sama juga diceritakan Tome Pires dalam buku “Suma Oriental” ditulis pada Tahun 1515 dan Pigafetta 1521 menyebutkan, Pulau Enggano dengan kata OCOLORE (Pulau yang dihuni oleh wanita-wanita saja).

Jika ditelaah dari kata Enggano, maka kata ini diambil dari bahasa Mon (Hyunan China daratan) yang artinya rusa bertanduk. Ini menunjukkan bahwa wanita dipulau itu berdandan rambut berkepang (Sanggul) dua yang menonjol keatas, sebagaimana juga menjadi trend pada wanita China pada masa itu.

Sumber lain menyebutkan wanita-wanita dari Maladewa (Srilangka) juga banyak tinggal atau menjadi budak disana. Tentunya kita tidak tau persisnya bagaimana. Tapi cerita Pulau Enggano sempat mendunia menjadi Pulau Khayul. Ada pula yang melukiskan sebagai kerajaan yang hanya diperintah dan dihuni oleh wanita-wanita saja.

Kedatangan etnis India Tahun 264-232 sM, dan etnis China Tahun  225-216 sM ke Nusantara (Pha-mnalayu) khusunya ke Bengkulu dan Banten (termasuk Jakarta), telah membuat goresan sejarah tersendiri pada masyarakat Bengkulu. Etnis China ini datang ke Nusantara (Pha-mnalayu) secara bergelombang, bertahap, bersama dengan datangnya etnis India.

Mereka datang dan menyebar dari Lu-Shiangshe (Bengkulu) ke Negeri Phalimbam (Banten), Negeri Da-ayak (Kalimantan dan Negeri Pone (Sulawesi). Selanjutnya mereka berasimilasi dengan penduduk asli dan pendatang lainnya hingga saat ini.

Seorang pedagang (Khan khaan) India bernama Rafjifni kelahiran Yaffana India Tahun 613 Masehi, dalam sebuah naskah bertuliskan Hindhustan India yang ditemukan pada Tahun 1328 Caka di Madura India menyebutkan,  adanya penduduk etnis China dipesisir barat Negeri Bengkulu. Naskah itu hanya menyebutkan adanya negeri disekitar negeri Lu-Shiangshe seperti Ketahuan, Bintunan, Lais dan Moco.

Di wilayah Lais, Ketaun dan Bintunan (Peta Zaman Belanda) disebutkan, bahwa di daerah ini telah bermukim sebanyak delapan  Kepala Keluarga (KK) etnis China (Cung Kuo Jen).  40 warga etnis China (Chi Au Sen) dan sejumlah  keturunan dari ketutunan etnis China (Chi Au Sen Se Pat Tay), yang aktifitasnya berdagang emas dan hasil bumi.

Mereka rata-rata memiliki keterampilan pandai emas, selain pedagang hasil bumi. Sedangkan penduduk lainnya adalah petani kebun yang makmur.

Berdasarkan laporan Narhuijs pada Tahun 1828, penduduk Kota Bengkulu berjumlah 12 ribu jiwa. Terdiri dari orang Eropa, India, Arab, China, orang pribumi, dan orang-orang dari suku lainnya di Nusantara seperti Bugis dan Madura.

Tujuh belas tahun berlalu (1845), berdasarkan atas cacatan dari  dari Van der Vinne, jumlah penduduk Kota Bengkulu menjadi 10.000 jiwa. Terdiri dari 5.392 orang pribumi. Orang Bengkulu dan orang-orang dari suku lainnya di Nusantara seperti Bugis dan Madura. 4.616 orang asing yang terdiri dari orang Eropa, India, dan Arab; dan 544 orang Cina (Generale Zementrekking, 1845).

Ada Kitab Ramayana yang ditemukan pada Tahun 72 Masehi di Ajoda atau Ayodhya dan sebuah lagi kitab ditemukan di kota Benares (Kota suci di India) menyebutkan, adanya tujuh  negeri dan dua  daerah diantaranya adalah penghasil emas dan batu mulya. Negeri yang dimaksud adalah Lu-Shiangshe (Bengkulu), dan Phalimbham (Banten).

Pada buku Ramayana  itu dikatakan bahwa “Periksalah baik-baik Javadviva, yang mempunyai tujuh buah kerajaan, yaitu Pulau Emas dan Pulau Perak, negeri yang dihiasi pandai emas”.

Tentang negeri Phalimbham dan Lu-Shiangshe kabarnya pulau itu amat subur, tanahnya  banyak mengandung emas, mempunyai ibu negeri bernama  Perak, Pada sebelah barat negeri terdapat sebuah penyeberangan (Yang dimaksud dalam Ramayana sebuah tempat penyeberangan dimaksud adalah Pulau Enggano atau nama lainnya OCOLORE.

Adapun tujuh kerajaan atau negeri dimaksud masing-masing adalah  sebagai berikut :

  1. Phalimbham (Negeri yang berada di Provinsi Banten),
  2. Lu-Shiangshe (Negeri yang berada di Provinsi Bengkulu),
  3. Chalava atau Tarumanagara (Negeri yang berada di Provinsi DKI Jakarta),
  4. Kutei (negeri yang berada di Kalimantan Timur
  5. Phã-mnalä-yû Tulang Bawang di Provinsi Lampung.
  6. Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ (Sriwiyaya) di Provinsi Sumatera Selatan.
  7. Phã-mnalä-yû Crï-Iňdrâpurä Miňangatämvàn di Provinsi Riau.

Jika mengacu kepada berita Ramayana ini, maka tampak jelas, bahwa di Nusantara ini sekurang-kurangnya pada awal tahun Masehi telah ada  negeri. Setidak-tidaknya telah ada tujuh pemangku adat atau kerajaan sebagaimana tersebut diatas.

Tujuh negeri yang diketahui dalam berita Ramayana dimaksud mungkin sekali adalah merupakan ibu negerinya. Tidak tertutup pula kemungkinan masih banyak lagi negeri-negeri kecil yang belum sempat diceritakan dalam berita Ramayana itu. Begitulah sekelumit kecil sisi  sejarah Negeri Bengkulu yang terlupakan.q

      

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.