Kilas Bengkulu Dalam Bahasa

Oleh: Benny Hakim Benardie

Ilustrasi: Perdagangan menciptakan trend bahasa baru/

Bahasa Bengkulu merupakan kesatuan bahasa yang ada di Provinsi Bengkulu. Oleh  karena  itu,  tidak satupun suku yang ada berhak mengatakan, bahwa bahasanya merupakan  bahasa Bengkulu yang paling benar. Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi antara satu dengan lainnya.

Bahasa selalu berkembang, salah satunya  tergantung pada trend bahasa yang digunakan (Bahasa mayoritas yang digunakan atau populer, dapat dikarenakan pengaruh oleh banyak penguasa atau dapat pula dikarenakan pengaruh bahasa komunikasi perdagangan yang banyak menggunakan transaksi dalam bahasa tersebut). Karena itu, perlu ditentukan terlebih dahulu, apa yang kita maksudkan dengan kata “Malayu” tersebut.

Sebagai gambaran umum, rumpunan bahasa yang terdapat dan digunakan di Provinsi Bengkulu antara lain sebagai berikut :

  1. Bahasa Ra-Hyang atau Re-Hyang (Rejang).
  2. Bahasa Enggano (Pulau Perempuan).
  3. Bahasa Lampung.
  4. Bahasa Malayu Ippoh (Muko-muko, Lubuk Pinang, Bantal, Lima Koto, Ketahun, Pasar Bengkulu, dsb).
  5. Bahasa Malayu Lembak (Tanjung Agung, Dusun Besar, Pada Dewa, dsb).
  6. Bahasa Malayu Kotamadya Bengkulu.
  7. Bahasa Malayu Serawai dan Pasemah (Pha-semah) yang penyebarannya meliputi Manna, Tais, Kepalak Bengkerung, Tanjung Sakti, Padang Guci, Kedurang, Kaur, dsb.
  8. Bahasa Malayu Bintuhan.

Tiga komunitas bahasa, yaitu Rejang, Enggano dan Lampung tidaklah termasuk dalam kelompok rumpunan bahasa Malayu yang dikemukakan sebelumnya. Etnik Rejang, Enggano dan Lampung memiliki kelompok rumpunan bahasa tersendiri. Etnik inilah yang merupakan penduduk asli Negeri Bengkulu.

Sedangkan bahasa Malayu datang dan berkembang sebagai bahasa ibu, lebih kemudian. Sangat tidak bijak kalau etnik Rejang, Enggano dan Lampung, seakan tersingkir dari catatan Sejarah Bengkulu. Sementara Malayu yang merupakan etnik dan bahasa pendatang baru, tampil sebagai primadona etnik.

Ada petata petitih lama (Asli Bengkulu)  yang ditulis dalam naskah kuno huruf Arab, Bahasa Bengkulu pada  Tahun 1553 Masehi. Nama penulisnya tidak disebutkan, ditemukan atau rusak dan hilang. Karena sewaktu ditemukan naskah tersebut ini telah lusuh (Lapuk dan sebagian telah rusak ditelan usia). Hanya tahun penulisan yang masih nampak. Naskah ini ditemukan di Provinsi Banten Tahun 1994, berbunyi dalam alih bahasa lebih kurang sebagai berikut  :

Endak Möran pa-ï Lopak,

Hendak tidü pa-ï kebiduk,

Dihulu tempek apak (bapak),

Dimuarë tempek induk,

Disitu melepekan niat.  (Naskah kuno ini nampaknya merupakan himpunan nyanyian anak laut).

Kata-kata yang terkandung didalamnya memiliki filosofis yang tinggi bermakna: “Kalau hendak mencari kehidupan yang lebih baik pergilah ke kota. Kalau hendak istirahat, bersantai dan menenangkan pikiran kembalilah berkumpul di tanah kelahiran, dan sedekahkanlah sebagian harta yang kamu peroleh di negeri orang,  pada negeri  ibu tercinta  Bengkulu”.

Ada empat kata-kata Bengkulu yang kita peroleh dari petata petitih ini, yaitu kata  Möran, pa-ï, Lopak, dan tidü sedangkan kata lainnya sepeti kata biduk, hulu, muarë (o) diambil dari bahasa Malayu. Mungkin masih lebih banyak lagi kata-kata Bengkulu, yang penulis sendiri belum ketahui.

Berdasarkan penelitian etnolinguistik penulis, dalam perbandingan bahasa asli Kota Bengkulu: Bahasa Malayu Bengkulu memiliki keunikan tersendiri. Banyaknya penggunaan kata-kata yang berakhiran  ö, ë, ï,  bukan disebabkan oleh pengaruh Bahasa Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dan tidak pula karena  dipengaruhi bahasa Eropa, Inggris dan Belanda. Tetapi dipengaruhi bahasa Palung, Khmer, Campa dan Khasi rumpunan bahasa Mon (Hyunan Cina).

Peta Klasik sebutkan nama Bengkulu.

Empat bahasa di Daerah Provinsi Bengkulu yaitu Bahasa Malayu Kota  Bengkulu, Bahasa Lampung, bahasa Rejang dan Enggano dapat dilihat sebagai berikut :

 Bahasa  Kota  Bengkulu 

No Bhs Bengkulu Bhs Indonesia
1. Sayö Saya
2 Ambo Hamba
3. Jongkong Perahu besar
4. Sampan Perahu kecil
5. Biduk Perahu kecil
6. Selodang Perahu kecil
7. Pukek Pukat, Jaring
8. Bengkuk Batang
9. Kemano Kemana
10. Serayo Disuruh
11. Apo Apa
12. Peram Menyimpan buah-buahan hingga masak dan sebagainya.
13. Puan Susu
14. Lennya Becek
15. Gedang Besar
16. Ren-ca Campur
17. Tempek Tempat
18. Ka-u Engkau
19. Kara Kelapa
20. Ni-ur Kelapa
21. Bulek Bulat
22. Pandir Pandir
23. Lagak Ke-aku-an (Egois), sifat yang melam- paui batas kewajaran (kata kiasan).
24. Pa-i Pergi
25. Li-yek Lihat
26. Ne-ngok Tengok
27. I-bo Iba
28. Batang air Sungai
29. Lumat Hancur / Luluh lantak
30. Moran Memancing
31. Joran Pancing
32. Lopak Lubuk
33. Pa-i Pergi
34. Pelesir Piknik / Jalan-jalan
35. Segalo Seluruh
36. Beri Kasih
37. Tekelök, Ti-dű Tidur
38. Siko Sini
39. Situ Menunjukkan jarak tempat
40. Lanang Laki-laki
41. Betino Perempuan
42. Senai-senai Petatah petitih, Pantun, Syair, Sajak
43. Cerano Tempat sirih
44. Menindai Menjenguk, Meninjau sambil melihat-lihat, Mengamati.
45. Rubo-rubo Buah tangan, Oleh-oleh
46. Jolok Gelar
47. Menda Tamu, Orang jauh
48. Melayok Terbang melayang
49. Mendudu Melangkah cepat
50. Co-gok Duduk diam
51. Sepalis Perbuatan atau tingkah laku yang berlebih-lebihan.

 

Bahasa Lampung Pesisir (Peminggir) dan Bahasa  Jawa Cikoneng Provinsi Banten, juga digunakan

sebagai bahasa ibu di Bengkulu 

No Bhs Lampung Bhs Indonesia
1. Iya / Hiya Dia
2. Dija Disini
3. Saka Lama
4. Nambi Kemarin
5. Dipa Kemana
6. Niku Kamu
7. Disan Disini (Agak jauh)
8. Tian Orang ke-3
9. Apî Güaî Mo Apa kerja kamu
10. Inji / Hinji Ini
11. Ülun Orang jauh (Tamu jauh)
12. Rëpa Bagaimana
13. Ani Katanya
14. Cawa Bahasa / Bicara
15. Mawek Tidak
16 Bïngï Malam
17 Dacok Dapat
18 Makdacok Tidak dapat
19 Rätong Datang
20 Küti Kamu
21 Midor Jalan-jalan
22 Hürěk Hidup
23 Pedom Tidur
24 Ha-mö Tempat mana
25 I-wa Ikan
26 Ű-nyin Seluruhnya
27 Ampai Baru
28 Jemoh Besok
29 Mengan Makan
30 Rani ji Hari ini
31 Rani Nambi Hari kemarin
32 Pesaka rätong Kapan datang
33 Radu repa saka dija Sudah berapa lama disini
34 Rãdu  saka Sudah lama
35 Keňi Kasih
36 Pîrä Berapa
37 Äkuk Ambil
38 Kãna Nanti
39 Kãnaphäi Nanti dulu
40 Nusa Pulau
41 Larang Pantang
42 Wëk api Ada apa
43 Bela Habis
44 Miwang Menangis
45 Jelma Tamu jauh
46 Haa-mo Dari mana kamu
47 Bakas Laki-laki
48 Bebai Perempuan
49. Muli Anak Gadis
50. Maranai Pemuda
51. Sampan Perahu

 

Bahasa Daerah Rejang Provinsi Bengkulu 

No Bhs Rejang Bhs Indonesia
1. Si Dia
2. Piyo Disini
3. An Lama
4. Lebeak Kemarin
5. Moepe Kemana
6. Ko Kamu (untuk sebaya)
7. Doloe Disini (Agak jauh)
8. Kumu Orang ke-3
9. Gen Kerjo Nu Apa kerja kamu
10. Dio Ini
11. U-ak Orang jauh (Tamu jauh)
12. Ka’ro Bagaimana
13. Nadea’ Ne Katanya
14. Nadea’ Bahasa / Bicara
15. Coa Tidak
16 Kelemen Malam/gelap
17 Dapet Dapat
18 Coa,Dapet Tidak dapat
19 Te-ko Datang
20 Kumu Kamu (Untuk Orang Yang lebih tua)
21 Meto-Meto Jalan-jalan
22 Idup Hidup
23 Tidu-a Tidur
24 Na-Ipe Tempat mana
25 Kan Ikan
26 Kutte Seluruhnya
27 Bla-u Baru
28 Me-en Besok
29 Embuk Makan
30 Bilaiyo Hari ini
31 Bilai Lebeak Hari kemarin
32 Tengean Teko Kapan datang
33 Bie’an Ko Pio Sudah berapa lama disini
34 Bie’an Sudah lama
35 Kleei Kasih
36 Kedau Berapa
37 Kemo’ Ambil
38 Be Nanti
39 Be Kilea’ Nanti dulu
40 Pulei Pulau
41 Patang Pantang
42 Ade Jano Ada apa
43 Cigai Habis
44 Ngi-ndoi Menangis
45 Tamu Uak Tamu jauh
46 Kundei Ipe Ko Dari mana kamu
47 Smanei Laki-laki
48 Slawei Perempuan
49. Semulen Anak Gadis
50. Tun Uai Pemuda
51. Kepea’ Perahu

 

Bahasa Daerah Enggano Provinsi Bengkulu 

No Bhs Enggano Bhs Indonesia
1. Ki Dia
2. Kikitëk Disini
3. Buër Lama
4. Bahaeb (m) Kemarin
5. Ökahaiyah Kemana
6. Ök Kamu (untuk sebaya)
7. Mimikürtëk Disini (Agak jauh)
8. Akaeak Orang ke-3
9. Yahkaryaeb Apa kerja kamu
10. Ěiek Ini
11. Kaeak mimi Orang jauh (Tamu jauh)
12. Kiknën Bagaimana
13. Diÿu Katanya
14. Päna Bahasa / Bicara
15. Keek Tidak
16. Kapëpë Gelap
17. Daköah Malam
18. Naek Dapat
19. Keek inaek Tidak dapat
20. Yaem Datang
21. Keke Jalan-jalan
22. Keud Hidup
23. Kü-wek Tidur
24. Kikiyah Tempat mana
25. Iyai  Ikan
26. Kiar Seluruhnya
27. Ka-ü Baru
28. Nok-man Besok
29. Kanö Makan
30. Häped dop Hari ini
31. Bahaeb Hari kemarin
32. Koan yaeb Kapan datang
33. Apiahyabaer Sudah berapa lama disi
34. Hobër Sudah lama
35. Ka-a Bahaok Kasih
36. Apiyah Berapa
37. Naek Ambil
38. Naan Nanti
39. Nahemb Nanti dulu
40. Doop Pulau
41. Purih Pantang
42. Kikiyah Ada apa
43. Kana-ï Habis
44. Ku-wëh Menangis
45. Kaah mimi Tamu jauh
46. Ök-kuyah Dari mana kamu
47. Man Laki-laki
48. Hied Perempuan
49. Pa-Hied Anak Gadis
50. Pa-Man Pemuda
51. Dö-ha Perahu
52. Arek kano Mari makan
53. Kano Asap
54. Käeb Jaring
55. Iyemb Pancing
56. Hiü-po Kelapa

 

Robert von Heine Geldern, seorang sarjana ilmu purbakala berkebangsaan Austria,  mengadakan penelitian tentang “Tanah asal bangsa Austronesier” mengatakan, bahwa nenek moyang bangsa Austronesier selama-lamanya tinggal di daratan Asia Tenggara. Mereka ini mula-mula berasal dari daratan Cina  kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi (sM).

Kebudayaan beliung batu telah dikembangkan di Cina kira-kira pada 2000 tahun sebelum Masehi. Bangsa yang memiliki kebudayaan ini bergerak ke Asia Tenggara,  sebelum bangsa Aria menduduki Punjabi di India Utara, dan beliung batu persegi panjang ini banyak kita temukan di Hyunan dan Kansu.*

John Crawfurd pada tahun 1848 dalam bukunya “On the Malayan and Polynesian languages and races”, meneliti kata-kata yang termuat dalam berbagai kamus mengenai bahasa-bahasa di Austronesia. Dia mencoba membandingkan antara satu dengan yang lainnya. Menurut J.Crawfurd dari 8.000 kata Malagasi terdapat 140 kata yang dapat dipulangkan pada kata Jawa dan Malayu.

Demikian juga dari 4.560 kata Selandia Baru terdapat 103 kata yang serupa dengan kata Jawa dan Malayu, dan dari 3.000 kata Marquesas terdapat 70 kata yang sama dengan kata Jawa dan Malayu. Sementara dari 9.000 kata Tagalog hanya terdapat 300 kata yang dapat dipulangkan kedalam kata Jawa dan Malayu. Sehingga J.Crawfurd mengambil suatu kesimpulan bahwa bahasa-bahasa itu tidak menunjukkan banyak kesamaan. Oleh karena itu, tidak masuk dalam satu rumpun bahasa.

Koentjaraningrat memberikan komentar dalam bukunya Beberapa metode Antropologi; Toh Crawfurd tak dapat disalahkan katanya, karena dalam waktu itu beliau tak dapat tahu bahwa persamaan kata-kata yang termasuk basic vocabulary dalam dua bahasa, cukup untuk membuktikan kekeluargaannya. Dari lima bahasa masing-masing yakni bahasa Madura, Lampung, Bali, Bugis, Kayan, dan Kisa J Crawfurd masing-masing mengambil 1.000 kata.

Dari 1.000 kata Madura kedapatan 675 kata Melayu, yang 325 asalnya dari bahasa lain: 1.000 kata Lampung kedapatan 455 kata Melayu, 545 dari bahasa lain: dari 1.000 kata Bali kedapatan 470 kata Melayu, yang 530 dari bahasa lain, dari 1.000 kata Bugis kedapatan 326 kata Melayu, yang 674 dari bahas lain: dari 1.000 kata Kisa kedapatan 114 kata Melayu, yang 944 dari bahasa lain. Dari penyelidikan kata ini yang cocok dengan bahasa Melayu kira-kira 60 %.

 *Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu/Alumni Universitas Islam Djakarta.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.