Membangun Ibukota Provinsi Butuh Peran Pemerintah Pusat

Wawali Bengkulu Dedy Wahyudi.

Bengkulu, SM – Membangun Ibukota Provinsi Bengkulu ini, tidak dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Bengkulu saja. Butuh kerjasama berbagai pihak. Termasuk peran pemerintah pusat.

Ini di tegaskan Wakil Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi,  yang tampaknya sudah  gereget, ingin menjadikan Kota Bengkulu ini setara dengan kota-kota lainnya yang ada di Indonesia.  Apalagi Bengkulu  merupakan negeri leluhurnya keluarga Ibu Fatmawati Soekarno.

Kenapa butuh kerja sama? Karena di Ibukota Provinsi Bengkulu  ini,  terdapat jalan kota,  nasional dan provinsi. Semua itu  harus dibangun, dilebarkan. “Apalagi ini  keluarga besar Ibu Fatmawati  lagi perhatian pada Bengkulu. Kita minta suport dari mereka,  untuk pelebaran jalan dan buat waduk, guna meminimalisir banjir, saat musim penghujan”, papar Wawali Dedy.

Pelebaran jalan yang dimaksud Wawali, seperti yang pernah disampaikannya pada berbagai kesempatan, untuk  pelebaran dari Bandara Fatmawati hingga Tugu Pers daerah Kampung Cina Kota Bengkulu.

“Sebenarnya kita lebih butuh itu.  Tenggok negeri orang! Jalan protokolnyo lebaaar, kereno jalan nasional. Malah untuk Ibuota Provinsi di negeri orang,  ada jalan layangnyo di tengah kota. Di Kota Palembang ado LRT”, jelas Wawali.

Membangun Ibukota Provinsi kata Wawali, butuh suport dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, maka Wawali menghimbau masyaraat Kota Bengkulu untuk mengaungkan hal ini, untuk Kota Bengkulu lebih maju. Ini juga sudah dirinya  sampaikan saat rapat dengan Yayasan Fatmawati.

“Sudah pernah saya tegaskan. Biar masyarakat Bengkulu merasa memiliki Ibu Fatmawati, maka selain pembuatan patung atau monumen Ibu Fatmawati, tolong bantu lebarkan jalan Ibukota Provinsi ini”.

Arah Monumen

Menyingung soal dibangunnya monumen Ibu Fatmawati di Tugu Simpang Lima Ratu Samban, Wawali Dedy menyambut baik, Meskipun awalnya, dirinya paling keras menolak untuk di letakkan monumen Ibu Fatmawati di Simpang Lima Ratu Samban.  Sempat disarankannya cukup di Bandara Fatmawati saja, seperti yang ada di Bandara Sultan Hasanudin Makasar, Sulawesi Selatan ada monumen Sultan Hasanudin. Namun karena kita ingin perhatian  yang nyata, biar wajah Kota Bengkulu berubah, maka diletakkanlah di Simpang Lima Ratu Samban.

Persoalanya, nanti tehnis peletakan patung itu harus baik. Monumen atau patung itu nantinya menghadap kemana? Ke Kelurahan Anggutkah? Bandarakah? Atau menghadap kearah Kampung Cinakah? Hal inilah yang tidak pernah dibicarakan oleh pemerintah Provinsi  Bengkulu ke peemerintah kota Bengkulu. (ck)

 

 

 

 

 

 

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.