Mengenang Dua Kapal, Bencoolen dan Benkoelen

Puing-puing SS Bencoolen di Pantai Summerleaze, Bude sekitar bulan Oktober 1862. . photo: © Bude: The Castle Heritage Centre.

Sejarah masa lampau Negeri Bengkulu ini seakan telah dilupakan orang. Kesinambungan  gema dan  denyutan perjalanan panjang  sejarah anak negeri, seakan sirna ditelan massa.

Penelitian sains seakan terhenti dan berhenti.  Tak ada yang perduli. Negeri ini bernama tanpa catatan sejarah lampau.  Kering kerontang  akan penelitian dan kepedulian.  Kemanakah anak negeri maritim ini?

Sebelumnya penulis  sempat memngatakan, ada sebuah kapal  laut  kenangan, yang sedikit orang saja tahu. Nama Bengkulu, Bencoolen, Benkoelen kini Provinsi Bengkulu ini,  pernah dicuatkan dan  menjadi catatan sejarah di dunia kemaritiman.

Meskipun Thalu atau Talo yang kini Kabupaten Seluma,  sebelumnya  pernah menjadi pusat industri kapal nusantara  di abad ke-15 Masehi.

Di The Castle, The Wharf, Bude, Cornwall, Inggris, ada museum  mengkisahkan  tentang bankai kapal Bencoolen yang kandas di Pantai Summerleaze pada Tahun 1862. Ini jauh sebelum Kapal laut uap Benkoelen  yang dibuat bulan November 1921. Kapal uang kargo steamship (ss atau uap) Benkolen itu  berbendera   Batavia / Netherlands East Indies, milik N.V. Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM).

Kepala boneka yang ditemukan pada Kapal Kargo Bencoolen.

Naas di Tahun 1942, Kapal ss Benkoelen itu  tengelam di Laut Jawa, dekat Bawean. Satu torpedo dari kapal selam Jepang berhasil meledakkan dan mengkaramkan  Kapal SS Benkoelen yang kala itu sedang memuat garam dari Semenep, Pulau Madura. Rencananya menuju daerah Cirebon, Jawa Barat.  Akibatnya tiga  awak kapal hilang ditelan laut Jawa tanpa bekas.

Tidak untuk Kapal Bencoolen,  dimana puing kapal berperan dan mewarisi  manfaat bagi masyarakat setempat.   Masyarakat di pantai utara Cornwall, beberapa mil dari perbatasan Devon, di kota tepi laut Bude, Inggris, seperti di ceritakan Ralph Gifford (20 Juni 2011).

Kota Tepi laut Bude,  awalnya tumbuh karena pelabuhannya yang kecil, yang  menawarkan para pelaut untuk perlindungan terhadap Atlantik Utara, sebagai kawasan trasit,  ketika gelombang laut sedang mengila.

Selama berabad-abad, para penduduk Bude telah menyaksikan lebih dari sekedar bagian kapal yang  karam. Salah satu kapal naas itu bernama  Bencoolen.  Kapal Kargo Bencoolen  kala itu berlayar dari Liverpool ke Bombay pada 21 Oktober 1862,   Kapal kargo  Bencoolen dengan berat penuh, 1.415 Ton itu,  mengalami kesulitan ketika bertemu dengan angin kencang Barat Barat Laut (NNW).

Gagap, awak kapal  mematahkan tiang utamanya dan meninggalkan Kapten Kapal Bencoolen  yang kala itu kapal sudah tidak dapat dikemudikan. Sekitar pukul 3 sore, Kapal Kargo Bencoolen mendarat di lautan besar,  di pantai Summerleaze, Bude.  Hanya beberapa meter dari tempat aman.

Gelombang laut terlalu besar  untuk meluncurkan sekoci. Brigade roket segera mulai berupaya penyelamatan.  Upaya penyelamat itu akhirnya sia-sia.

Pusat Warisan Budaya Bude The Bude Castle dulunya adalah rumah dari Sir Goldsworthy Gurney penemu Kereta Uap..

Dalam  kutipan di bawah ini, dari 1881’s A Picturesque Guide to North Cornwall, mencatat:

“Dalam lima menit, peralatan roket mulai bekerja; Roket pertama jatuh pendek, yang berikutnya gagal, yang ketiga jatuh di atas kapal,  dimana Awak kapal yang putus asa meringkuk di atas kotoran.  Seorang laki-laki yang bergegas maju dan mencengkeram garis,  dicuci ke kapal dengan itu di tangannya. Sebuah roller besar kemudian mematahkan alat yang membuatnya tidak berguna”.

Ekstrak dari West Briton pada 14 November 1862 lebih lanjut menyoroti tragedi tersebut:

“Dalam dua jam dari saat dia menyerang, dia berada dalam fragmen, dan 24 orang tenggelam di dalam selat pemecah gelombang di Bude. Dari 33 awak, hanya enam yang diselamatkan hidup-hidup, dengan enam lainnya ditarik dari laut mati. Sisa kru tenggelam dan tewas”,

Berbeda  dengan  Kapal Steamship Benkoelen 1921 buatan Belanda yang hanya tiga awak yang di telan laut Jawa, dan puingnya pun pupus ditelan dalamnya laut. Hanya jasa pengangkutan garam saja yang selalu di ingat tentang kapal buatan Belanda itu.

Untuk Kapal Kargo Bencoolen, puing kapal  telah menjadi legenda dalam sejarah Bude. Bukan hanya karena tragedi yang ada, tetapi karena puing banyak kapal itu sendiri digunakan untuk membangun kota.

Kayu yang dihancurkan dari lambung itu diselamatkan dan digunakan sebagai kayu,  untuk membangun rumah dan bengkel. Membantu wilaya Bude menjadi makmur di akhir abad ke-19.  Tidak hanya itu,  kisah  Kapal Kargo Bencoolen itu  di lekatkan pada  nama jalan, jembatan, rumah umum dan sejumlah rumah yang ada di sekitar  wilayah  Bude.

Kini catatan history itu  ada di Museum Bude, yang  terletak di Castle di Muara Sungai Neet,  menghadap ke pantai di arah tempat Kapal Kargo  Bencoolen itu  kandas.  Dalam koleksi museum terdapat koleksi  kepala boneka,  kapal – pulih dan dilestarikan setelah cerita  itu dikenang,  termasuk potongan kayu yang dikumpulkan dari pantai.

  • Benny Hakim Benardie, Wartawan Bangkotan tinggal di Bengkulu Kota

 

You might also like
1 Comment
  1. Rackey says

    Ahli sejarah atau budayawan hanya sebatas gelar akademik tanpa di dukung dng upaya lebih sebagai bergelar ahli dan tahu. . sejarah.
    Kebyakan tahu sejarah tapi tdk mengerti apalagi memaknai.
    Tersisa org yg tahu dan mengerti… Namun diabaikan. . Maka sejarah selamanya akan terkubur ..tpi hrs sdr ingat.. sejarah dn keasliannya tdk pernah mati.
    Tugas negara (pemimpin) menemukan org ahli sejarah yg kini tengah terkubur. Guna peradaban tinggi dunia di negeri ini kembali berjayA.
    Sahlam #adhipati e bungkukulu

Leave A Reply

Your email address will not be published.