Menguak Kabut Histoculture Negeri Bengkulu (5)

Oleh: Benny Hakim Benardie

Wilayah Provinsi Bengkulu saatt ini. foto net

Kerancuan akan penulisan sejarah, tidak mustahil terjadi pada sejarah Negeri Bengkulu yang diambil dari babat, kronik-kronik yang kurang berkompeten sumbernya. Ada kepentingan pribadi atau kelompok yang ditarik-tarik, agar  terhubung ‘garis birunya’.

Terlepas dari kesalahan dan kepentingan, para penulis sejarah terdahulu perlu mendapat apresiasi. Itu lebih baik dari pada tidak berbuat sama sekali.

Sebelumnya sudah kita sebutkan soal  Fathahillah  Khaan  al Pasee sempat singgah dibandar Bengkulu  Tahun  1521 Masehi  yang kemungkinan besar itu berada di Muara Bengkulu atau Negeri Talang Pauh. Ini  akan menguraikan  Kerajaan kecil Bengkulu yang di pimpin Ratu Agung,  raja kerajaan kecil pertama,  ayahnya Putri Gading Cempako.  (Fathahillah  Khaan  al Pasee yang dikenal Tugus Angke alias Sultan Maulana Syarief  Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati yang dimakamkan di Gunung Sembung Cirebon).

Keberadaan Kerajaan kecil di Negeri Bengkulu ini, ada beberapa pihak mencoba  mengkaitkan  dengan Kerajaan Majapahit  masa 1293 -1500 Masehi. Dihubungkanlah dengan  kedatangan  empat orang Bhiksu dari Kerajaan Majapahit yaitu, Biku Sepanjang Jiwo. Biku Bembo. Biku Bejenggo dan Biku Bermano.  Para Biku iniah dikatakan memerintah di Negeri Rejang Empat Pertulai pada Tahun 1460 Masehi.

Hal diatas dibantah Prof  DR H Abdulah Sidik  dalam bukunya Sejarah Bengkulu 1500-1990. Para  Biku itu bukan datang dari Kerajaan Majapahit, tapi berasal dari Kerajaan Melayu. Ini tersebut  dalam Syair  Negarakertagama.

Bila benar empat Raja Biku yang memimpin Negeri Rejang Empat Petulai itu dari Kerajaan Majapahit Tahun 1460, maka dapat dipastikan mereka datang dari masa suram pemerintahaan Raja Girisawardhana  Tahun 1456- 1466 Masehi atau Raja Singharwikramawadhana Tahun 1466- 1478  Masehi. Kerajaan Majapahit runtuh Tahun 1478 Masehi.

Sementara pada Tahun 1460 Masehi, pelabuhan atau bandar di pesisir barat Pulau Sumatera tercatat sedang ramainya dikunjungi oleh pelayaran  asing untuk berniaga. Kala itu adalah Bandar Indrapura dan Bandar Bengkulu. Penulis tidak menemukan data, apakah saat itu Kerajaan kecil Bengkulu merupakan vasal Kerajaan Indrapura, yang ada sejak abag ke-9 Masehi

Fathahillah di  Negeri Bengkulu

Negeri Bengkulu banyak disebut dalam babat Banten, Cirebon, Jakarta, Tanah Sunda, Palembang dan Babad Tanah Pasee (Aceh). Gujarat India Ahmad Ghulam Khaan dalam perjalanannya ke Cirebon, Tahun 1539 Masehi, hanya sedikit menceritakan Negeri Bengkulu, saat Fathahillah singga ke Bandar Negeri Bengkulu, 1521 Masehi.    

Fathahillah singgah di Negeri Bengkulu, hanya saja tidak disebutkan petunjuk keberadaan kerajaan apa kala itu, pada 7 Jumadilawal 927 Hijriah atau  1443 Caka  atau 1521 Masehi. Persinggahan itu terpaksa singgah ke Bandar Bengkulu, akibat cuaca dan kondisi laut ekstrim. Karenanya tidak memungkinkan melanjutkan ditengah angin barat berhembus.

Ulama besar Fathahillah bersama awak kapal Jungnya  singgah selama 16 hari, sembari mengisi persediaan makanan. Sela itu mereka dibantu oleh anak negeri berupa beras dan ternak sebagai bekal menuju Kesultanan Banten.

Bekas pemondokan Fathahillah dan awaknya inilaa oleh anak negeri disebut dengan daerah Pondok Aceh, Bengkulu Tengah saat ini. Untuk daerah Pondok Aceh yang berada di Pulau Baii, Desa Kandang Kampung Melayu Kota Bengkulu, itu merupakan pondok peninggalan Laskar Aceh ada saat pemerintahan Sultan Iskandar Muda datang ke Negeri Selebar. Ini juga di sebutkan dalam beberapa naskah kuno.

(Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu, Alumni Universitas Islam Djakarta)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.