Menguak Kabut Histoculture Negeri Bengkulu (6)

Oleh: Benny Hakim Benardie

Pantai Bengkulu saksi diam sejarah panjang anak negeri .

“Tinggilah Tebing Sukomerindu, Tempek Bejalan Yo Tuan Rejang Selubu. LieklLah Liek Oi Negeri Bengkulu, Tanah Famili Perlu Disubuk” (Syair Anak Ikan)

Dalam menelusuri kembali matarantai Sejarah Negeri Bengkulu tidaklah mudah. Selain soal rasa cinta dan tanggungjawab sebagai anak negeri, sulitnya mencari, menggali  fakta dan data peninggalan sejarah masa lampau yang ada. Namun bukan berarti sejarah yang ada tidak dapat dikuak, diungkap dan ditelusuri kembali.

Dalam bebeapa literatur tentang Negeri Bengkulu menyebutkan adanya kerajaan kecil bernama Sungai Serut. Kerajaan ini diperintah oleh seorang penguasa, Raja (Ratu) Agung yang berasal dari Kerajaan Islam Kesultanan Banten. Literatur kuno lainnya menyebutkan, Ratu Agung itu merupakan putera kedua, Sultan Mauana Hassanudin, penguasa Negeri Banten.

Dalam babad dan kronik-kronik Jakata mencatat keberadaan Ratu Agung yang juga disebut  Ratu Dewata, salah seorang pewaris tahtah Kesultanan Banten. Sebagai catatan pengingat,  bahwa pewaris tahta belum tentu keturunan langsung dari raja.

Ratu Agung memeintah Jakata 940 – 950 Hijriah atau 1535 – 1543 Masehi mengantikan penguasa kesultanan vasal Banten, Ratu Sam’iam (Sami’nan) 918 – 941 Hijriah atau 1512 -1535 Masehi.

Raja Bengkulu

Setelah lengser, Ratu Agung menjadi Raja (Akuwu) di Negeri Bengkulu. Sayangnya tidak ada sumber yang pasti, kapan awal pemeritahaan Ratu Agung itu berkuasa.  Termasuk nama kerajaan kecil yang dipimpinnya. Benakah keajaan yang dimaksud Keajaan Diatas Angin ataukah Kerajaan Sungai Serut?

Pendapat lain mengatakan, kerajaan itu adalah Kerajaan Sungai Lemau. Pendapat terakhir menyebutkan kerajaan itu adalah Kerajaan Selebar, yang kini berada di Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu.

Dalam beberapa naskah, temasuk peta Tahun 1618 – 1740 Masehi disebutkan nama Negeri Selebar. Namun dalam peta pelayaan Tahun 1411 Masehi, nama Negei Seleba itu tidak pernah disebutkan. Lain halnya dengan nama Sungai Serut. Yang hanya disebutkan dalam kronik Bengkulu yang berkaitan dengan Ratu Agung. Nama Sungai Serut juga disebutkan sebagai Kerajaan Diatas Angin, sebagaimana disebutkan dalam Babad Tanah Sunda, Babad Sarabon (Cirebon) dan Babad Banten.

Kerajaan Diatas Angin itu sendiri  bukanlah nama keajaan, melainkan hanya untuk menunjukan letak kerajaan kecil itu berada pada bagian utara dari sisi dari tiga kerajaan yang disebutkan diatas. Pada zaman itu para pelaut dan petani hanya dapat menunjukan tiap posisi sesuai arah mata angin.

Biasanya para pelaut atau petani kala itu, menunjukan arah laut untuk  arah bagian Barat. Menunjuk berlabuh, darat atau gunung untuk arah Timur. Arah Selatan dihunakan istila bumi atau  dalam.  Kata angin atau diatas angin inilah untuk menunjukan arah Utara, seperti menujuk letaknya kerajaan kecil yang di pimpin Ratu Agung tersebut.

Untuk sebutan Kerajaan  Sungai Lemau itu sendiri, baru muncul pada masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda menyerang Kerajaan kecil Bengkulu pada Tahun 1607 – 1636 Masehi.

(Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu, Alumni Universitas Islam Djakarta)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.