Menguak Kabut Histoculture Negeri Bengkulu (7-Tamat)

Oleh: Benny Hakim Benardie

Ilustrasi pelayaran kemaritiman Negeri Bengkulu. net

“Sebutan Kerajaan  Sungai Lemau baru muncul pada masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda menyerang Kerajaan kecil Bengkulu pada Tahun 1607 – 1636 Masehi”.

Keberadaan  Kejaaan Sungau Lemau hanya diceritakan dalam beberapa kronik. Dalam peta kuno yang diamati, tidak tesebut nama kerajaan itu. Hanya saja, Ratu Agung disebutkan penah memerintah sebagai raja di kerajaan kecil Bengkulu.

Hal ini sangat menarik untuk ditelusuri riwayatnya. Paling tidak memperkaya khasanah kepustakaan dan wisata sejarah Provinsi Bengkulu. Meskipun dalam catatan sejarah, tidak disebutkan tahun atau masa pemerintahannya, siapa yang menunjuk atau menobatkannya.

Dimanakah makan Ratu Agung itu? Dalam bebeapa tembo bengkulu yang ditemukan menyebutkan makam Raja Bengkulu itu disemayamkan di Bengkulu Tinggi, Uota Kota Bengkulu. Makam ini dikenal dengan sebutan Keramat Batu Manjolo.  Hasil pengamatan penulis, tak menemukan  adanya pemakaman seoang raja atau tokoh masa itu.

Dalam kronik Tanah Sunda, Banten dan Jakarta menceritakan, Ratu Agung alias Ratu Dewata penah memerintah Jakata yang merupakan vasal Banten, temasuk Bengkulu. Ratu Agung sempat  ‘meng(di)asingkan’ diri ke Negeri Palimbam, Kota Palembang saat ini dan wafat disana. Ini mengingat  adanya keeratan hubungan historis dan religi antara Kerajaan Palembang dan Kerajaan Banten.

Soal wafat dan dimakamkan dimana Ratu Agung ini ada beberapa pendapat. Selain pendapat di Pemakaman Raja-Raja Palembang, juga ada pendapat dimakamkan di pemakaman Raja-Raja Banten. Temasuk di pemakaman Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung, Cirebon. Ini kita serahkan pada peneliti penulis untuk mencari kebenaran sesuai fakta historis yang ada. Hal ini baik, agar generasi berikutnya tak tejebak mana makam sebenarnya dan yang mana makam petilasan.

Ratu Agung Lengser      

Tidak ada keterangan pasti yang menyebutkan, apakah Ratu Agung itu diasingkan atau mengasingkan diri ke Palembang pasca lengser.

Bia diperhatikan dari psikologi sosial kala itu,  kemungkinan besar Ratu Agung lengser akibat pressure dari pedagang Belanda di Banten yang tegabung dalam  Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau disingkat VOC) .

Saat itu petengahan abad ke-16, perdagangan di Banten di kuasai Belanda. Dugaan itu dipekuat dengan kedatangan  ekspedisi kerajaan Belanda petama Tahun 1595, Masehi yang dipimpin Cornelis de Houtman.  Mereka menguasai wilayah penghasil rempah di nusantara.

Teakhir, penulis inginmengingatkan kembali sebagai tnogak sejarah, sepeti di ceritakan dalam babat dan kronik Tanah Banen dan Jakarta bahwa Ratu Agung alias Ratu Dewata yang penah memeintah di Negeri Bengkulu itu, setelah lengser dari Kesultanan Kalapa (Jakarta), Tahun 941-950 H atau 1535-1543 M.

  • Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu, Alumni Universitas Islam Djakarta
You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.