Menjaga Benteng Malabero, Sisa Terakhir Situs Bersejarah

Fort  Marlborough merupakan benteng kedua yang dibuat  pemerintah Inggris. Sebelumnya Fort York  (1685) berdiri di dataran tinggi, penduduk pribumi menyebutnya  Bukit, daerah Pasar Bengkulu. Kini situs Fort York terabaikan, separuh benteng itu tergerus oleh sungai yang melintas di tepiannya.

Fort Marlborough oleh penduduk setempat disebut Benteng Malabero, dibangun di daerah Ujung Karang (Carrang) . Jaraknya kala itu 500 meter dari perkampungan orang Tionghoa. Nama yang membumi itu dipilih  oleh  Deputi Gubernur ke-18  Joseph Collet (1712 – 1716 ) untuk menghormati John Churchill, seorang komandan dan pahlawan perang ternama Inggris, bergelar  Duke of Marlborough.

Benteng ini baru yang dibangun oleh Joseph Collet  pada Tahun 1714 dan pembangunan Fort Marlborough selesai seluruhnya pada Tahun 1741. Dibangunnya fort Marlborough kala itu mengingat kondisi Fort York kurang perawatan. Bangunan benteng dan barak-barak  semakin rapuh. Saat hujan tiba membasahi ruangan-ruangan tempat tinggal para penghuni.

Disis lain, kondisi bahan makanan yang dikonsumsi oleh tentara Inggris sangat buruk,  sehingga disiplin para prajurit dan pegawai benteng menjadi turun. Berbagai macam penyakit, umumnya disentri dan malaria, menyebabkan sebagian besar prajurit garnizun tidak dapat melaksanakan tugas mereka.

Karena itu, Joseph Collet  sebagai deputi gubernur dan pimpinan Garnizun di Bengkulu pada tahun 1712, menarik kesimpulan bahwa Fort York membutuhkan perbaikan-perbaikan besar. Lokasi benteng sebenarnya tidak tepat.

Atas persetujuan  Dewan Direksi East India Company (EIC) atau Perusahaan India Timur– Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Britania  (British East India Company), kadangkala disebut John Company. Sebuah perusahaan saham-gabungan dari para investor, yang diberikan Royal Charter oleh Elizabeth I  pada 31 Desember 1600, dengan tujuan untuk menolong hak perdagangan di India–usulan Joseph Collet  tanggal 27 Februari 1712 disetujui dan mengambil  wilayah Ujung Karang.

Benteng ini sudah dua kali mengalami perusakan dan pembakaran olah masyarakat pribumi.  Kala itu era Deputi Gubernur Thomas Dunster Tahun 1723.  Akhirnya pada Tahun 1723 – 1728,  Joseph Walsh menjadi deputi gubernur mengantikan Thomas Dunster yang hanya setahun menjabat. Vandalisme kembali terjadi di era Deputi Gubernur Thomas Parr 1807.

Menunjuk ke Lebong Tandai

Fort  Marborough dibangun  oleh tangan-tangan tukang  berasal  dari India yang sebelumnya sengaja didatangi oleh Inggris.   Uniknya konstruksi benteng ini berbentuk kura kura. Kepala kura-kura merupakan  pintu utama dan mengarah  ke  Tambang Emas Lebong Tandai.

Benteng  dibangun di tanah seluas 44.000 Meter persegi. Ukuran fisiknya sekitar 240 x 170 Meter. Ketinggian dinding bervariasi. Dari Delapan hinggai 8.50 Meter, dengan ketebalan 1.85 hingga tiga Meter.  Benteng memiliki pertahanan  72 meriam.

Di dalam benteng terdapat beberapa baris bangunan dengan atap berbentuk segitiga. Bangunan tersebut memiliki (krepyak) teras dengan barisan tiang besi. Bangunan Benteng ini difungsikan sebagai barak, penjara, dan kantor hingga tahun 80-an. Saat jepang masuk Tahun  1942-1945 dan agresi Belanda 1949-1950, benteng ini tetap digunakan sebagai markas pertahanan. (Benny Hakim Benardie, dari berbagai sumber)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.