Pengantar Sejarah Tsa-Lu (Talo) Pusat Industri Kapal (1)

Abad ke-IX Hingga ke-XI M (875 -1013 M) Oleh: Benny Hakim Benardie

Ilustrasi Negeri Talo masa lalu.

Gambaran Umum

Berbagai teori Sosiologi-antropologi-arkeologi telah mengajarkan kepada kita bahwa, “Peradaban manusia itu selalu berawal dari kehidupan sekelompok manusia dipesisir pantai atau sungai. Selanjutnya berkembangan menjadi komunitas masyarakat yang semula homogen, lalu berubah menjadi heterogen,” dalam suatu masyarakat yang lebih besar berbentuk  bangsa (Nasional), dan berkembang  menjadi antara bangsa-bangsa (Internasional).

Kehidupan sekelompok manusia, yang semula terdiri dari dua orang atau lebih itu, telah melahirkan kebudayaan. Baik berupa material (Benda) maupun non material (Rohani). Peradaban dalam fase-fase perkembangan kehidupan manusia dengan segala pemanfaatan secara maksimal, baik jasmani maupun rohani dengan lingkungan alam disekitarnya inilah yang melahirkan berbagai aspek Kebudayaan.

Soekmono dalam buku Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia mengatakan, segala ciptaan manusia ini, yang sesungguhnya hanyalah hasil usahanya untuk mengubah dan  memberi bentuk serta susunan baru kepada pemberian Tuhan sesuai dengan kebutuhan jasmani dan rohaninya, itulah yang dinamakan kebudayaan. Maka pada hakekatnya kebudayaan  itu mempunyai dua segi, bagian yang tak dapat dilepaskan hubungannya satu sama lain. yaitu :

Segi kebendaan, yang meliputi segala benda buatan manusia sebagai perwujudan dari akalnya. Hasil-hasil ini dapat diraba.   Segi kerohanian, terdiri atas alam pikiran dan kumpulan perasaan yang tersusun teratur. Kebudayaan tak dapat diraba, hanya penjelmaannya saja yang dapat difahami dari keagamaan, kesenian, kemasyarakatan dan sebagainya.  

Manusia dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan yang erat sekali. Tak mungkinlah kedua-duanya itu dipisahkan. Ada manusia ada kebudayaan, tidak akan ada kebudayaan jika tidak ada pendukungnya, ialah manusia.

Akan tetapi manusia itu hidupnya tak berapa lama, ia lalu mati. Maka untuk melangsungkan kebudayaan pendukungnya harus lebih dari satu orang, bahkan harus lebih dari satu turunan. Dengan lain perkataan harus diteruskan kepada orang-orang disekitarnya, anak cucu serta keturunan selanjutnya.

Cara meneruskan kebudayaan demikian luasnya itu,  dimungkinkan oleh karena manusia dikaruniai pula dengan kepandaian berbicara. Bahasa adalah alat perantara yang terutama sekali bagi manusia, alat yang tak ada pada binatang. Menurut Soekmono, suatu kebudayaan hanyalah dapat ditelaah, jika kebudayaan   iitu telah mencapai kebulatan dan bentuk yang nyata.

Harta-harta peninggalan itu meliputi seluruh usaha manusia. Akan tetapi yang sampai kepada kita sekarang ini hanyalah sebagian kecil sekali saja dari padanya, yang selebihnya telah kenyap tiada berbekas. Peninggalan-peninggalan kebudayaan kebendaan dapat langsung kita teliti dan selidiki, oleh karena berwujud dan dapat diraba.

Sebaliknya peninggalan-peninggalan kerohanian, seperti alam fikiran, pandangan hidup, kepandaian bahasa dan sastra, dan banyak lagi lainnya, hanyalah dapat kita tangkap jika kita berhubungan dengan para pemilik dan pendukungnya. Oleh karena kita tidak lagi dapat berhadapan dengan orang-orang dahulu kala, maka harta kerohaniannya itu hanya dapat kita kenal, jika telah dituliskan dan tulisan-tulisan itu sampai kepada kita. (Besambung)

  • Pemerhati Sejarah dan Budaya tinggal Bengkulu/ Alumni Univeristas Islam Djakarta
You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.