Pengantar Sejarah Tsa-Lu (Talo) Pusat Industri Kapal (2)

Abad ke-IX Hingga ke-XI M (875 -1013 M) Oleh Benny Hakim Benardie

Ilustrasi Negeri Talo saat kejayaannya. Koleksi pribadi.

Sejarah negeri Tsa-Lu (Talo) telah sampai pada tingkat kebudayaan. Sebagaimana yang penulis sebutkan sebelumnya,  yaitu aspek kebendaan dan aspek kerohanian. Peninggalan kebendaan maupun kerohanian itu cukup banyak. Diantaranya adalah:

Pertama, ada suatu kepercayaan di masyarakat Tsa-Lu, dan juga berlaku bagi pendagang masa itu, bahwa setiap pengacau (Perusak) akan mati diterkam harimau (Kutukan). Mereka yang tidak membayar atau menyerahkan sebagian keuntungannya (Laba) juga dinilai sebagai pengacau. Rasa takut yang berlebih-lebihan ini, telah membuat kepatuhan penduduk di negeri Tsa-Lu atau yang juga sering disebut dengan Negeri Hu Men-t.

Kedua,   berbagai catatan klasik pelaut menyebutkan, gadis Tsa-lu tidak saja cantik rupawan alami, tetapi juga anggun bila berdandan. Gadis-gadis ini keluar beramai-ramai (Dipekarangan rumah) pada setiap bulan purnama dengan membawa Lampion (Lentera).

Biasanya berlangsung selama tujuh hari. Tiga  hari sebelum bulan purnama dan tiga hari sesudah bulan purnama, kegiatan seperti ini menurut mereka menyongsong bulan purnama. Ada kepercayaan bahwa Dewi Kwan-Im akan muncul pada saat-saat purnama tersebut, maka segala permintaan, keinginan akan terkabul.

Ketiga,  telah ada kepercayaan (Keyakinan) masyarakat Tsa-Lu bahwa Gunung Dha-empu (Gunung Dempo) sebagai pusat kekuatan spiritual masa itu.  Keempat,   Tsa-Lu dimiliki kesenian kerajinan ukiran (Pemahatan batu dan kayu), dan corak (Motif) yang ditampilkan umumnya masih berbentuk candi, wihara klasik, bunga teratai, burung bangau, binatang rusa, dan dewa-dewa (Penguasa alam gaib) seperti Dewi Kwan-Im (Dewi Sri). Termasuk ukiran harimau dalam bentuk ukiran batu.

Kelima,  masyarakat Tsa-Lu juga telah mengenal budaya ruatan laut (Sedekahan laut) yang dilakukannya pada setiap tahun baru China (Imlek).  Keenam, mereka telah pandai membangun Kuil Chia Huwn (Chia Hun) pada tahun 877 Masehi. Selanjutnya juga membangun sebuah Kuil Hu Men-t (Gerbang Harimau atau Pintu Masuk Harimau) sekitar kaki Gunung Dhaempu (Dempo) pada pada Li Pai San (Hari Rabu) Pa-Kaw-Ciu’ (899 M).

Kuil Hu-Men-t berbentuk terowongan (Lorong) panjang, yang pada setiap sisi jarak antara lima  meter terdapat dua  orang biksu (Shu-Hu) yang saling berhadapan duduk diantara lorong. Jumlah biksu atau shu-Hu atau bhanthi(e) dalam satu jajaran atau garis lorong sembilan  orang. Total biksu atau shu-Hu atau bhanthi(e) yang bertugas dan berada di Lorong kuil seluruhnya berjumlah 18 orang. Dan panjang Kuil Hu-Men-t diperkirakan +  45 meter.

Para murid-murid lainnya berada di luar kuil (Tidak diperkenankan masuk), kuil Hu-Men-t menghadap ke Matahari terbenam (Barat). Angka 18 (Sh’-Pa) jika dijumlahkan berarti sembilan. Angka sembilan adalah merupakan angka keberuntung atau lambang keberuntungan menurut kepercayaan mereka.

Negeri Jaya  

Negeri Tsa-Lu (Talo) adalah satu-satunya kawasan pesisir barat Pulau Sumatera yang  paling maju dan berkembang pesat. Daerah ini pernah mengalami masa kejayaannya pada Tahun 940 Masehi (Abad ke-X M). Tsa-Lu merupakan daerah pengembangan Industri Kapal layar pada Abad ke-IX Hingga ke-XI M (875 -1013 M) dan penghasil rempah berkualitas tinggi.

Tsa-Lu tidak saja dikenal sebagai pusat industri, tetapi juga sebagai pusat perdagangan. Tsa-lu merupakan satu-satunya daerah penyanggah perekonomian Pulau Enggano atau OCOLORE (Pulau Kecewa) sebagai kawasan transit di wilayah barat Nusantara.

Tsa-Lu dikenal sebagai daerah penghasil rempah berupa adas manis dan vanili berkualitas terbaik. Karena itu, banyak pedagang asing yang berburu rempah dinegeri ini, terutama pedagang yang berasal dari Timur Tengah (Jazirah Arab).

Mereka sangat menyenangi rempah yang berasal dari negeri Tsa-Lu. Bahkan sebagian negeri ada yang menyebut dua  macam rempak berkualitas tinggi itu dengan kata Tsa-Lu saja. Seakan kata Tsa-Lu telah berubah (Indentik) menjadi atau sama dengan nama rempah.

Karena itu, tidaklah mengherankan bila masyarakat Tsa-Lu pada Abad le-X M sudah mengenal sutra China, Gerabah dan tenunan Thailand, selain negeri ini sendiri merupakan daerah penghasil tenunan (Tenun Tsa-Lu) yang kualitasnya masih jauh dibawah tenunan Siam (Thailand). Namun Tsa-Lu juga terkenal sebagai pengembang kebudayaan tradisional, yang banyak dipelajari orang dari berbagai negeri.

Sejarah Negeri Tsa-Lu (Talo) Pusat Industri Kapal Abad ke-IX Hingga ke-XI (875 -1013 M) ini ditulis dalam bahasa Ilmiah populer, sehingga diharapkan masyarakat dalam segala tingkatan dapat memahami dan mengerti dengan mudah tentang keberadaan Negeri Tsa-Lu (Talo). Sebuah negeri di pesisir barat Pulau Sumatera yang pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 940 Masehi. (Bersambung)

*Pemerhati Sejarah dan Budaya tinggal di Bengkulu/Alumni Universitas Islam Djakarta

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.