Pengantar Sejarah Tsa-Lu (Talo) Pusat Industri Kapal (3)

Abad ke-IX Hingga ke-XI M (875 -1013 M) Oleh: Benny Hakim Benardie

Cungkup bangunan rumah tua China di Tsa-Lu

Sejarah tentang Tsa-Lu ini perlu terus untuk dilakukan pendalaman kajian kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan serta pengalaman di masa lampau yang tercecer. Fase Tsa-Lu atau Talo sebagai pusat Industri Kapal, penulis telah  menimbang  cukup teliti dan hati-hati tentang validasi data dari sumber sejarah. Termasuk interprestasi dari sumber-sumber keterangan yang diperoleh.

Tulisan sejarah perdaban masa lampau ini merupakan suatu usaha, untuk memberikan interprestasi dari bagian trend yang naik turun  keadaan di masa yang lampau,  agar diperoleh suatu gambaran umum yang berguna untuk memahami kenyataan masa lampau, membandingkannya dengan keadaan sekarang. Termasuk dapat memprediksi keadaan yang akan datang.

Penulis hanya ingin membuat rekonstruksi masa lampau secara objektif dan sistimatis, dengan mengumpulkan, mengevaluasikan, menjelaskan dan mensintesiskan bukti-bukti, untuk menegakkan fakta dan menarik kesimpulan secara tepat.

Berdirinya Negeri Tsa-Lu

 Negeri Tsa-Lu (Talo) didirikan pada Tahun 875 Masehi. Pernah mengalami masa kejayaan pada Tahun 940 Masehi. Sejarah ini  merupakan bagian perjalanan panjang dari Sejarah Tanah Bengkulu atau Sejarah Tanah Rejang.

Negeri Tsa-Lu untuk pertama kali dibangun oleh penduduk negeri Pa-U’ (Sekarang masuk Kabupaten Bengkulu Tengah). Penduduk Pa-U’ itu sendiri berasal dari Negeri Lu-Shiangshe (Kecamatan Ketahun, Bengkulu Utara) yang pernah mengalami pralaya pada Tahun 198 Masehi.

Negeri Tsa-Lu sejak dibangun, tidak banyak menghadapi permasalahan ekonomi, karena sebelumnya masyarakat Pa-U’ yang mengungsi ke Talo sudah banyak dikenal oleh berbagai pelaut (Pelaut juga pedagang pada masa itu) nusantara maupun asing, sebagai pelaut yang mampu membuat kapal layar (Pinisi) sendiri.

Perpindahan penduduk dari Pa-U’ ke- Tsa-Lu semakin membuka peluang bangkitnya Industri kapal layar dipesisir Barat Pulau Sumatera, karena ditunjang berlimpahnya bahan baku kayu yang terdapat di hulu sungai Tsa-Lu (Ayiek Talo dan Ayiek Alas) yang mereka sebut dengan Alas Ruban (Hutan Jati).

Sejarah kejayaan negeri Tsa-Lu telah membawa keharuman  Tanah Bengkulu,  sekaligus mengungkapkan kembali (Rekonstruksi) perjalanan panjang anak Negeri Lu-Shiangshe yang pernah memproklamirkan diri sebagai kelompok masyarakat suku (Etnik) Rejang. Nama-nama negeri yang mereka tinggalkan hingga kini masih dapat ditemui, meski dalam dealek daerah yang berbeda.

Pertanyaannya adalah,  Apakah  Negeri (Tanah) Tsa-lu (Talo), Chung Ku-O-Lu (Jenggalu), dan Pa-Hyang (Kepahiyang) masuk dalam kelompok etnis Rejang? Ini akan kita paparkan. Perlu dipahami, etnis Rejang Pa-U’ yang pindah dan mendirikan Negeri Tsa-Lu (875 Masehi), merupakan Chi Au Sen Se Pat Tay (Generasi pelanjut dan kelanjutan / penerus) dari pada Chung Ku-o Jen (China asli).

Karena itu, tidaklah mengherankan apa bila etnis Tsa-Lu (Orang Talo) terkadang mereka mengaku orang Rejang (Rejang lembak atau pesisir) atau Rha-Hyang atau Ra-Hyang, Re-Hyang atau Re-jang. Terkadang pula mereka juga mengaku etnis Pa-U’ (Pauh) atau Hu-Men, sapaan kebanggaan bagi orang Tsa-Lu (Talo) Tahun 909 Masehi.

Perahu tradisional (Tongkang) nelayan negeri Lu-A(e)bongshe 264-198 M

Pada intinya, mereka orang Pa-U’ dan orang Tsa-Lu (Talo) adalah orang-orang Rejang yang berpindah-pindah. Karena itu dinegeri Tsa-Lu (Talo), suku Rejang Pa-U’ sudah tidak menampakkan lagi budaya China secara kental dalam perilaku kehidupan masyarakat sehari-hari.

Moderenisasi budaya sudah menghinggap pada masyarakat Negeri Tsa-Lu, menjelang memasuki era kejayaannya pada Tahun 940 Masehi. Tsa-Lu adalah merupakan satu-satunya negeri yang paling maju di pesisir bagian barat Pulau Sumatera pada Abad ke-X dan masyarakatnya telah mengenal sutra.

Aspek lainnya adalah budaya dan religi Negeri Tsa-Lu yang berkembang begitu cepat kearah darat (Timur), melalui pemuka masyarakat, Raib atau Bhanthi(e), Bhiksu dan Bhksumi berasal dari Kuil Chia Huwn (Chia Hun), yang dibangun pada Tahun 877 Masehi. Selanjutnya mereka juga membangun sebuah Kuil Hu Men-t (Gerbang Harimau atau Pintu Masuk Harimau) Di kaki Gunung Dempo pada Tahun 899 Masehi. Tidak diketahui apakah selanjutnya mereka berhasil membangun Kuil Hu Men-t tersebut atau tidak, karena kuil ini terletak jauh dari pusat keramaian kota pada masa itu. Hingga kini belum ditemui laporan-laporan tentang adanya Kuil Hu Men-t yang ceritakan tersebut.

Sejarah Tsa-Lu (naskah klasik) menyebutkan, pembangunan Kuil Hu Men-t pada Li Pai San (Hari Rabu) Pa-Kaw-Ciu’ (899 Masehi). Penyebutan dan penggunaan angka di Negeri Tsa-Lu masih sama dengan dinegeri awal nenek moyang mereka pertama kali dating, Negeri LU-SHIANGSHE, RA-PA-SH’, PA-U’, PA-LIU, SAM-LAK-KAW, dan TSA-POT-SH’.

Hitungan China (Kek) & ( Chung-Wen )

0 = Kang, 1 = It (it), 2 = Nyi, 3 = Sam, 4 = Si, 5 = Ngm, 6 = Diuk, 7 = Chit, 8 = Pat, 9 = Kiu , 10 = Cap , 100 = Pek ,  1000 = Cheng, 10.000  = Cheban, 1 000.000  = Tiaw. Dan seterusnya

 Hitungan China (Tio Chu) & (Khong-Hu).

0 = Kang,  1 = Ce,  2 = No, 3 = Tsa, 4 = Si, 5 = Nggo, 6 = Lak, 7 = Chit, 8 = Pot, 9 = Kaw, 10 = Cap. Dan seterusnya

 Hitungan China (Mandarin).

0 = Li’ng, 1 = i, 2 = el’atau Liang, 3 = San, 4 = Sh’ (baca: Shi) , 5 = U’, 6 = Liu, 7 = Chi, 8 = Pa, 9 = Ciu’, 10 = Sh’ (baca: Se), 11 = Sh’- i, 12 = Sh’- el, 21 = el’-sh’-i, 10 juta = chien-w’an, 101 = i-pai ling-i. Dan seterusnya

Sebagai contoh klasik dalam menyebutkan dibangunnya Kuil Hu Men-t pada Li Pai San (Hari Rabu) Pa-Kaw-Ciu’ (899 M), begitulah mereka menyebut hari dan tahun menurut hitungan mereka. Kadangkala mereka menyebut angka satu (1) dengan kata Ce terkadang menggunakan kata i (1) dan it (1).

Angka dua (2) terkadang mereka sebut no, dilain kata mereka menyebutnya nyi, el atau liang, dan angka tiga (3) disebut Tsa dilain waktu mereka menyebutnya san atau sam. Begitulah evolusi bahasa yang berkembang dan terjadi ketika masa itu di Bandar (Pelabuhan) Tsa-Lu. Tergantung suku atau marga yang mana lebih dominan dalam komunitas itu.

Ada beberapa naskah yang menyebutkan bahwa rancang bangun Kuil HU MEN-T tidak serupa dengan kuil-kuil biasanya. Kuil Hu Men-t berbentuk terowongan (Lorong)_ panjang.

Disetiap sisi antara jarak lima (5) meter terdapat dua  (2) orang biksu (Shu-Hu) yang saling berhadapan duduk diantara lorong. Jumlah biksu atau shu-Hu atau bhanthi(e) dalam satu jajaran atau garis lorong sembilan (9) orang. Total biksu atau shu-Hu atau bhanthi(e) yang berada di Lorong kuil seluruhnya berjumlah 18 orang. Dengan demikian, dapat diperkirakan panjang Kuil Hu Men-t (Gerbang Hariamau) mencapai + 45 meter.

Sementara murid-murid lainnya berada di luar kuil (Tidak diperkenankan masuk). Kuil Hu Men-t menghadap ke Matahari terbenam (Barat). Angka 18 (Sh’-Pa) jika dijumlahkan berarti 9. Angka sembilan adalah merupakan angka keberuntung atau lambang keberuntungan menurut kepercayaan mereka.

*Pemerhati Sejarah dan Budaya tinggal di Bengkulu/Alumni Universitas Islam Djakarta

You might also like
2 Comments
  1. Boko Susilo says

    Alhamdulilllah, mulai terbuka sejarah talo, rejang dsb.

    1. redaksi says

      alhamdulillah

Leave A Reply

Your email address will not be published.