Pengantar Sejarah Tsa-Lu (Talo) Pusat Industri Kapal (4)

Abad ke-IX Hingga ke-XI M (875 -1013 M) ) Oleh: Benny Hakim Benardie

Utara Bengkulu Tempo Doeloe. net

Ada beberapa naskah yang menyebutkan bahwa rancang bangun Kuil HU MEN-T tidak serupa dengan kuil-kuil biasanya. Kuil Hu Men-t berbentuk terowongan (Lorong) panjang.  Disetiap sisi antara jarak lima meter terdapat dua  orang biksu (Shu-Hu) yang saling berhadapan duduk diantara lorong.

Jumlah biksu atau shu-Hu atau bhanthi(e) dalam satu jajaran atau garis lorong sembilan  orang. Total biksu atau shu-Hu atau bhanthi(e) yang berada di Lorong kuil seluruhnya berjumlah 18 orang. Dengan demikian, dapat diperkirakan panjang Kuil Hu Men-t (Gerbang Harimau) mencapai + 45 meter.

Sedangkan  para murid lainnya berada di luar kuil, tidak diperkenankan masuk. Kuil Hu Men-t menghadap ke Matahari terbenam (Arah Barat). Angka 18 (Sh’-Pa), jika dijumlahkan berarti sembilan. Angka sembilan adalah merupakan angka keberuntung atau lambang keberuntungan menurut kepercayaan mereka.

Tsa-Lu Negeri Maju

Negeri Tsa-Lu pertama kali didirikan oleh penduduk yang berasal dari negeri Pa-U’ pada tahun 875 Masehi. Negeri Pa-U’ disebut dalam berbagai naskah klasik dimaksud adalah sebuah negeri yang dibangun pada Tahun 750  Imlek atau 199 Masehi di daerah  pesisir pantai  Pasar Pedati, Coko hingga Desa Pondok Kelapa sekarang,. Sebagian lagi penduduk mendiami pesisir pantai kearah Selatan (Kota Bengkulu sekarang).

Negeri Tsa-Lu (Talu atau Talo) merupakan satu-satunya daerah perdagangan yang paling maju di pesisir barat Pulau Sumatera pada abad ke IX hingga ke-XI M (875-1013 M). Negeri ini tidak saja terkenal sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai pusat Industri Kapal Layar (Pinisi) pada masa silam. Dalam perkembangan pertumbuhan perekonomian selanjutnya, negeri Tsa-Lu tidak dapat dipisahkan dengan aktivitas di Pulau Enggano, sebagai pulau transit bagi kapal-kapal layar (Kapal dagang) yang akan menuju Mala Dewa (Srilangka), India, Jazirah Arab dan Afrika lainnya.

Baca: Pengantar Sejarah Tsa-Lu (Talo)  Pusat Industri Kapal (1)

Baca: Pengantar Sejarah Tsa-Lu (Talo)  Pusat Industri Kapal (2)

Seorang peneliti berkebangsaan Portugis Pigafetta 1521 menyebutkan Pulau Enggano dengan kata OCOLORE (Pulau Kecewa). Konon katanya dahulu, pulau ini hanya dihuni oleh kaum wanita saja, Seakan-akan negeri ini menjadi Pulau Khayal (Pulau Dongeng). Sedangkan untuk menuju ke- Birma, Siam (Tailand), Champha (Kamboja), Canton (China), mereka berlayar melalui Kepulauan Andaman dan Kepulauan Nicobar di Teluk Banggala.

Dalam naskah China klasik, sebuah buku catatan pelayaran Shiemphon (Tan Kwie Chang) “Shiang shiang K’un–Lun Shan” artinya, Semerbak Harum Pegunungan, ditulis 757 Tahun Imlek atau Tahun 308 Masehi, menceritakan adanya negeri Pa-U’ (Di Bengkulu). Buku ini merupakan koleksi keluarga yang sangat dijaga (Wasiat leluhur), terkadang dianggap keramat.

Negeri Pa-U’ disebut “Negeri ditutupi sebuah pulau”. Negeri dibelakang sebuah pulau yang banyak disinggahi kapal-kapal layar (Perahu layar) berasal dari berbagai negeri. Perdagangannya sangat maju dengan menggunakan alat tukar emas. Sedangkan disebelah negeri itu (Kearah utara), terdapat Negeri Pa-Liu yang banyak menghasilkan kerbau dan babi.

Di  Pa-U’ terdapat  tempat perniagaan (Pasar), dan sebuah pelabuhan perahu layar yang aman dari terpaan badai dan gelombang. Daerah ini terlindung oleh sebuah pulau dan beberapa pulau kecil lainnya. Perahu dagang dari Pulau  Enggano dan lainnya, banyak singgah dan berniaga disana. Penduduk Negeri Pa-Liu juga berniaga dan berbelanja disana.

Penduduk negeri Pa-U’ dan Pa-Liu temasuk  Ra-Pa-Sh, semuanya berasal dari satu negeri yaitu LU-SHIANGSHE (264 sM-198 M). Dalam naskah klasik India “Pralaya Negeri Emas” ditulis oleh Brasta Simaa Tahun 146 Caka atau 224 Masehi menceritakan tentang adanya negeri yang bernama Lu-Shiangshe di Yavdvipha atau Javaviva (Pulau Sumatera dan Jawa=Yavdvipha). Perniagaan di negeri itu menggunakan alat tukar emas. Para pedagang menyebutnya dengan negeri Kerajaan Emas di Yavadha.

Antara Tahun 264–198 sebelum Masehi (sM) telah ada negeri yang bernama LU-SHIANGSHE. Nama negeri ini secara terminologi berarti Negeri Sungai Harum (Wangi) atau Sungai Kejayaan atau Sungai yang memberi kehidupan/harapan atau Sungai Emas, berada di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara sekarang.

Baca: Pengantar Sejarah Tsa-Lu (Talo)  Pusat Industri Kapal (3)

Namun Negeri Lu-Shiangshe itu mengalami pralaya (Musibah akibat bencana tsunami dan gelombang laut setinggi 11,4 meter),  disusul dengan gempa berkekuatan 9,2 skala richter, yang meluluhlantakkan negeri ini pada Tahun 198 Masehi.

Masyarakat Bengkulu menyebutnya negeri itu dengan kata Lusang dan sekarang kita hanya mengenal nama sungai Lusang, aliran anak sungai yang terdapat di penambangan emas Lebong Tandai, Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara.

Penduduk yang selamat dai pralaya itu mendirikan negeri baru yang mereka sebut Ra-Pa-Sh’ (Serapas), Pa-U’ (Pauh), dan Pa-Liu (Palik).

Chung Ku-o Jen (Sebutan untuk orang China) yang selamat dari pralaya Negeri Lu-Shiangshe Tahun 198 M, selain yang berasal dari penduduk Ra-Pa-Sh, juga ada sebanyak 171 Kepala Keluarga  yang mengungsi kearah selatan (Kota Bengkulu  sekarang). Mereka mendirikan negeri (Perkampungan) yang mereka sebut Pa-U’ (Dalam bahasa daerah disebut Pauh) pada Tahun 750  Imlek atau 199 Masehi di daerah  pesisir pantai  Pasar Pedati, Coko hingga Desa Pondok Kelapa sekarang.

Chung Ku-o yang membangun Negeri Pa-U’ tersebut, tampaknya terdiri dari dua marga besar, yaitu marga Tan sebanyak  86 KK dan Marga Lie sebanyak 85 KK. Chung Ku-o marga Tan yang semula mendiami Pa-U’ bersama marga Lie, selanjutnya mendirikan perkampungan baru sendiri pada Tahun 755 Tahun Imlek atau 204 Masehi. Negeri itu mereka sebut dengan Pa-Liu (Palik sekarang).

Kedua negeri Pa-U’ dan Pa-Liu secara umum berpenduduk etnis China (Chung Ku-o Jen). Namun disana juga terdapat etnis lainnya, seperti India dan Srilangka yang beragama Hindhu-Bhuddha (Sycretisme). Mata pencariannya adalah mendulang emas, batu mulia serta bertani. Negeri ini terletak dipesisir barat Pulau Sumatera.

Chung Ku-o Jen yang datang kesitu berasal dari negeri Hyunan (China daratan), menggunakan bahasa Mon, bahasa yang menyebar keberbagai negeri di Thailand, Birma, Kamboja dan sebagian Korea.

Rainam Khaporr seorang Khan-khaan (Saudagar) India Selatan, sempat menceritakan tentang adanya Negeri Lu-Shiangshe  dalam sebuah bukunya  “Menuju Samudra” (Menuju Nusantara) ditulis Tahun 175 Caka atau 253 Masehi dan ditulis kembali (Disalin) pada Tahun 742 Masehi. Ia nenyebutkan bahwa negeri itu hancur ditelan gelombang badai dahsyat pada Tahun 198 Masehi.

Seorang khan khaan India lainnya bernama Rafjifni kelahiran Yaffana India, pada Tahun 535 Caka atau 613 Masehi, dalam sebuah naskah klasik ”Berlayar Kenegeri Emas” bertuliskan Hindhustan India, ditemukan pada Tahun 1328 Caka atau 1406 Masehi di Madura India menyebutkan, adanya penduduk etnis China dipesisir barat Negeri Bengkulu. Naskah itu hanya menyebutkan adanya negeri disekitar Negeri Lu-Shiangshe (Negeri yang telah hancur) seperti Ra-Pa-Sh, Pa-U’ dan Pa-Liu, Negeri  Ippoh dan Moco (Mukomuko).

Pada tahun 690 Masehi, musibah dahsyat kembali menghantam negeri-negeri di Bengkulu (Ra-Pa-Sh, Pa-U’ dan Pa-Liu), sehingga sebagian penduduk mengugsi ke wilayah Indrapura dan  Padang Pariaman Sumatera Barat.  Rejang Pa-U’ (Pauh) umumnya adalah para petani dan nelayan. Mereka banyak menetap di daerah Padang Pariaman. Sedangkan Rejang Pa-Liu dan Ra-Pa-Sh sebagian bertahan di Indrapura dan Kurinci.

Bencana Tahun 690 Masehi tidak menyebabkan seluruh penduduk Negeri Pa-U’ pindah atau mengungsi kedaerah lain. Mereka banyak juga yang tetap bertahan hingga tahun 875 Masehi.

 *  Pemerhati, Sejarah dan Budaya tinggal di Bengkulu/Alumni Universitas Islam Djakarta

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.