Pengerukan Alur Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu Tak Kujung Usai

Kapal Keruk pasir di Pel;abuhan Pulau Baai Kota Bengkulu.

Bengkulu, SM – Pemerintah Provinsi Bengkulu di tahun 2019 ini terus meninjau pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu. Aktivitas ini sudah berlangsung belasan tahun dan tak kunjung usai. Padahal demaga yang dibangun koloni Belanda untuk pendaratan kapal apung mereka itu, sudah menelan uang  negara miliaran atau mungkin triliunan rupiah.

Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Nopian Andusti, Kamis (29/08.2019)  mengamati pengerukan  alur Pelabuhan Pulaui Baai, didampingi GM Pelindo, KSOP dan Kadishub Provinsi. “Saya berharap, pengerukan alur pelayaran pelabuhan ini semakin memperlancar aktifitas pelabuhan, serta menambah produktifitas pengiriman logistik. Termasuk produk unggulan daerah”,kata  Sekda, hampir sama dengan pernyataan pihak pemerintah provinsi belasan tahun yang lalu.

Pada tahun 2011, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II mengatakan pihaknya telah  menyiapkan dana sekitar Rp 125 Miliar, untuk melakukan pengerukan pada alur masuk Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. Pengerukan sendiri ditargetkan bisa selesai dalam kurun waktu 3,5 bulan. Kenyataannya, bulak-balik pengerukan alur masih saja dilakukan hingga kini Tahun 2019.

Sekdaprov BEngkulu dan Gm Pelindo meninjau pengerukan.

Sekdaprov  Nopian menuturkan sesuai rilis pihak Pelindo II, kedalaman alur saat awal sebelum pengerukan berada pada angka -5,8 m Low Water Spring (Lws), akan dikeruk menjadi -10 mLws. Pengerukan alur pelayaran pelabuhan akan dilakukan menggunakan kapal keruk TSHD HAM 311, dengan kapasitas 3.700 meter kubik.

Endapan sedimen dan material yang mengendap disepanjang alur pelabuhan nantinya akan diangkat dan dibuang ke lokasi dumping area yang telah ditetapkan. Ditargetkan pengerukan alur pelayaran akan selesai pada minggu ke dua bulan September 2019.

Dari data yang suaramelayu.com  peroleh, ditahun 2016, GM PT Pelindo Bengkulu Ari Santoso sempat mengatakan kalau alur pintu masuk pelabuhan Pulau Baai saat itu masih dalam kondisi minus 5,1 Low Water Spring (lws) atau berada pada kedalaman 5 meter saja.

Untuk kondisi normal katanya, pelabuhan ini setidaknya harus memiliki kedalaman alur minimal minus 14 lws. Pendangkalan terjadi karena sudah lebih dari setahun tidak ada aktivitas pengerukan alur. Dalam sebulan, bisa terjadi pengurangan kedalaman alur mencapai minus 2 lws.

Jika kondisi alam yang sangat ekstrem seperti badai dan gelombang tinggi, bisa saja melebihi angka tersebut. “Jika tidak segera dikeruk, bukan tidak mungkin dalam dua bulan ke depan pelabuhan ini akan mengalami lumpuh total”, kata Ari waktu Tahun 2016.

Sebelumnya General Manager IPC Cabang Bengkulu, Nurkholis Lukman pasca kunjungan Sekdaprov Nopian memastikan, proses pengerukan alur ini tidak mengganggu masuk dan keluarnya kapal yang akan bersandar ke dermaga Pelabuhan Pulau Baai. Dia juga  memastikan, aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Pulau Baai tetap berjalan normal.

Pengerukan alur pelayaran pelabuhan sangat penting dilakukan, kata Nurkholis. Sebab dengan kedalaman alur pelabuhan yang hanya -5,8 mLws, kapal dengan kapasitas besar saat ini tidak dapat bersandar. Tertanggal 29 Agustus 2019, kondisi kedalaman alur telah dikeruk mencapai -7.0 mLws

“Dengan ditambahnya kedalaman alur menjadi -10 mLws, maka memungkinkan kapal dengan ukuran lebih besar sampai dengan 50.000 GT dapat bersandar ke Pelabuhan Pulau Baai dengan aman dan nyaman. Tentu ini akan memudahkan oprasional dan mobilisasi kapal,” jelasnya. (ck/mc)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.