Perubahan Status Danau Dendam, Kemajuan Pemanfaatan Wisata Alam

Danau Dendam Tak Sudah menjelang petang. Foto Suaramelayu.com

Bengkulu, SM  – Perubahan status Danau Dendam Tak Sudah, di Dusun Besar  Kota Bengkulu dari Cagar Alam menjadi Taman Wisata Alam (TWA), merupakan salah satu entry point awal kemajuan kepariwisataan di Provinsi Bengkulu.

Hal ini tentunya kian mempermudah  program pembangunan kepariwisataan Pemerintah Provinsi Bengkulu, seperti yang sedang digalakan Gubenur Bengkulu Rohidin Mersyah,

Berbagai perencanaan pembangunan  siap dilakukan pada Danau DendamTak Sudah atau De Dam buatan koloni Belanda saat berkuasa Tahun 1825 hingga pertengahan ke-19 M.     Gubernur Rohidin  berharap  semua dokumen kelengkapan status TWA  dapat segera diselesaikan. Agar pembangunan kawasan ini dapat segera dilaksanakan dan dapat di manfaatkan oleh segenap lapisan masyarakat.

“Saya ingin pastikan penataan blok, kerjasama dengan BKSDA, MoU pengelolaan, kemudian AMDAL dan DID-nya harus dipastikan. Sehingga di 2021 nanti bisa dibangun dengan baik”,  tegas gubernur saat berkunjung ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu, dalam rapat bersama kepala dinas.

Ada beberapa poin yang disampaikan,  diantaranya adalah penyelesaian sengketa lahan kawasan hutan. Baik antar masyarakat maupun perusahaan yang ada.Terkait kinerja lingkungan melalui audit kinerja lingkungannya, gubernur ingin memastikan kalau DLHK dapat berkerja sama dengan Perguruan Tinggi,  untuk melakukan evaluasi kinerja lingkungan.  “Agar kita berhasil memetakan, bahwa potret kondisi lingkungan Bengkulu seperti ini. Ini yang harus dilakukan sebagai tanggungjawap para pelaku usaha”,  ujarnya.

Seperti diketahui dalam catatan sejarah,  DDTS merupakan sebuah Dam yang di bangun koloni Belanda, yang berfungsi untuk pengairan dan persawahan, mengingat sering terhambatnya stock beras yang datang dari daerah selatan Bengkulu, termasuk Krui saat itu.

DDTS  yang selama ini Cagar alam yang  merupakan kawasan suaka alam, memiliki kekhasan pada tumbuhan  angrek jenis pensilnya. Angrek langka ini sudah dari dahulu kala menjadi perhatian dunia pendidikan dan wisata.  Karena itu, selama ini tumbuhan serta ekosistem yang ada dilindungi dan  dilestarikan. Perkembangannya harus  berlangsung dengan secara alami serta juga sesuai dengan kondisi aslinya.  Apalagi selama ini masyarakat sekitar memanfaatkan DDTS sebagai ladang mencari ikan.

Kini statusnya DDTS menjadi Taman wisata alam.  Pada prinsip tak ada yang prinsipil yang berubah. Kawasan hutan konservasi, tumbuhan angrek Pensil yang ada nantinya juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata dan rekreasi. Kegiatan pariwisata di hutan wisata alam.

Tentunya  pembangunan yang nanti ada tidak boleh bertentangan dengan prinsip konservasi dan perlindungan alam.  Pada hakikatnya taman wisata alam masuk dalam kawasan pelestarian alam, sesuai Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. (ck/mc)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.