Provinsi Bengkulu Terus Antisipasi DBD Sejak 2018

Provinsi Bengkulu waspadai penyakit DBD.

Bengkulu, SM – Pemerintah Provinsi Bengkulu terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kota dan Kabupaten, antisipasi kian terjangkitnya penyakit menular demam berdarah dengue (DBD) dari virus dengue yang dibawa nyamuk.

Hal ini diingatkan Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, saat mengetahui ada beberapa warganya terjangkit DBD.    Demam  berdarah yang ringan jelasnya,  menyebabkan demam tinggi, ruam, dan nyeri otot dan sendi. Lain halnya dengan yang parah sebagai dengue hemorrhagic fever, dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba hingga kematian.

Untuk mengantisipasi DBD, Pemerintah Provinsi Bengkulu jelas Gubernur Rohidin, sudah mengirimkan Surat Edaran Gubernur Provinsi Bengkulu, sejak tanggal 31 Desember 2018 lalu, untuk mengantisipasi, dengan melakukan koordinasi dengan wali kota dan bupati Se-Provinsi Bengkulu.

Tak hanya itu, sejak 2018 lalu, Gubernur Rohidin Mersyah berharap pada pemerintah kota dan kabupaten, untuk selalu siaga akan peningkatan  kasus DBD. Tak hanya demam tinggi karena DBD masyarakat cepat ke Puskesmas atau rumah sakit, tapi gangguan kesehatan masyarakat, agar cepat menghubungi pihak medis ditempat dimana mereka tinggal,

“Saat ini tak hanya Provinsi Bengkulu terjangkit kasus DBD cukup tinggi. Karena itu, pemerintah provinsi selalu berkoordinasi, mencegah dan mengantisipasi potensi meningkatnya penyakit DBD. Apalagi seiring masuknya musim penghujan”, jelas gubernur via telepon selularnya.

Dalam Surat Edaran Gubernur Bengkulu, 440 Tahun 2018 tentang Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus DBD diharapkan pada Pemerintah Daerah Se-Provinsi Bengkulu, untuk melakukan kesiapsiagaan.

Masyarakat diharapkan bersama-sama, melakukan pemberantasan sarang nyamuk, melalui menguras dan menutup sarang nyamuk, dan memanfaatkan kembali barang bekas, temasuk mencegah gigitan nyamuk (3M plus).   Dalam pencegahan itu, gubernur berharap, dilakukan satu rumah Satu Pemantau Jentik (Jumantik).

Pemerintah daerah Se-provinsi Bengkulu juga diharapkan terus memantau kasus dengan pengumpulan data secara sistematik, analisis dan interpretasi data/ Termasuk  memantau faktor resiko yang ada dari terjangkitnya DBD. Untuk Kelompok  Kerja Operasional penanggulangan (Pokjanal) DBD, dari tingkat rukun tetangga hingga tingkat kabupaten, termasuk provinsi agar diaktifkan kembali.

“Tentunya diimbangi kapasitas  sumber daya pencegahan dan pengendalian DBD. Itu meliputi, peningkatan kapasitas SDM. Biaya serta bahan danperalatan untuk melakukan deteksi dini dan pengobatan segera”, jelas Gubernur Rohidin. (ck)

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.