Puisi “Wartawan Bangkotan”

Karya: Benny Hakim Benardie

Dia wartawan bangkotan.

Julukan itu baru kini dinobatkan.

Dulu tidak itu. Rupanya kini masa membuat rasa disaat asa menjelang.

 

Rupanya zaman kian berubah.

Wartawan bangkotan itu berada di zaman perubahan.

Kini laptop, computer  sebagai alat, menampikan kertas  sebagai mass media, meskipun ketukan jemarinya menari masih  bergaya mesin tik.

 

Dia wartawan bangkotan.

Perubahan masa dan rasa itu baginya bukanlah dilalah.

Puluhan tanya bukan pula masalah. Itu semua hanya jawaban yang enggan diungkap saja, meskipun masa dan rasa mengelitik asa, tatkala karya nantinya hanya tinggal nostalgia.

 

Dari awal masa dia memang sudah ditempah. Risaunya wartawan bangkotan bukan karena banyaknya harta, tapi malu hati  saat dirinya tak banyak berkarya.

Kini sudah dua setengah dasawarsa tak terasa. Puluhan bahkan ratusan yunior tak henti bertanya. Anda wartawan bangkotan? Berapa bentuk karya anda yang bersifat? Sudah berapa banyak anda menulis buku?

Wartawan bangkotan itu diam namun berekspresi. Sumringah menjawab tanya, menangkal hina dina profesi mulia.

 

*Puisi dibacakan saat Munas secara Daring dan raih rekor MURI virtual Jaringan Media Siber Indonesia,  Senin (29/6). Tahun 2020

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.