Ratu Samban Pahlawan Menjelang Petang (Part 1 – 3 tulisan)

Oleh: Benny Hakim Benardie

Ilustrasi Koloni Belanda memburu Ratu Samban. Tahun 1889.

“Pahlawan itu tak  pernah tahu bila akhirnya dirinya di sanjung. Pahlawan tak pula terfikir kalau namanya diabadikan. Mungkin itu pula jati diri  Mardjati alias Ratu Samban,  Pahlawan Negeri Bengkulu, yang namanya dipantrikan sebagai nama Sempang Limo (Simpang LIma) Ratu Samban di Ibukota Bengkulu. Dulu kepahlawanannya diakui. Kini generasi baru mulai melupakannya. Ratu Samban  pahlawan reformasi di masa Koloni Belanda bercokol. Jasa besar untuk rakyat kecil, gugur sebagai kusuma bangsa”

Sosok Sang Pemimpin

Ratu Samban merupakan gelar/adok, yang diberikan kepada seorang Pesirah (Kini setara Kepala Desa) oleh tetua masyarakat di Pasar (Marga) Bintunan Bengkulu bagian Utara  pada tahun 1874, seusai musim panen. Tanda penghargaan dan penghormatan itu diberikan kepada Mardjati, yang dinilai telah berhasil membela kepentingan rakyat. Apalagi Mardjati telah berhasil membunuh dua penguasa Koloni Belanda, yaitu Asisten Residen H.Van Amstel dan Kontroleur  E.E.W Castens pada 2 September 1873, saat hendak menyeberang Sungai Bintunan.

Sebelum tragedi itu, tampak rakit (Bambu yang di ikat) penyeberangan siap menghantar para penyeberang. H.Van Amstel dan E.E.W Castens di damping empat orang depati Negeri Sembilan (Sebutan untuk Negeri Bintunan) ingin menyeberangi sungai. Salah seorang diantara mereka tampak warga yang ingin ikut menyeberang. Warga itu adalah Depati Mardjati. Sedangkan tiga orang lainnya tidak disebutkan namanya, namun dapat di duga, mereka itu adalah depati yang ditangkap Koloni Belanda.

Menyeberangi sungai itu dilakukan menjelang petang,  usai hujan reda. Arus sungai kala itu tampak deras, rawan akan banjir. Namun karena petinggi Belanda sangat berharap tiba di Bintunan seberang sungai dan bermalan disana, maka upaya penyeberangan tetap dilakukan.

Saat rakit mulai menengah dikemudikan, maka itulah kesempatan Mardjati membabat, menyerang dengan mengunakan parang tajam. Dua pejabat itupun luka dan ditengelamkan ke sungai dan hanyut dibawa air Sungai Bintunan yang berarus deras.

Mengutip berbagai literatur dan catatan sejarah pada Tahun 1901 hingga Tahun 1913, serta berbagai catatan Kolonial Belanda di Arsip Nasional, sejak kejadian itu tidak pernah ada perang terbuka, akibat terbunuhnya dua petinggi Belanda itu. Ini membantah pendapat adanya bala bantuan dari Belanda, yang mengirim 1000 serdadu ke Bengkulu, untuk melakukan tindakan balasan.

Ratu Samban bukanlah seorang panglima perang, yang punya pasukan tempur khusus, hanya saja, sewaktu Mardjati alias Ratu Samban itu menyerang petinggi Koloni Belanda itu, ada banyak warga yang menyambut kedatangan Asisten Residen H.Van Amstel dan Kontroleur  Castens. Warga yang ada sengaja dikerahkan Mardjati, untuk menyaksikan peristiwa pembantaian dilaukan. Saat itu Depati Mardjati belum menjabat Pasirah.

Karena sebelumnya peran depati Mardjati membela warga setempat, maka akhirnya ia diangkat menjadi Pasirah. Itu karena dinilai telah berjasa melindungi masyarakat dari beban pajak (Raaden = Pajak yang harus dibayarkan kepada Pemerintah Kolonial Belanda) senilai 30 Ribu Golden.

Hal itu berdasarkan ketentuan Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia, Tahun 1872, Kala itu,  Pemerintah Keresidenan Bengkoelen diharuskan dapat mengumpulkan pajak untuk Pemerintah Belanda di Batavia senilai 30 Ribu Golden. Inipun sudah disosialisasikan pada pemuka masyarakat kala itu.

Mardjati berontak melihat rakyat mendapat tekanan. Beban pajak ini pulalah yang dirasakan amat berat oleh rakyat, khususnya yang berada Resort Marga Bintunan. Kesempatan baru muncul, pada tanggal 2 September 1873. Dua pejabat penting yang akhirnya tewas itu, mengadakan inspeksi kewilayah perkebunan rakyat. Kala itu wilaya Bintunan terkenal banyak menghasilkan kopi, lada, kopra, emas dan batu mulya, diwilayah pesisir barat pulau Sumatera, yaitu Lais, Bintunan, Ketahun (Kini Provinsi Bengkulu).

Dam[paknya pula pasca peristiwa berdarah Tahun 1873 itu,  perdagangan rempah Belanda di resort utara Keresedenan Bengkoelen semakin merosot. Kegiatan perdagangan kolonial ini mendapat berbagai sabotase dari pedagang penduduk asli hingga Tahun 1885.

*Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu/Alumni Universitas Islam Djakarta

 

 

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.