Ratu Samban Pahlawan Menjelang Petang (Part 2 dari 3 tulisan)

Oleh: Benny Hakim Benardie

Ilustrasi Sungai Bintunan.

Buronan Koloni Belanda  

Pasca pembunuhan dua pejabat Belanda, H.Van Amstel dan E.E.W Castens, Mardjati alias Ratu Samban terus dicari aparat hukum  Belanda, dibantu orang pribumi bayaran.

Usaha penangkapan pengejaran Mardjati intens dilakukan. Inilah membuat Residen Benkoelen gusar dan semakin meningkatkan berbagai kewaspadaan, keamanan di beberapa tempat di Bengkulu  bagian Utara.

Aktifitas  pemerintahan kolonial Belanda menjadi terganggu dan sempat terhenti total pada Tahun 1882 hingga 1885, akibat dahsyatnya hujan abu dan belerang, akibat  meletusnya Gunung Krakatau pada Tahun 1883, dengan gelombang pasang setinggi 13,6 Meter, juga melanda mercusuar Bengkoelen yang terbuat dari beton. Ada 10 orang pekerja tewas. Sebuah kapal, “The Berouw” yang berada di Pelabuhan Teluk Betung saat itu, terhantam gelombang  sejauh 3.300 Meter, masuk  ke dalam hutan. Puluhan ribu orang mati dipesisir Bandar Lampung dan Banten.

Kejayaan perdagangan koloni Belanda Negeri Bengkulu kembali pulih pada Tahun 1886, 1887, 1888 dan hingga tertangkapnya Ratu Samban di Tahun 1889. Kala itu buah Labu sedang populer dan banyak diminati dengan harga jual yang baik, dan dikirim ke Negeri Banten.

Tertangkapnya Mardjati alias Ratu Samban telah membuka lembaran baru bagi kebebasan bertindak koloni Belanda di pesisir barat Pulau Sumatera, negeri yang menghasilkan emas ini. Darah terus mengalir tumpah di bumi yang mereka sebut Benkoelen ini.

 Sebelum tertangkap, Mardjati alias Ratu Samban kian populer sebagai sosok lelaki pembela negeri dan sebagai ancaman bagi Belanda. Mardjati alias Ratu Samban disebutkan sebagai pahlawan berperawakan tinggi besar, dengan  rambut panjang terurai, licin untuk diperdayakan lawan. Setiap rakyat yang ditemui dan dimintakan keterangan tentang dimana keberadaan Ratu Samban, selalu saja bungkam. Bahkan mereka seolah-olah tidak mengetahui adanya peristiwa penyerangan  yang terjadi diatas rakit Sungai Bintunan itu.

Gerakan perlawanan rakyat bungkam itu membuat pengejaran, penangkapan Mardjati membuat pihak koloni Belanda semakin megalami kebuntuan informasi. Pihak  Belanda sulit membedakan pemimpin yang dicari-cari dengan rakyat biasa.

Pernah suatu ketika di Tahun 1887,  Ratu Samban tertangkap oleh koloni Belanda di daerah Napal Putih (Ketaun=Cat Twon), Dia dibawa ke Fort Marlborough, Namun beberapa saat kemudian, serdadu Belanda lainnya juga melaporkan telah menangkap Ratu Samban beserta pengawalnya, maka terpaksa Mardjati yang asli itu dilepaskan.

*Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu/Alumni Universitas Islam Djakarta

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.