Raun Kelokalisasi Prostitusi di Ibukota Bengkulu

Setiap tamu melintas disapa dengan ramah.

Perjalanan berawal dari melihat keramaian kota Bengkulu jelang malam Minggu.  Ibukota Provinsi Bengkulu yang kini terus berbenah, tampak ramai dengan penjaja kuliner dipinggir jalan, bersama tongkrongan kaum milenial yang begadang menanti dini hari.

Saat itu sekira pukul 11.30 WIB, idepun timbul. Tak lengkap rasanya  bila tidak melakukan investigasi di salah satu lokalisasi prostitusi, Rt 08 Pulau Baai Kota Bengkulu.

Masyarakat setempat sering menyebutnya tempat ‘Yang Tau’. Dimana banyak wanita Pekerja Seks komersial, yang oleh masyarakat setempat disebut poyok.  Keberadaan tempat ini sudah sekitar  30 tahun lalu. Ini merupakan lokalisasi kedua, dimana lokalisasi sebelumnya, masih di wilayah kecamatan yang sama, dipindahkan ke tempat ini.

Sedia panganan komplit.

Dalam tempo 30 Menit dari pusat Kota Bengkulu, memasuki jalan jelek, berbatu yang tak kunjung usai di perbaiki,  seorang penjaga menstop laju kendaraan, sementara tampak enam orang lainnya duduk di pos penjagaan reot.

“Empat puluh ribu, sekaligus saja”, kata penjaga.

Ternyata itu uang masuk lokalisasi. Menurut sumber setempat, uang pungutan yang tak tahu resmi ataukah hanya liar saja  itu, dari dulu memang begitu. “Hanya saja sebelumnya setiap tamu harus melintasi dua pintu gerbang. Beberapa bulan lalu, setiap tamu dipungut lima belas ribu rupiah, saat melintas di palang pintu pertama. Untuk palang pintu kedua, tamu harus bayar sepuluh ribu. Mungkin kini sudah naik Om”, lelaki perawakan  pendek, beraroma minuman keras.

Tim investigasi  mencoba menggelilingi setiap sudut jalan lokalisasi yang terdengar hinggarbingar  alunan irama lagu yang tak jelas di tiap rumah hunian.

“Mampir Bang….Lengket Bang….Sini Om….Ngamar Pak….”, paling tidak itulah panggilan saat tim melintas.

Rasa cemas dan kekuatiran juga terasa terlintas dibenak. Apalagi lokalisasi merupakan wilayah keras, bermata merah dan  yang tampak malam itu jalannya agak oleng-oleh. Ditampah lagi lokasi lokalisasi berada jauh ke dalam hutan serta dipinggir pantai.

Tim sempat sejenak menghentikan kendaraan, saat kaget melihat sekelompok nenek-nenek  berteriak mengajak mampir. Gelinya lagi, para perempuan yang diperkirakan umurnya mendekati 60 tahun itu, memanggil Om. “Wou…menakjubkan! Mungkin itu para senior yang sudah mati pajak”, kata seorang teman yan meminta kami segera menginjak pedal gas untuk segera pergi.

Akhirnya tim mencoba memarkirkan kendaraan di sebuah hunian, yang tampak tiga wanita sekira umur 20-30-an, sedang asyik memandang Handphone androidnya. Asap rokokpun tak lepas dari jemarinya, dengan sebotol minuman entah apa di sebelah kursinya.

“Eh…. O Om  apa kabar? Masuk, duduk disini. Sebentar Eneng  panggil temen dulu ya”, tegur salah seorang wanita, yang belakang diketahui merupakan ‘Mami’ dirumah itu.  Padahal mereka belum pernah kenal dengan tim, yang baru kali pertama ke lokalisasi.

Keren, AC terpasang. Kemungkinan ekslusif class..

Tak lama berselang, sekira 20 menit berlalu,  dalam lantunan irama music remix, sebuah  bisikkan mampir di pokok telinga. Bisikan ajak ngamar dengan nominal Rp150 bisa nawar, tapi jangan terlalu jauh nawarnya.

Seseorang tampak kemayu duduk disudut ruang. Wanita ini tampaknya lebih  komunikatif saat ditemui. Dengan sedikit uang tips, sedikit pula dia bercerita, kalau dirinya sudah menjalani praktik prostitusi ini selama 15 tahun lebih.  Awalnya dirinya hanya menjajakan seks di hotel keluar hotel saja. Karena sekarang zamannya lain katanya, makanya kini dia beralih  dan memilih  lokalisasi di Pulau Baai. “Itu karena diajak seseorang”, katanya yang mengaku sudah janda dan  punya anak dua.

Hari sudah menjelang fajar. Lokalisasi poyok ini masih ramai. Karena situasi terasa mulai hot dan rawan khilaf, maka tim mencoba mohon pamit, sembari membayar apa yang sudah dibeli diatas meja. Malam itu, setidaknya ada tiga tempat hunian dikunjungi, yang pada prinsipnya sama. Kecuali hunian para nenek yang yang tak sempat disinggahi. Itulah perjalanan di dunia malam disudut Ibukota Provinsi Bengkulu. (Tim)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.