Sekelumit Catatan Masa Kejayaan Negeri Talo

Oleh: Benny Hakim Benardie/Wartawan/Pemerhati Sejarah Bengkulu

Ilustrasi doc pribadi.

Negeri Talo (Tsa-Lu) di Provinsi Bengkulu dibangun pada Tahun 875 Masehi oleh etnik Rejang Pa-U’ (Suku Rejang yang pertama kali datang dan mendirikan Negeri Tsa-Lu)

Pada Tahun 940 Masehi, Negeri Tsa-Lu memasuki era kejayaan.  Negeri Tsa-Lu tidak saja terkenal sebagai pusat pembuatan kapal layar (Pinisi) yang terbaik pada masa itu, namun juga terkenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah.

Syayid Rahmanni al-Saba, seorang Khan-Khaan (Saudagar) Arab yang berniaga ke negeri Tsa-Lu pada Tahun 978 Masehi dalam catatan pelayaran “Mencari Rempah di Yavadha”,   menceritakan tentang Negeri Tsa-Lu. Negeri negeri penghasil rempah berkualitas. Rempah-rempah berupa Fanile dan Adas manis yang dikeluarkan Negeri Tsa-Lu memiliki kualitas tinggi dan banyak diburu orang dipasaran Arab (SSyayid Rahmanni al-Saba, Mencari Rempah di Yavadha, tahun 978 M, Khan-Khaan (saudagar) Arab, hal 22).

Fanile dan Adas manis merupakan bahan kue (Roti) dan penyedap masakan. Bahan-bahan seperti ini sangat dicari para konsumen kala itu. Karena rempah merupakan salah satu kebutuhan pokok, oleh sebab itu banyak orang dari berbagai bangsa, terutama dari Timur Tengah (Jazirah Arab) berniaga di Tsa-Lu, Talo kini Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu.

Kebutuhan akan rempah di Timur Tengah ini sampai-sampai tertuang dalam Al-Qur’an Surat ke-2 Al-Baqarah 2 : 61 dimana umatnya Nabi Musa ingin menukar rahmat Allah SWT, dari nikmat yang bermutu kepada yang kurang bermutu. Bangsa Israel meminta kepada Nabi Musa-Nya, agar Allah menurunkan kepada mereka  rempah-rempah berupa sayur-sayuran, mentimun, bawang putih, Adas manis dan bawang merah.

Ayat menggambarkan keinginan (Selera) umat Nabi Musa diantaranya adalah Adas manis banyak terdapat dan dijual di Mesir. Apa yang diinginkan bangsa Israel yang banyak dijual di Mesir ini  merupakan gambaran tingkat akan kebutuhan rempah di dunia perdagangan Arab amat sangat tinggi.

Kapal-kapal layar yang bersandar di Bandar (Pelabuhan) Tsa-Lu diantaranya kapal-kapal asing berasal dari  Canton (Kwantung-China), Funnan atau Pnom Penh (Champha atau Kamboja sekarang).  Pelabuhan utamanya Go-Oc-Eo, Siam (Thailand), Birma, Mala Dewa (Ceylon–Srilangka), India, Arab, Afrika.

Sedangkan kapal-kapal layar yang berasal dari Nusantara yang berniaga di Tsa-Lu adalah Peureulak (Cikal bakal Kerajaan Samudera Pasee di Provinsi NAD  sekarang),  Phã-mnalä-yû Crï-Iňdrâpurä Miňangatämvan (Provinsi Riau), Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ (Palembang sekarang), Pone (Sulawesi).

Pelabuhan Tsa-Lu yang kini  berada di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu  ini juga banyak disinggahi kapal layar dagang dari Negeri Jawa. Seperti kapal layar Tuban, Japara (Jaffana), Ka-lingga (Ho-Ling), Gersik, Surabaya dan hampir semua pelabuhan besar dan kecil di pesisir Utara Pulau Jawa (Jawa Timur dan Tengah) bersandar di Bandar Tsa-lu, untuk berniaga, maupun meneruskan perjalan pelayarannya menuju India dan Jazirah Arab, dengan transit pertama di Pulau Enggano (Syayid Rahmanni al-Saba, ibid, hal 39).

Pada abad ke-VII Masehi, dimasa dinasti Tang (China) dalam situasi pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang stabil hingga abad ke-X Masehi,  China belum melakukan pelayaran dagang inter-regional. Teknologi kapal China hanya berorientasi pada kepentingan pelayaran sungai dan selat ([Muliono, Heri, Merajut Batam Masa Depan, LP3ES, 2001, hal 4.)

.Perdagangan internasional China hanya dilakukan oleh para pedagang asing (Arab, Persia, India, Champa, dan Nusantara) yang datang kepelabuhan (Bandar) China. Dalam dokumen Thang Yu Lin (Miscellanea of the Thang Dynasty) ditulis oleh Wang Tung, dalam dinasti Sung (Abad ke-XII M) dikatakan pada abad ke-VIII M dimasa Pemerintahan Ta-Li (766-779 M) dan Chen Yuan (785-804 M) telah ada kapal asing yang bersandar di pelabuhan China (Joseph Needam, “Science and Civilization in china”, Physics and Physical Technology, Volume 4, Part III (Civil Engineering and Nautics), Cambridge University Press, London and New York, 1971, hal 451-454.).

Pedagang China (Kapal dagang perorangan, bukan kapal dagang kerajaan) sebenarnya telah sejak lama berniaga di Nusantara. Hubungan dagang itu semakin maju dengan pesatnya seiring kemajuan ekonomi, terutama pada masa kejayaan Negeri Tsa-Lu pada Tahun 940 Masehi. Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri, pada masa kejayaan itu masyarakat Tsa-Lu telah mengenal Sutra China, barang-barang gerabah (Piring, mangkuk, sendok, cawan) dan alat kosmetik.

Samudera Pasee adalah salah satu pusat perdagangan dan pelayaran, dari enam pelabuhan dagang yang ramai dikunjungi   pada abad ke-XIII M. Sebagai mana  yang dilaporkan Marco Polo yang singgah di Samudera Pasee (1292 M) dalam pelayarannya dari China ke Persia. Naskah pelayaran menyebutkan, pada Tahun 940 Masehi itu,  pedagang Peureulak (Cikal bakal Samudera Pasee) telah banyak berniaga ke Negeri Tsa-Lu. Bahkan mereka juga membeli kapal layar dari negeri ini.

Dalam naskah lain disebutkan, ada Tahun 1405-1433 Masehi, pada masa Kekaisaran Ming, China juga mengirimkan tujuh kali ekspidisi maritime ke Nusantara dibawah pimpinan Laksamana Cheng Ho. Mereka berlayar hingga pada  pesisir timur benua Afrika. Ekspidisi ini bertujuan memperluas pengaruh China, dengan cara memperbesar jaringan perdagangan dengan negara-negara (Kerajaan – Kota dagang) lainnya.

Kapal Layar yang bersandar di Pelabuhan Tsa-Lu 940-942 Masehi

 Sumber : “Mencari Rempah di Yavadha”,  Syayid Rahmanni al-Saba 978 M.

Keterangan :

  1. 940 M Mala Dewa membeli 4 Kapal, masuk dok (perbaikan) 1Kapal, , 941 M 27   Kapal kembali ke Mala Dewa, 942 kapal yang datang sebanyak 31 dan kembali 29 dua (2) masuk dok.
  2. 940 M Kwantung membeli 9 kapal, 941 M 38 kapal kembali, 3 kapal masuk dok, 942 M 41 kapal kembali.
  3. 940 M Funnan membeli kapal 2 kapal, dan kembali 17 dengan kapal dagang, 941 M tiga (3) kapal masuk dok, 942 kembali dengan 21 kapal dagang.
  4. 940 M Birma membeli 2 kapal layar, 942 tiga (3) kapal dagang Birma masuk dok.
  5. 940 M Madura (India) membeli 6 kapal, 942 M tiga (3) kapal dagang masuk dok.
  6. 940 M Siam membeli 4 kapal dagang, 941 M satu (1) kapal dagang masuk dok.
  7. 941 M satu (1) kapal layar Peureulak masuk dok.
  8. 940 M Pedagang Arab membeli 14 kapal layar, 941 M tiga (3) kapal masuk dok, 942 M 49 kapal layar kembali ke pelabuhan Arab.
  9. 941 M satu (1) kapal layar Phã-mnalä-yû Crï-Iňdrâpurä masuk dok.
  10. Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ (Tidak ada masalah dalam pelayaran).
  11. Phã-mnalä-yû Tulang Bawang (Tidak ada masalah dalam pelayaran).
  12. 940 M enam (6) kapal layar Ka-Lingga (Kapal dagang di Jawa Timur dan Jawa Tengah) masuk dok. 941 51 kapal kembali berlayar, 942 satu (1) kapal layer masuk dok.
You might also like
1 Comment
  1. Alamsyah Bermanno says

    Luar biasa, keren historynya dan lengkap dengan sumber data.

Leave A Reply

Your email address will not be published.