The Art of “Sarafal Anam” in Bengkulu: Meaning, Function and Preservation (Part 1 dari 9 tulisan)

Oleh: Muhammad Tarobin /Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Pendahuluan

Tulisan ini memaparkan tentang seni sarafal anam di Bengkulu. Ada pelbagai sebutan kesenian ini yang terjadi karena perbedaan dialek seperti “sarapal anam”, “serapal anam”, saraful anam, syarofal anam, syarafal anam, maupun syaraful anam.

Kesenian sarafal anam merupakan bentuk kesenian yang dilagukan dengan irama Melayu. Syair-syair inti dari kesenian ini, diambil dari syair nazhm dalam kitab maulid, Sharf al-anam. Sejauh ini belum banyak penelitian terhadap kesenian ini.

Satusatunya hasil penelitian yang penulis ketahui adalah karya Haryani (2013), berjudul Kesenian Sarafal Anam dan Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya pada Masyarakat Lembak Dalam Adat Istiadat (Studi Kasus di Kelurahan Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu.

Dalam karya ini ia menyimpulkan bahwa kesenian Sarafal anam dikenal oleh masyarakat Lembak di Bengkulu melalui seorang ulama Banten, yakni Sultan Juanda atau Datuk Syekh Serunting. Kesenian ini kemudian diterima dan dikembangkan oleh tokoh masyarakat Lembak, H. Wajid bin Raud sekitar abad XVII.

Hasil-hasil penelitian lainnya, khususnya di Bengkulu, lebih banyak ke bentuk seni lainnya. Misalnya Badius (1986/1987) menelaah seni sastra, yakni bentuk pantun bersahut, bersaeran dan rejung. Sedangkan Yusuf (1986/1987) menelaah eksperimentasi tari mabuk.

Sementara itu, Pohan menelaah seni musik dol dan tassa. Sedikitnya penelitian tentang seni Sarafal anam ini agak mengherankan mengingat seni ini cukup dikenal di Bengkulu. Sarafal anam banyak disebut-sebut dalam sumber-sumber tentang tradisi bimbang di Bengkulu. Salah satunya karya Hanafi, dkk. yang menyebut ketiadaan buku kesusastraan suci tertulis buatan penduduk asli Bengkulu, kecuali karya-karya dari Arab, Parsi, yakni kitab “Sarapul anam.”

Ketiadaan studi tentang seni sarafal anam di Bengkulu ini diduga disebabkan karena nama kesenian itu sendiri yang diambil dari nama teks. Berbeda dengan “hadrah”, “rodat” atau lainnya yang menunjuk pada alat atau bentuk seni. Penelitian ini dilakukan di Majelis Sarafal Anam Masjid An-Nur Kelurahan Kandang, Kec. Kampung Melayu, Kota Bengkulu.

Grup Sarafal anam An-Nur ini menurut data dokumentasi dari Kanwil Kemenag Bengkulu berdiri pada tahun 1986. Saat ini, Grup An-Nur dibina oleh H. Ali Z. Arifin. Grup ini beranggotakan 24 orang lebih yang sebagian besar masih memiliki hubungan kekerabatan, kesemuanya merupakan suku Melayu dan semuanya telah berkeluarga.

Grup ini berlatih setiap minggu sekali pada malam Jumat setelah shalat Isya. Fokus tulisan ini adalah mengenai makna, fungsi dan pelestarian seni sarafal anam di Bengkulu. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Tulisan ini mula-mula akan membahas tentang sejarah Bengkulu dan terbentuknya identitas Melayu Bengkulu dan tradisi bimbang. Kemudian menjelaskan tentang sejarah peringatan maulid dalam tradisi Islam dan penyebaran tradisi ini di Nusantara, khususnya di Sumatra. Sebelum penjelasan ini berakhir pada makna, fungsi dan pelestarian seni sarafal anam di Bengkulu, akan didahului dengan transkripsi beberapa syair Sarafal anam versi Bengkulu, dan hubungan dengan teks-teks maulid yang ada, baik dengan teks mauled

Asal dalam bahasa Arab, maupun teks maulid yang lahir belakangan dalam tradisi Melayu. Sementara itu, untuk menganalisis  transkripsi  Sarafal anam versi Bengkulu dan hubungan beberapa teks maulid yang lahir belakangan, serta hubungan dengan teks asal dalam bahasa Arab, digunakan pendekatan intertekstual. Pendekatan intertekstual berasumsi bahwa teks tidak berdiri sendiri. Teks dibangun atas teks yang lain. Pengarang ketika menghasilkan karyanya telah meresapi karya yang ada sebelumnya.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.