The Art of “Sarafal Anam” in Bengkulu: Meaning, Function and Preservation (Part 2 dari 9 tulisan)

Oleh: Muhammad Tarobin /Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

sumber foto pedoman bengkulu.com

Sekilas Sejarah Bengkulu, Melayu Bengkulu  dan Tradisi “Bimbang”

Bengkulu memiliki sejarah yang unik. Daerah ini merupakan satusatunya di Nusantara yang mengalami masa “penguasaan Inggris” dalam waktu yang cukup lama. Hampir seluruh daerah Bengkulu yang ada sekarang adalah bekas kekuasaan Inggris sejak 1685-1825. Sebelum EIC (East India Company) datang, di daerah ini telah ada beberapa kerajaan kecil yang tunduk pada kerajaan yang lebih besar, seperti Kesultanan Banten  dan Indrapura di Sumatra Barat.

Kerajaan-kerajaan tersebut adalah: Kerajaan Sungai Serut (1550-1615), Kerajaan Selebar (1565-?), Kerajaan Depati Tiang Empat (1505-1640), Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sungai Itam, dan Kerajaan Anak Sungai.  Namun telaah terhadap kerajaan-kerajaan tersebut sangat sulit karena minimnya sumber-sumber tertulis.

Setidaknya ketika Inggris datang di Bengkulu pada tahun 1685, terdapat dua kerajaan yang mengikat perjanjian dengan Inggris, yakni Pangeran Raja Muda dari Kerajaan Sungai Lemau dan Depati Bangsa Raja dari Kerajaan Sungai Itam. Sebagai konsekuensi dari perjanjian itu Inggris mendapat hak monopoli membeli lada di kedua daerah tersebut. Sebaliknya Inggris menjanjikan perlindungan dan bantuan terhadap ancaman-ancaman dari luar. Inggris kemudian mendirikan benteng pertama di Bengkulu, yakni Fort York.

Menurut Benyamin Bloome, kepala kantor dagang Inggris di Bengkulu, saat itu penduduk pesisir telah menganut agama Islam karena saat EIC datang bertepatan dengan bulan puasa dan ketika bersumpah mereka menggunakan kitab suci al-Quran.

Beberapa tahun kemudian kota pesisir ini tumbuh menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang maju dengan aneka ragam penduduk. Salah satunya komunitas Tionghoa yang pada tahun 1689, untuk pertama kalinya dianjurkan oleh EIC bermukim di Bengkulu. Menurut catatan, pada tahun 1712 di kota ini telah terdapat 800 unit rumah.

Sementara itu keberadaan etnis Melayu, menurut catatan Marsden   saat penelitian pada tahun 1771 (diterbitkan pertama kali pada 1783), di daerah selatan Bengkulu tidak ada orang Melayu selain mereka yang dipekerjakan oleh orang-orang Eropa.

Melayu identik dengan Muslim dan telah khitan. Meski demikian, terdapat dua kasus yang berbeda ketika Sultan Anak Sungai (Sultan Muko-Muko) bangga menyebut dirinya sebagai orang Melayu, sedangkan Pangeran Sungai Lemau – yang meskipun Muslim- tidak mau disebut Melayu, tetapi menyebut diri sebagai orang Ulu (Rejang). Keberadaan etnis Melayu diidentifikasi sebagai komunitas orang orang pesisir, yang hidup di bandar atau pusat-pusat perdagangan.

Pada masa awal terbentuknya kota Bengkulu, pusat perdagangan ini terletak tidak jauh dari benteng yang dibuat Inggis, termasuk dekat benteng baru yang dibangun oleh Inggris pada 1714-1919, yakni Fort Marlborough. Terbentuknya identitas Melayu Bengkulu telah melalui proses adaptasi yang panjang. Ia merupakan hasil dari pergumulan “lokal genius” dan proses sosialisasi antara kebudayaan asli anak negeri Bengkulu dalam hal ini suku Rejang dengan kebudayaan lain di sekitarnya.

Diantara kebudayaan yang mempengaruhi dan membentuk identitas budaya Melayu Bengkulu menurut Anwar adalah kebudayaan Minang, Tionghoa (China), India dan Jawa. Dari empat kebudayaan tersebut, menurut Anwar, yang paling dominan adalah pengaruh Minangkabau. Hal ini mengingat bahwa sejak semula terbentuknya Kerajaan Sungai

Lemau melalui perkawinan bangsawan Indrapura dari Sumatra Barat, yakni Maharaja Sakti dengan Putri dari Kerajaan Sungai Serut, yakni Putri Gading Cempaka. Demikian juga para pendamping Maharaja Sakti yang berasal dari Agam, Simpur, Malalo, dan Singkarak Laning yang juga menikah dengan penduduk asli Bengkulu.

Etnis Melayu menjadi mayoritas dari 10.000 jiwa penduduk Bengkulu pada tahun tahun 1766.  Selain Melayu, terdapat etnis lain yang mendiami Bengkulu, yakni etnis Rejang di wilayah Kerajaan Sungai Lemau.

Etnis Lembak di wilayah Kerajaan Sungai Itam dan Kerajaan Selebar. Etnis Serawai di Manna, Pasemah di Seluma, dan etnis “Lampung” di Kaur dan Krue.  Hingga sekarang terdapat beberapa kelompok etnis yang masih mendominasi di setiap kota/kabupaten di Provinsi Bengkulu.

Meski demikian, penduduk kota/kabupaten tersebut kini semakin heterogen akibat adanya penduduk pendatang melalui program transmigrasi di Bengkulu. Kelompok-kelompok etnis tersebut  sebagaimana disebut Yusuf  adalah Rejang, Serawai, Kaur, Muko-Muko, Lembak, Pekal, Melayu, Pasemah, dan Enggano.

Wilayah domisili suku-suku tersebut adalah :

  1. Suku Rejang. Suku ini berdomisili di sebagian besar daerah Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Kabupaten Bengkulu Utara. Suku Rejang yang berdomisili di Kabupaten Bengkulu Utara disebut Rejang Pesisir. Komunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa rejang.
  2. Suku Serawai. Suku ini berdomisili di sebagian besar Kabupaten Bengkulu Selatan. mereka mendominasi di kecamatan Sukaraja, Seluma, Talo, Pino, Kelutum, Manna dan Seginim. Suku ini memakai bahasa Serawai.
  3. Suku Kaur. Suku ini berdomisili di wilayah paling selatan Provinsi Bengkulu. Sekarang secara administratif merupakan wilayah Kabupaten Kaur. Bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Mulak.
  4. Suku Muko-Muko. Suku ini berdomisili di bagian paling utara Provinsi Bengkulu, sebelah utara Kabupaten Bengkulu Utara, tepatnya Kabupaten Muko-Muko. Komunikasi sehari-hari mereka dengan bahasa Muko-Muko.
  5. Suku Lembak. Suku ini tersebar di sebagian kecil Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, Kabupaten Rejang Lebong dan Kota Bengkulu. Komunikasi mereka sehari-hari menggunakan bahasa Bulang.
  6. Suku Pekal. Suku ini berdomisili di sebagian kecil wilayah Kabupaten Bengkulu Utara atau disekitar Kecamatan Ketahun. Komunikasi mereka sehari-hari memakai bahasa Pekal.
  7. Suku Melayu. Suku ini umumnya berada di wilayah Kota Bengkulu. Komunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Melayu Bengkulu.
  8. Suku Pasemah. Suku ini berdomisili di Kabupaten Bengkulu Selatan, dan komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Pasemah.
  9. Suku Enggano. Suku ini berdomisili di Pulau Enggano, komunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Enggano.

Suku-suku yang ada di Bengkulu memiliki adat-istiadat yang terpelihara secara turun-temurun. Adat-istiadat tersebut memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing. Salah satunya adalah perayaan perkawinan.

Masyarakat Bengkulu tidak mengenal masa-masa pendekatan (pacaran). Bujang dan gadis dipingit sebelum menikah, bahkan gadis jarang diperbolehkan keluar rumah. Salah satu cara bagi para pemuda dan pemudi untuk memiliki kesempatan mendekatkan diri dan bercakap-cakap dengan gadis yang disukai adalah dalam acara “bimbang”.

Marsden menyebut bimbang sebagai “pesta rakyat di mana orang-orang muda dapat saling bertemu dan bercakap-cakap di atas sebuah arena balai atau panggung.  Menurut “jenisnya”, bimbang digolongkan menjadi dua, yaitu bimbang gedang, yakni adat perkawinan yang biasanya dilakukan oleh lapisan masyarakat elit, dan bimbang kecil yaitu pesta adat perkawinan rakyat kebanyakan (St. Kdeir, 1870: II).  Dalam bimbang gedang itulah terdapat istilah malam bimbang gedang, yaitu sebuah prosesi ritual yang dilakukan pada malam hari, yang disemarakkan dengan kesenian tradisional berupa tari-tarian.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.