The Art of “Sarafal Anam” in Bengkulu: Meaning, Function and Preservation (Part 3 dari 9 tulisan)

Oleh: Muhammad Tarobin /Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Makna bimbang  yang ada sekarang sebetulnya telah mengalami erosi dan retradisionalisasi. Makna bimbang pada awalnya, sebagaimana disebut dalam Adatrechtbundel, 1915 tidak hanya dipersepsikan pada pesta perkawinan saja, melainkan beberapa pesta yang lain, yakni bimbang menyunat, bimbang menindik dan juga bimbang mendundang benih (panen).

Jika secara “ekonomis” dikenal dua macam bimbang, yakni bimbang gedang dan bimbang kecil, maka dalam perspektif kebudayaan, sebagaimana disebut Setiyanto, terdapat tiga mainstream kebudayaan, yakni tradisi Malim, tradisi Ulu dan tradisi Melayu.

Ketiga tradisi tersebut tercatat dalam sebuah “Adatrechtbundel” yang diberi label “Adat Lembaga in Bengkoelen 1910-1911”. Karenanya tradisi bimbang pun, dalam perspektif kebudayaan terbagi menjadi tiga, yakni: bimbang adat Melayu, bimbang adat Ulu, dan bimbang adat Malim.

Menurut Setiyanto, bimbang adat Melayu terbagi dalam lima rangkaian aktifitas yang diukur berdasarkan ukuran hari:

  1. Mufakat adik-sanak;, yakni aktifitas mengumpulkan seluruh anggota keluarga dan sanak famili termasuk nenek-mamak, besar kecil, tua muda, untuk memberitahukan dan sekaligus meminta kesepakatan segenap sanak familinya mengenai rencana menyelenggarakan acara bimbang.

Pertemuan ini sejatinya tidak sekedar pemberitahuan, tetapi meminta partisipasi aktif setiap anggota keluarga dalam wujud sumbangan pemikiran maupun material untuk acara gawe bimbang (penyelenggaraan pesta perkawinan).

  1. Mufakat raja-penghulu; yaitu aktifitas adik-sanak atas nama tuan rumah mengundang datuk (kepala pasar), pemangku (kepala dusun), Penghulu muda (kepala urusan perkawinan), punggawa (pamong

dusun), imam (kepala masjid), khatib (juru khotbah), bilal (juru adzan), maupun garim (penjaga masjid/surau) untuk mengusulkan mengenai rencana mengadakan acara bimbang. Biasanya setelah diteliti segala macam persyaratan dan perlengkapannya, maka mereka memberikan kata sepakat.

  1. Memecah Nasi, yakni mengumpulkan kembali adik-sanak, rajapenghulu, serta orang-orang yang di sekelilingnya untuk mematangkan rencana gawe bimbang. Disebut hari memecah nasi karena pada hari itu diadakan jamuan makan bersama oleh tuan rumah. Akan tetapi acara intinya adalah pembentukan acara kerja bimbang (panitia pelaksana bimbang).
  2. Maulud Nabi, merupakan puncak acara bimbang yaitu hari bertemunya kedua mempelai dan sekaligus sebagai hari akad nikahnya. Akad nikah biasanya diselenggarakan pada pagi hari, dan setelah itu ada iringan musik “Sarafal Anam”, dalam rangka menyambut dan menghibur tamu undangan yang hadir. Itulah mengapa acara pada hari itu juga dinamai “maulud Nabi.”
  3. Pengantin mandi-mandi; berlangsung sore hari setelah akad nikah, merupakan acara memandikan pengantin yang dilakukan oleh ibu pengantin perempuan dengan air yang telah dicampur kembang (bunga) tujuh warna. Selanjutnya pada malam harinya diadakan pesta besar yang disebut bimbang gedang. Di samping acara perjamuan juga ada acara joget dan tari tepuk tangan, dan nyanyian diiringi musik tradisional. Adat bimbang yang digunakan di Kota Bengkulu ada dua, yakni bimbang adat Melayu dan bimbang adat malim.

Bimbang adat malim, pola dan aturannya sama dengan bimbang adat Melayu. Hanya saja acara hiburan diisi dengan pembacaan maulid Nabi. Model ini lebih dikenal dengan istilah “sampai anam”. Sementara itu, bimbang adat Ulu berlaku di daerah Rejang Lebong. Bimbang ini lebih dikenal dengan bimbang Adat Kejai.

Jika dalam bimbang adat Melayu dan Malim, acara music “sarafal anam” merupakan bagian integral ritual adat, maka dalam bimbang adat Ulu bagian ritual yang sangat penting adalah tarian adat Kejai, sementara acara musik “sarafal anam” dilaksanakan setelah acara bimbang adat selesai, yakni pada hari kesembilan.

 Maulud dan Sarafal Anam di Bengkulu

Sumber-sumber tertua tentang maulid seperti karya Jamāl al-Dīn ibn al-Ma’mūn (w. 16 Jumadilawal 588 H/ 30 Mei 1192 M), dan ‘Abd al-Salām ibn al-Tuwair (w. 617/1220 M) sebagaimana disebut oleh Kaptein menjelaskan bahwa perayaan maulid sudah dirayakan sejak era dinasti Fatimi. Sedangkan Hasan al-Sandūbī menyebut bahwa khalifah Fatimi yang pertama kali merayakan maulid adalah al-Mu’izz li-Dīn Allāh (berkuasa pada 341-365 H/ 953-975 M).

Sementara Kaptein sendiri meragukannya dan berpendapat bahwa tidak ada perayaan maulid sebelum tahun 514 H (1120/21 M). Tradisi Fatimi mengenal enam peringatan maulid, yakni: Maulid Nabi Muhammad Saw., Maulid Ali ibn Abi Thalib, Maulid Fatimah, Maulid al-Hasan, Maulid al-Husayn  dan Maulid Khalifah al-Hadir.

Dalam tradisi Sunni, peringatan maulid menurut Kaptein21 sudah dimulai di Siria pada masa Nūr al-dīn (511-569/1118- 1174 M). Tradisi ini juga dimulai oleh seorang syekh di Mosul, yakni ‘Umar al-Mallā’ yang hidup sezaman dan menjadi guru dan panutan bagi Nūr al-Dīn.

Menurut  al-Suyūtī, orang yang pertama kali merayakan maulid adalah Muzaffar al-Dīn Kokburī (w. 630/1233 M). Sedangkan menurut Abū Syāmah bahwa pemula acara maulid adalah Syekh ‘Umar al-Mallā’. Kaptein dalam hal ini, menyebut bahwa maulid sudah dikenal sebelum Muzaffar al-Dīn dan ‘Umar al-Mallā’.

Baik al-Suyūtī maupun Syāmah memiliki kepentingan masing-masing dalam kedudukan sebagai ulama dan posisinya sebagai ulama pemerintah. Al-Suyūtī menyebut Muzaffar al-Dīn sebagai pemula tradisi ini adalah untuk membela bahwa tradisi maulid telah dimulai oleh penguasa yang adil dan didukung oleh para ulama.

Sementara itu, di Nusantara sendiri belum ada yang memastikan kapan tradisi maulid ini dilaksanakan pertama kali. Hurgronje misalnya menyebut bahwa tradisi maulid sudah merata didusun-dusun di Aceh ketika ia berada di sana, dan dikatakan tradisi ini dimulai di abad XVI atas perintah Sultan Turki.

Tetapi sumber-sumber penting, bahkan di abad XVII seperti Adat Aceh, tidak menyebut adanya peringatan maulid ini.22 Dalam Sejarah Melayu, pada abad ke-15 menyebut tiga tradisi hari besar Islam, yakni: Idulfitri, Idul Adha, dan 27 Ramadhan.

Adat Aceh menyebut dan menjelaskan secara detail empat perayaan hari besar Islam pada abad XVII, yakni: hari permulaan bulan puasa (hari memegang puasa), malam kemuliaan pada 27 ramadhan (malam lailatulkadar), akhir puasa (Idul Fitri), dan Idhul Adha.  Diduga kuat tradisi maulid ini baru masuk ke Aceh sejak akhir abad XVII memasuki abad XVIII.

Hal ini terjadi ketika para sayyid keturunan Arab menjadi penguasa di Kesultanan Aceh. Tercatat bahwa di akhir abad XVII dan awal abad XVIII Aceh dipimpin oleh tiga sultan keturunan Arab berturut-turut, yakni: Badr al-’Ālam Syarīf Hasyīm Jamāl al-Dīn Bā al-‘Alawī al-Husainī (1699-1702 M), Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702 M), dan Jamāl al-’Ālam Badr al-Munīr (1703-1726).

Tradisi maulid bukan semata-mata bentuk ekspresi dan kecintaan terhadap Nabi Saw dan keluarganya. Tradisi tersebut juga menjadi alat politis bagi para Sayyid keturunan Arab untuk mendapat penghormatan dari masyarakat mengingat mereka juga keturunan Nabi Saw.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.