The Art of “Sarafal Anam” in Bengkulu: Meaning, Function and Preservation (Part 4 dari 9 tulisan)

Oleh: Muhammad Tarobin /Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Mount Felix atau Gedung Daerah Bengkulu.

Masuknya kesenian Sarafal Anam  ke Bengkuluini tidak ada tahun yang pasti. Namun diduga kuat masuknya kesenianini, sejalan dengan masuknya Islam ke Bengkulu. Mengenai masuknya Islam ke Bengkulu ada beberapa teori:

Pertama, menyebutkan bahwaIslam masuk ke bengkulu melalui tokoh ulama Aceh, yakni Tengku MalimMuhidin yang menetapkan Islam di Gunung Bungkuk, dan berhasil mengislamkan Ratu Agung, penguasa Gunung Bungkuk. Kedatangan Tengku Malim Muhidin ini tinggal pada tahun 1417 M.

Kedua, kedatangan Ratu Agung dari Banten menjadi Raja Sungai Serut.Ratu Agung menurut Siddik  adalah anak Sultan Hasanuddin dariBanten (1546-1570). Ratu Agung memerintah di Kerajaan Sungai Serut diperkirakan pada tahun 1550-1570 M.

Ketiga, ketiga melalui perkawinan Sultan Muzaar Syah (1620-1660 M), raja dari Kerajaan Indrapura dengan Putri Serindang Bulan, puteri Rio Mawang (1550-1600 M) dari kerajaan Lebong (Depati Tiang Empat).

Keempat, melalui persahabatan antara Kerajaan Selebar dengan Kerajaan Banten dan perkawinan antara Pangeran Nata Di Raja (1638-1710) dengan Putri Kemayun, Putri Sultan Ageng Tirtayasa.

Kelima, melalui hubungan antara kerajaan Palembang Darussalam dengan Raja Depati Tiang Empat di Lebong. Dari kelimateori di atas dapat menolak bahwa Islam masuk ke Bengkulu dalam rentang waktu antara aw al abad XV (1417)sampai akhir abad XVII karenaitu tidak mengherankan bahwa pada Tahun 1685.

Bloome melaporkan bahwa penduduk pesisir Bengkulu telah untuk agama Islam, berpuasa dan bersumpah dengan menggunakan kitab suci al-Qur’ an.

.Syair Sarafal Anam dan Maulid: Perbandingan di Tiga Daerah

Meskipun kesenian ini disebut sebagai “Sarafal Anam” dan identikdengan salah satu teks yang digunakan dalam acara-acara maulid, yakni“ Mawlid Sharf al-Anam”. Namun teks yang digunakan dalam kesenian  Sarafal Anam ini hanyalah teks nazmnya saja  Ada beberapa teks nazm yang terdapat dalam “ Mawlid Sharf al-Anam” tersebut, namun yang paling dikenal dan biasanya disebut dari frasa awalnya, yakni “tanaqqal” dan“bishahri”.  Mereka menyebutnya “tanakal/tenakal” dan “bisahri/bisarih”.Syair tanaqqal

terdiri atas 8 bait syair, yang masing-masing terdiri atas dua baris syair. Mereka biasa menyebut masing-masing bait secara terpisah.Tiga bait pertama sangat dikenal, yakni:

tanakal  (tanaqqal), wasirtan  (wasirta) dan aniat  (hanī’an) Sedangkan syair bisahri  terdiri atas 7 bait syair, dengan masing-masing bait terdiri atas dua baris syair. Skema pertunjukan Sarafal Anam, dimulai dengan sesi “hadrah”yang intinya mengundang atau mengumpulkan para tamu dan hadirin. Sesi ini berlangsung selama 15-30 menit. Sesi hadrah diisi dengan lagu jawab Yā Rabbanā  (radat) sedangkan syairnya menggunakan tiga syair dari tanakal, yakni tanakal  (tanaqqal), wasirta , dan aniat  (hanī’an)

Setelah pengunjung ramai, baru kemudian memasuki “sesi inti”, yakni dengansyair sarafal anam . Syair yang biasa ditampilkan adalah tanakal  (tanaqqal ), bisahri  (bishahri ), dan ulidal  (wulidal ). Masing-masing sesi biasanya dipimpin oleh seorang “pimpinan” yang akan memulai dengan lagu “jawab” terlebih dahulu. Misalnya salah satu lagu “jawab” (Yā Rabbanā )untuk sesi “hadrah” adalah sebagai berikut:

 Allah Ya Rabbanā salam 

Amba islam bikhoiril basyar (2x)

 Ama lahu salam a-a-a-am 

Ama lahu salam a-a-a-am 

Ama lahu salam, ama tuwan salam 

Ama wailil badri i-i-iWa a-a- la ba-sar

Kemudian peserta yang lain akan mengulang lagu jawab tersebutsambil memukul gendang secara “datar” dan bersamaan. Setelah syair jawab selesai barulah memasuki syair tanakal  (bait pertama), kemudiankembali ke syair jawab. Masing-masing syair, baik tanakal dalam sesi hadrah, maupun tanakal, bisyahri, dan ulidah  dalam Sarafal Anam  memilikilagu jawab yang berbeda-beda. Sayangnya kelompok ini tidak memiliki teks kumpulan lagu jawab tersebut.

Demikian juga, syair-syair pokoknyamemiliki “kata atau kalimat” tambahan yang sayangnya juga belum ditulis. Yang paling menentukan dalam pemilihan jenis lagu jawab adalah “pimpinan”nya, karena itu “pimpinan” biasanya dipilih dari orang tua yang sudah berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang luas tentang lagu-lagu tersebut.

Seniman Sarafal Anam  Bengkulu mengenal tiga nada, yakni  pangkal,naik , dan turun.  Sedangkan jenis-jenis pukulan terhadap gendang akan menyesuaikan dengan tiga nada tersebut pada nada pangkal dan turun dikenal pukulan “datar”, yakni pukulan rendah dan renggang yang terdiri atas dua pukulan.

Sedangkan saat nada “naik” terdiri dari dua kelompok pukulan secara beruntun, kelompok pukulan pertama diiringi kelompok pukulan kedua. Kelompok pukulan pertama terdiri atas 3 pukulan dan kelompok kedua terdiri atas enam 6 pukulan lebih. Tenaga dan intensitas kelompok pukulan kedua lebih bersemangat dari pada kelompok pertama. Kelompok pukulan saat nada naik ini dikenal dengan pukulan atau irama “rentak kudo”.

Meski demikian, bait syair tanakal  yang mereka lantunkan berbedadari syair tanaqqal  yang sebenarnya seperti terdapat dalam kitab-kitab maulid. Hal ini terjadi disamping karena adanya tambahan, kesalahan, maupun faktor irama Melayu yang “khas” yang diwarisi dari tradisi terdahulu. Penulis sendiri belum bisa menjelaskan jenis irama tersebut dan darimana irama tersebut diwariskan. Sebagai contoh adalah syair

Tanaqqal. Syair tanaqqal  yang dalam kitab-kitab maulid terdiri atas dua baris, yakni:

Tanaqqalta fī aslābi arbābi sūdadi ; kadha al-shamsu fī abrājihā tatanaqqalu ”.

Maka dalam kesenian Sarafal Anam Annur ini berubah menjadi empat bait dengan tambahan kata “ Allāha ” di depan,  pembagiannya sebagai berikut

Allāha taaa taanaqqalta (ha) fī (il) aslāa-b Allāha bii-biaarbabi sau saudadi (sauradi) Allāha kaa dhas syamsuuu (ul) suu fī (ila) abraa Allaha jii-jihataaa (ji har taa) (au) tanaaa tanaqqalu

Pada bait syair di atas suku kata atau kata dalam tanda kurung merupakan bagian syair yang diucapkan oleh seniman Sarafal anam. Adakalanya suku kata tersebut merupakan tambahan untuk menyesuaikanirama seperti tambahan “ha”, “il”, “ul”, “ila” dan “au”. Namun ada juga bagian dari syair tanaqqal yang salah diucapkan, seperti kata sūdadi menjadi sauradi, atau  jihā ta  menjadi “jihar taa” Umumnya kesalahan ini hampir dilakukan oleh seniman yang sebagian besar tidak bisa membacasyair Arab.

Sementara sebagian seniman muda yang mampu membacasyair Arab, berusaha “memperbaiki” kesalahan tersebut agar sesuaidengan syair asal, namun suara mereka tenggelam dikalahkan oleh suara para seniman yang lebih tua dan sangat bersemangat.Sedangkan bait wasirta  terbagi juga dalam empat bait, akan tetapidengan tambahan berbeda misalnya:

Allāha waa wasirtaaa (ana) ta sarii (ta harii)i-i yan fii Allah butūnī (il) tasshaaa (au) tasharafaatYaa maulayya ya rabbana Allāha biii bihamlii-in alaa alaihi (na) fii Allaha (fiī) umurii (il) mu’aaa muawwaluYaa maulayya ya rabbana

Jika bait tanakal  di atas menggunakan jawab dengan lagu  yā Rabbanā  sebagaimana tertulis di atas, maka bait wasirta dijawab dengan lagu yanglain, misalnya lagu Lihamzatun  (yang betul adalah Likhamsatun), yakni:

Lihamzatun asafi (il) bihā

Khairil wabā li fatimah

Ya maulayya ya rabbana

Ya mustafa wa al-murtada

Wa ma daimah li madīnah

Ya maulayya ya rabbanaa

Syair jawab lihamzatun di atas menurut telaah penulis, adalah“penyimpangan” dari syair “likhamsatun”. Syair tersebut dalam redaksi Arab berbunyi:

“lī khamsatun utfī bihā harra al-wabā’i al-hatimah; al-mustafā wa al-murtadā wa abnāhumā wa al-fātimah.”Artinya: “Aku mempunyai lima pegangan, yang dengannya kupadamkan penyakit-penyakit, yaitu Nabi (al-musthafa) yang terpilih, Ali (al-murtadha) yang diridhoi dan kedua anak mereka( al-Hasan, al-Husain) dan Fatimah. Syair “likhamsatun” merupakan doa untuk menghindari musibah dengan menyebut lima perantara, yakni al-Mustafā (Nabi Muhammad Saw), al-Murtadha (Ali b Abi Thalib), Fatimah dan kedua anaknya, al-Hasan dan Husain.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.