The Art of War: Perang Mindset ala Internet

Penulis: Freddy Watania, Editor Bengkuluinteraktif.com

Foto" ILustrasi liputan6.com

Konflik Israel vs Palestina mengajarkan kita, “How to make this country great again make Indonesia great again”. Negara yang super power akan ditakuti dan diikuti negara-negara powerless.

Sejarah peradaban dunia selalu ditulis dan dikte menurut narasi kolonialisme dan narasi pemenang perang. Teknologi informatika, termasuk teknologi internet juga dikuasai pemenang perang.

Internet mesin perang baru era post modern menjadi mesin perang kolonialisme virtual reality menggunakan tentara global netizen, untuk menaklukan identitas lokal nitizen (Nasionalisme).

Disrupsi internet menjadi medan pemicu strategi awal perang dunia maya ke dunia nyata atau sebaliknya. Era globalisasi distrupsi internet membuka tembok dua perbatasan dan pembatasan teritorial setiap negara, langsung menembus inti kekuatan negara yaitu mind set dan perasaan (Empati dan simpati). Nitizen negara nyata terkurung dalam dan menjadi warga netizen global dunia maya.

Mengapa Tiongkok membatasi internet, medsos, Google dan lain-lain? Tiongkok tidak mau netizennya diintip isi kamar, isi hati, dan isi pikiran oleh komunitas global.

Dunia maya menciptakan nafsu perang di dunia nyata lewat pelatihan simulasi perang, dengan menciptakan medan perang virtual War of Lord, Mobile Legend, Free Fire dan CS.

Indoktrinasi perubahan Mind Set pelunturan nasionalisme dihilangkan, masuk dalam nasionalisme global (Tanpa nasionalisme dan sekat-sekat negara dan kebangsaan).

Internet memainkan modulasi imajinasi ego nasionalisme global menghancurkan nasionalisme lokal. Internet membuat identitas kita samar-samar, antara ada dan tiada. Seperti kekacauan orientasi seksual LGBT dan kekacauan visual wajah gender pria dan wanita ikon Pop Korea. Keduanya terlihat halus dan kemayu.

Indentitas ditanam di wilayah abu-abu terjebak antara dunia visual kenyataan ke visual dunia maya atau sebaliknya. Visual dunia maya yang divisualkan ke visual dunia nyata. Layaknya citizen Jepang yang terperangkap dalam dunia impian anime virtual, yang di dunia nyatakan dalam costume cosplay anime.

Batasan jasmani dan rohani manusia seakan-akan diatur oleh internet. Kaya dan miskin ditentukan visual grafik bitcon. Surga dan neraka divisualkan Medsos (Nitizen haters vs followers).

Disrupsi internet menjebak manusia tahanan emoji, menjadi sarana percobaan grafis dan grafik visual dan kelinci percobaan produk visual dunia maya. Internet menjajah membuat kita saling berperang. Timing-nya diatur-atur oleh mesin-mesin visual dunia maya. Robot (Internet mesin) telah mengambil alih dan mengatur hidup mati manusia. Kita sadari tapi kita coba pungkiri.

Disrupsi internet sedang berproses menghancurkan identitas diri, identitas kebangsaan, identitas politik, identitas agama, identitas hokum serta identitas social,  akan direduksi menjadi zero. Nilai moralitas lokal luntur, untuk mendapat nilai moral baru. Identitas baru sebagai global citizen aka global netizen.

Internet Mesin Pinter Adalah ‘TUHAN’ dunia yang memahami keinginan Duniawi Manusia. ‘TUHAN AI’ yang bersuara lembut nanmengoda yang bisa berinteraksi lewat suara mesin google, suara mbak google paham semua hal.

Internet Telah Menanam Otak ‘TUHAN AI’ (Artificial Intelligence) tanpa manusia sadari, manusia sedang sujud menyembah, memuja, beribadah dan memuliakan internet sepanjang hari. Manusia sedang menuhankan mesin ciptaanya sendiri.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.