The Bencoolen Dhol India

Foto: ramahtraveler.com

Salah satu obyek wisata andalan Provinsi Bengkulu adalah perayaan kebudayaan Tabut (Tabot). Sebuah budaya serapan sekelompok  masyarakat pesisir Kota Bengkulu (Bencoolen) yang sudah berlangsung setidaknya  tiga abad lebih.

Kini kebudayaan Tabut dengan berbagai pernak perniknya sudah teradatkan. Sudah menjadi kebiasaan yang ‘mendarah daging’ dan ada perasaan tak enak bila tdak dirayakan oleh kelompok tersebit.  Berbaur dengan kondisi sosial dan situasi alam Negeri Bengkulu sejak kedatangannya beberapa bulan, sekitar Tahun 1714 (?), saat koloni Inggris dengan East India Company (EIC) membangun Benteng Marlborough.

Meskipun tak semua pengamat dan pemerhati budaya sepakat akan tahun kedatangan sekelompok orang dari daratan India tersebut. Hal dapat dimengerti dan dipahami, mengingat sejarah masa lalu yang minim akan literatur, selain mengutip catatan kolonial Inggris atau Belanda.

Dalam perayaan Tabut, ada alat musik yang dimainkan yaitu dhol dan tasya. Sebutan dari India Utara abad ke-16 yang diserap oleh masyarakat Bengkulu keturunan India. Hanya saja penulis belum menukan seni Tabut dalam catatan itu, seperti yang ada di kota Bengkulu. Padahal di Perayaan Tabut di Bengkulu,  dhol dan tasya merupakan satu kesatuan dalam perayaan dan bagian dari ritualnya.

Penulis pada catatan kali ini tidak membahas, apakah perayaan Tabut berikut perangkat dhol dan tassa yang di peringati tiap  tanggal 1 Muharram itu merupakan tradisi ataukah budaya kelompok, seperti dimana tempat asalnya berawal.

Bisa saja Tabut/Tabot dengan dhol dan tassa itu merupakan tradisi. Suatu perbuatan atau pola tingkah awal seseorang, kelompok yang sengaja atau tidak sengaja dilakukan serta perbuatan itu disukai oleh generasi berikutnya. Mungkin saja itu merupakan budaya. Suatu hal yang terbentuk rumit dan  dirasa merupakan suatu kebutuhan kelompok dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada kesulitan penulis untuk merangkai, mencari korelasinya antara perayaan Tabut dengan alat musik dhol dan tassa, bila itu merupakan bagian yang tak terpisahkan.

Dhol dalam bentuk awalnya di India.

Dhol Bengkulu Adopsi Nama

Alat musik Dhol Bengkulu mempunyai keunikan tersendiri. Alat musik pukul ini dibuat dari pokok atau bagian akar pohon kelapa, yang sejak zaman dahulu, pohon kelapa atau nyiur ini memang banyak tumbuh. Ini tentunya berbeda dengan dhol di India  atau di sekitar India. Perbedaan regional  dalam penyesuaian saja.

Tak hanya bentuk dholnya,  irama musiknya dan alat pukulnyapun berbeda. Ini dapat di pahami, mengingat suatu karya tak selalu serupa dari asalnya. Dia akan berubah sesuai  situasi dan kondisi alam sekitar terhadap kebutuhan akan  konstruksi karya seni.

Berbeda bahan dengan Dhol Bengkulu, salah satu bagian terpenting dari dhol adalah cangkangnya. Ada variasi wilayah, baik ukuran, dimensi dan kayu yang digunakan. Biasanya di India berbentuk silinder atau laras. Kayu yang paling umum digunakan adalah kayu mangga dan shisham

Kayu mangga (Genus – mangifera) biasanya digunakan untuk cangkang bedug. Ada kelebihan dan kekurangan kayu ini. Sisi positifnya, kayu mangga (a.k.a. “aam”) sangat ringan; berbeda dengan Dhol Bengkulu dari pokok atau akar pohon kelapa yang cukup berat.

Keunggulan lain pohon mangga, mudah di dapat disana. Namun, kayu mangga bukannya tanpa kekurangan. Kayu mangga secara umum dianggap memiliki suara yang jauh lebih tipis dibandingkan kayu lain yang lebih berat. Tidak diragukan lagi kerugian terbesar dari kayu mangga adalah kerentanannya terhadap serangan serangga  seperti kumbang serbuk palsu (Xylopsocus capucinus).  Tidak seperti pokok atau akar kepala yang mampu bertahan puluhan tahun.

Kayu Shisham (Genus – dalbergia) adalah kayu lain yang biasa digunakan untuk membuat dhol. Ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu keunggulan kayu shisham adalah kualitas suaranya yang superior dan sangat tahan terhadap serangga.

Kayu shisham, kayu yang sangat keras, sehingga sulit untuk dipotong dan dikerjakan. Selain itu, alat musik ini sangat berat, sehingga alat musik yang terbuat dari shisham sulit dibawa dan bahkan lebih sulit untuk ditarikan.

Dhol di negeri asalnya, umumnya mengunakan  kulit kambing. Beberapa dekade terakhir ini dengan  peningkatan popularitas dhol, kini mengunakan  bahan buatan. Sementara  dhol Bengkulu masih bertahan mengunakan kulit sapi meskipun terkadang ada juga mengunakan kulit kambing.

Dhol Bengkulu ada saat perayaan Tabut dilazimkan oleh sekelompok masyarakat yang datang dari jazirah  India. Beberapa sumber menyebutkan, dhol itu dari masyarakat Adivasi di Gujarat, India. Tentunya berbeda bentuk dhol Bengkulu (Istilah deskriptif) dengan tempat asalnya, irama pukulannya, kecuali penyebutan nama alat musik itu dhol.

Awalnya, dhol adalah drum rakyat yang sangat populer di India Utara, Pakistan  dan Bangladesh. Dhol itu tong berbentuk. Terkadang drum silinder, dengan kulit hewan pada kedua sisi. Satu sisi untuk  nada tinggi dan sisi lain nada rendah. Tak sama dengan Dhol Bengkulu yang hanya punya satu sisi.

Hingga kini istilah dhol belum ada kejelasan termasuk  instrumennya  itu sendiri. Ada pendapat, kata dhol mungkin berasal dari Persia. Mungkin berasal dari “dohol” atau “duhul” Persia. Namun, gambar pemain dhol tampaknya hadir di ukiran relief di dinding kuil India sejak zaman dahulu. Ada kemungkinan, baik instrumen maupun namanya memiliki hubungan Indo-Eropa yang dalam.

Di sekitar India Utara, Pakistan  dan Bangladesh, seseorang menemukan variasi teknik yang cukup besar. Orang menemukan penggunaan tangan, tongkat dan berbagai kombinasi keduanya. Gaya yang paling terkenal adalah gaya bhangra yang menggunakan tongkat di kedua sisinya.

Ada juga variasi apakah sisi bernada rendah harus dimainkan di sisi kiri atau kanan. Di sebagian besar Asia Selatan, lebih umum memainkan sisi bernada rendah dengan tangan kiri.

Pada dhol Bengkulu, tinggi rendahnya instrumen tergantung irama  yang di ingini, sesuai keadaan prosesi ritual Tabut itu sendiri.

Ketika seseorang bergerak di sekitar India Utara, Pakistan, dan Bangladesh, seseorang menemukan variasi teknik yang cukup besar. Orang menemukan penggunaan tangan, tongkat, dan berbagai kombinasi keduanya. Gaya yang paling terkenal adalah gaya bhangra yang menggunakan tongkat di kedua sisinya.

Ada juga variasi apakah sisi bernada rendah harus dimainkan di sisi kiri atau kanan. Di sebagian besar Asia Selatan, lebih umum memainkan sisi bernada rendah dengan tangan kiri.

Di provinsi Bengkulu umumnya, sama dengan daerah Punjab di India. Dhol  memainkan peran yang sangat penting dalam budaya lokal. Itu telah muncul sebagai instrumen yang digunakan Punjabi sebagai simbol identitas etnis. Keterikatan yang kuat ini terutama terlihat di antara komunitas ekspatriat Punjabi yang tersebar di seluruh dunia.

Di Punjabi, dhol juga dikenal sebagai “bhangra dhol”; Ini karena pentingnya gaya tarian atau lagu rakyat yang dikenal sebagai bhangra. Tentunya dengan irama khas, dan inipun ada kesamaan dengan dhol Bengkulu, tapi tidak dengan iramanya.

Seperti di bagian lain India, terdapat berbagai pengaturan pengetatan. Ada lacings kulit mentah, tali, dan, sistem putar balik sekrup. Salah satu inovasi Punjabi yang menarik adalah hibrida di mana orang menemukan turnbuckle (sekrup) di satu sisi dan tali di sisi lain.

Kayu yang umumnya ditemukan pada dhol Punjabi adalah mangga (aam) atau shisham. Di Punjab, shisham dikenal sebagai “taahlli”. Namun karena dhol portabel yang ringan lebih penting bagi Punjabi, shisham yang berat adalah suatu kerugian.

Di Bangladesh, dhol juga ditemukan dan disebut Kanthi dhol. Terkadang diucapkan kathi dhol atau “bangla dhol”, adalah drum yang biasa digunakan  dan ditemukan di Bangladesh, Benggala Barat dan sebagian India Timur Laut. Kata “kanthi”, terkait dengan istilah “kath” atau “kashth”, yang berarti “kayu”.

Istilah ini mengacu pada tongkat drum kayu (Kanthi) yang digunakan untuk memainkan drum. Ini untuk membedakannya dari gendang tangan, atau gendang tabok. Dhol di sini hampir serupa fungsinya sebagai musik  bagi tarian rakyat Bengali.

Di Bengal, orang yang memainkan dhol disebut “dhuli”. Mereka membiarkan rambut mereka tumbuh sangat panjang. Rambut panjang ini digunakan untuk mendapatkan efek artistik yang hebat dengan mengibaskannya dari sisi ke sisi saat memainkan dhol.

Soal mengantungan dhol dileher, di Provinsi Bengkulu kini sudah mulai dilakukan dalam tariannya, meskipun gerakannya  tak begitu lincah, mengingat beratnya bahan pembuatan dhol dari pokok atau akar pohon kelapa tua.

Pada wilayah Gujarat, dhol juga memiliki keberadaan yang signifikan di negara bagian Gujarat di Barat Laut. India Selatan juga  ada  dhol. Instrumennya Tavil,  yang biasa disebut dhol versi India Selatan.

Di Pakistan  juga ada dhol,  dholis yang  sering digunakan oleh para sufi dan biasanya ditemukan pada pertunjukan qawwali di Dargas (Tempat pemakaman bagi orang-orang suci Muslim) dan tempat ziarah lainnya.

Sebelum nantinya kita dapat mempredikisi kedatang masyarakat  India ke Bengkulu dengan membawa seni  Tabut dengan alat musiknya Dhol dan tasyanya, maka dapat kita paparkan, dhol adalah instrumen yang berasal dari akhir abad ke-16 dan Kekaisaran Mogul.

Dhol adalah evolusi dari instrumen yang disebut “Nagarah”, yang merupakan drum satu sisi yang dibuat dengan cangkang kayu dan kulit kambing yang direntangkan dengan tali. Nagarah akan digunakan untuk mengumpulkan massa untuk pengumuman.

Dhol banyak  di gunakan  pada seluruh anak benua India. Jangkauan distribusinya di India, Bangladesh dan Pakistan, terutama mencakup wilayah utara seperti Punjab, Haryana, Delhi, Kashmir, Sindh, Lembah Assam, Gujarat, Maharashtra, Konkan, Goa, Karnataka, Rajasthan dan Uttar Pradesh sebelum masuk ke Indonesia, khususnya  kota Bengkulu.

Jangkauannya membentang ke barat hingga Afghanistan Timur. Hanya saja bentuk dan bahan pembuatan dhol itu ada perbedaan. Untuk seseorang yang memainkan dhol dikenal sebagai dholi.

Bahasa Dholi ini tampaknya tak  terserap di bengkulu, mereka biasanya hanya menyebut “tukang penokok dhol” saja.  Beberapa irama dhol Punjabi yang paling umum adalah bhangra (Berasal dari tarian komunitas bhangra kuno), dhamaal (Terkait dengan banyak fungsi budaya, termasuk pemujaan di kuil Sufi) dan kaharva.

Di beberapa catatan lain disebutkan, instrumen perkusi seperti dhol dulu ada selama Peradaban Lembah Indus. Dhol digambarkan dalam seni pahatan India kuno paling awal sebagai salah satu instrumen perkusi utama untuk musik India kuno bersama dengan tabla. Ain-i-Akbari seorang penulis  menjelaskan, penggunaan Dhol dalam orkestra kaisar Mughal Akbar Agung.

Kata Indo-Arya “dhol” muncul di cetakan sekitar tahun 1800 dalam risalah Sangitasara.  Di Assam, India, dhol banyak digunakan di Rongali Bihu (Bohag Bihu), perayaan tahun baru Assam di bulan April. Dirayakan pada pertengahan April setiap tahun (Tanggal 14 atau 13 April menurut kalender tradisional Assam).

Dhol adalah instrumen penting dan klasik yang digunakan dalam tarian Bihu. Asal usul Dhol di Assam berasal dari setidaknya abad ke-14, di mana dhol  disebut dalam bahasa Assam Buranji, sebagai mainan penduduk asli.

Di Bengkulu, dhol ataupun tasyah juga memiliki ritme tersendiri. Ada tiga  jenis pukulan saat memainkan perkusi ini. Pukulan Suwari. Pikulan Tamatam,  pukulan Suwena atau meradai.

Asal mula dhol di Assam jauh lebih tua daripada daerah lain di India dan nama itu mungkin karena sanskritis. Orang-orang Lembah menganggap bahwa ketukan dhol memikat orang, bahkan dari jarak jauh sekalipun. Dimainkan dengan menggunakan tongkat bambu dengan tangan kosong, dhol Assam terbuat dari tong kayu dengan ujung ditutupi terutama dengan kulit hewan, yang bisa juga diregangkan atau dilonggarkan dengan mengencangkan tali yang terjalin.

Pemain dhol disebut sebagai Dhulia dan ahli dhol disebut sebagai Ojah.Dhol juga memiliki aspek simbolisme dalam budaya Assam, dan orang menganggapnya sebagai “devo badyo atau alat dewa yang diyakini dibawa ke Bumi oleh Pandawa.

Ditulis dan disarikan oleh Benny Hakim Benardie/ Dewan Pakar JMSI Provinsi Bengkulu dan Alumni Universitas Islam Djakarta.  Sumber: metmuseum.org, chandrakantha.com, rajdaffu.com, wekipedia.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.